
Persahabatan dan kesetiakawanan anak lelaki memang patut di acungi jempol ketimbang anak perempuan kebanyakan. Pasalnya, baik Gara, Denim, Juna maupun Yurdha tidak ada yang mengaku siapa yang memiliki ide membeli minuman haram itu. Namun semuanya mengakui bahwa mereka menghabiskan tiga botol minuman haram itu bersama-sama. Dan masalah obat tidur yang dicampurkan pada minuman Zia dan Nesya semalam, semuanya pun mengaku bahwa itu ide mereka berempat juga termasuk Gara.
Zia lalu menatap sengit kekasihnya yang ternyata lebih setia kawan ketimbang jujur dengan dirinya. Keempat lelaki itu pun menunduk antara ngeri dengan omelan Zia dan mengantuk. Ah suara Zia dan Nesya benar-benar membangunkan tidur indah mereka yang baru terukir kurang dari dua jam.
“Kenapa kamu membiarkan pacar kamu dikasih obat tidur?” Tanya Zia pada Gara.
“Aku mengizinkan Denim buat kasih obat tidur ke kamu biar kamu istirahat beneran sayang, biar kamu cepet sehat.” Bela Gara dengan tatapan sendu pada Zia.
Zia yakin itu pasti alasan Gara yang kesekian kalinya karena alasan utama Gara adalah ingin bebas semalaman besama para sahabatnya.
Dan tanpa Gara berkata bahwa Denim yang mengeksekusi obat tidur itu, semuanya pun tahu bahwa Denim lah pelakunya sebab semalam Denim mengambilkan lemon tea untuk teman-temannya sebelum istirahat di kamar masing-masing. Dan Denim pula lah yang membagikan gelas pada sahabat-sahabatnya.
“Alasan! Bodoh amat! Gue kesel sama kalian semua!” Ujar Zia.
“Sayang…” Rengek Gara.
"Gak usah sayang sayang!"
“Yah,,, jangan kesel dong Zi… “ Juna menatap Zia mengiba sebab jika Zia kesal, Zia pasti akan menghubungi kekasih Juna maupun Denim untuk membongkar betapa buayanya mereka. Karena Zia dan Nesya selalu memiliki list daftar gebetan dua manusia minim akhlak itu.
“Iya Zi jangan ngambek dong, maafin kita.. semalam kita khilaf!” Sambung Denim memohon pada Zia.
“Nggak! Nggak ada!”
“Astaga Zi, Tuhan aja Maha Pemaaf, masak kamu enggak?” Tanya Juna.
“Jangan bawa-bawa Tuhan jika semalam kalian minum minuman dedemit itu gak ingat sama Tuhan!” Tegas Zia.
“Kita hubungi si Putri, Mika, Agnes dan Novita aja yuk Zi..” Ajak Nesya semakin membuat Juna dan Denim panik sebab mereka adalah pacar Juna dan Denim saat ini. Kedua lelaki minim akhlak itu memberikan tatapan tajam pada Nesya.
“Hayuk lah,, kan mereka sudah berjanji untuk tidak minum minuman dedemit itu saat liburan bareng kita, tapi mereka sudah melanggar janji mereka sendiri dan sesuai dengan konsekuensi yang mereka katakan sendiri waktu itu dong.” Jawab Zia.
“Shazia sayang.. Nesya yang baik hati, jangan dong.. masak kalian tega sih sama dua sahabat kalian yang akan galau karena putus cinta?” kini giliran Gara bersuara membela Denim dan Juna.
“Kamu diam apa aku akan menghubungi manager kamu?” Ancam Zia dengan tatapan tajam pada Gara dan Gara langsung diam seketika sebab seorang Shazia, tidak pernah main main dengan ucapannya.
Semua memang takut dengan kemarahan Zia. Zia memang berbeda dengan Nesya, sebab di awal persahabatan itu hanya Zia yang cewek sendiri.
Dan saat kelas tiga SMA melihat Nesya di bully karena dari kalangan biasa yang masuk SMA tersebut karena beasiswa. Zia tidak tega pada Nesya yang tidak punya teman jadi Zia mengajak Nesya untuk berkumpul dengan para sahabatnya hingga saat ini.
“Kalian gak ada niat buat ancam gue?” Suara Yurdha terdengar sangat santai tapi mampu menghentikan perdebatan para sahabat itu.
“Eh iya ya.. aib elu apa ya Yur yang bisa kita gunakan untuk mengancam?” Gumam Nesya karena memang Yurdha tidak memiliki catatan hitam yang berarti dan tidak pernah takut dengan siapapun. Yurdha adalah tipe lelaki tegas dan berwibawa terlebih kekayaan keluarganya yang sangat melimpah. Itulah yang membuat Nesya selalu tidak berani untuk bermimpi bersanding dengan Yurdha nantinya karena Nesya sendiri diantara sahabat-sahabatnya yang dari orang biasa.
__ADS_1
Bermimpi aja gak berani, apalagi membayangkan menjadi kenyataan jadi pasangan Yurdha.
“Kalau orang tua elu tahu elu mabuk, mereka juga akan biasa saja ya…” Kata Zia nampak berpikir mengingat Papa Yurdha benar-benar membebaskan Yurdha asalkan kuliah dan kerjaan Yurdha berjalan mulus. Mama tiri Yurdha, mana peduli wanita itu...
Yurdha tersenyum simpul dan merasa menang.
“Gue tahu apa yang bisa membuat Yurdha tertekan..” Ucap Juna dengan senyum liciknya.
“Apa?” Tanya Zia, Nesya, Gara dan Denim secara bersamaan karena mereka teramat penasaran.
“Gue tahu nama gadis yang selama ini mengisi relung hati seorang Yurdha Ardhana hingga membuat Yurdha enggan dekat dengan gadis manapun karena gak mampu move on.” Ucap Juna sambil melirik Yurdha.
Mendengar ucapan Juna, Yurdha pun menatap Juna dengan tajam layaknya anak panah yang siap melesat dan tepat sasaran. Namun Juna tidak peduli.
“Sialan, gue berusaha mengalihkan fokus Zia dan Nesya agar tidak menghubungi pacar-pacar Juna, malah Juna mau jatuhin gue.. awas aja elu jun.” Batin Yurdha.
“Siapa Jun?” Tanya Denim Kepo.
“Gila, gue kira elu selama ini suka sama sejenis.” Ucap Zia yang langsung tertawa mengingat bahwa Yurdha tidak pernah dekat dengan gadis manapun kecuali dirinya dan Nesya.
Rasa kesal Zia langsung menghilang karena berita bahagia yang Juna katakan. Sebab selama ini Zia khawatir, Yurdha yang ditinggalkan pergi mama kandungnya begitu saja saat masih kecil dan tumbuh besar penuh tekanan dari Mama tirinya membuat Yurdha belok. Untung deh Yurdha nggak belok.
“Sialan elu Zi!” Umpat Yurdha pada Zia.
"Sudah - sudah, gue bahagia denger Yurdha suka cewek dan gak belok." Kata Zia.
“Kalau Yurdha suka sama sejenis, gue auto melipir duluan deh yangg.. gue yang paling cakep, takutnya gue jadi sasaran.” Sambung Gara yang memang tahu bahwa Yurdha mencintai seseorang dalam diam namun Gara tidak tahu siapa orangnya sebab Yurdha merahasiakan hal itu dengan sangat rapat. Dan Juna tahu hal itu pun juga tanpa sengaja saat masih SMA.
"Dih Narsis!"
"Anjay kepedean bener si Gara!"
"Najis Ga!"
“Udah diam semuanya! Jun cepat kasih tau!” Perintah Zia.
"Iya cepetan Arjuna mencari cinta!" Protes Denim melihat Juna dan Yurdha sambil melempar tatapan meledek dan tatapan tajam.
“Iya, siapa Jun?” Tanya Nesya dengan hati yang waswas.
“Berani elu ember, gue sebarkan rekaman CCTV apartemen gue saat elu ML sama Aulia di sana!” Yurdha mengancam balik dengan penuh penekanan dan sungguh-sungguh.
“Astaga! Diam-diam Yurdha menyimpan video syur Juna sama Aulia.” Denim langsung heboh.
__ADS_1
“Gila.. gue jadi penasaran.” Sambung Gara.
“Berani lihat tubuh wanita lain, aku colok mata kamu yangg!” Ancam Zia membuat Gara terdiam seketika.
“Bagaimana Arjuna? Berani?” Tanya Yurdha dengan senyum licik.
“ Ah sial, gue lupa.. dia juga pegang kartu AS gue. Gak jadi deh Yur, gak jadi.. ampun!” Kata Juna mendesah kesal.
Juna dulu pernah membawa kekasihnya yang bernama Aulia ke apartemen Yurdha saat Yurdha pergi ke LA bersama keluarganya. Juna memilih apartemen Yurdha karena di apartemen Juna sendiri ada kekasih Juna yang lainnya. Dan tanpa berpikir panjang, Juna bermain gila di sofa ruang tamu apartemen Yurdha karena Juna sudah tidak sabar dan lupa jika apartemen itu dilengkapi dengan CCTV lengkap kecuali bagian kamar. Sepulang dari LA, Yurdha langsung membuang sofa apartemennya itu karena merasa jijik sendiri.
“Santai Jun, ada undang-undang ITE, Yurdha akan kena itu kalau menyebarluaskan. Ayo katakan Jun, siapa gadis itu.” Ucap Nesya yang mencoba biasa saja padahal hatinya sudah sangat cemas.
“Elu lupa siapa Yurdha Nes?” Tanya Gara dengan santainya karena kekuasaan keluarga Yurdha yang sangat besar sehingga mampu membungkam apa saja.
“Eh iya ya.” Ucap Nesya lirih sekaligus kecewa. Nesya gagal mencari tahu wanita tipe Yurdha padahal sudah bertahun tahun bersahabat dengan Yurdha.
“Ya sudah kalau kalian gak mau kasih tau, gue jadi ngambek beneran sama kalian semua loh.” Ucap Zia tegas.
"Dih, ngambek ngomong ngomong..." Nyinyir Juna.
“Iya,, gue juga sama!” Nesya ikut ikutan.
“Yuk Nes, kita jalan berdua saja! Tinggalkan para lelaki menyebalkan ini.” Ajak Zia.
...**...
Pagi ini berjalan tidak sesuai dengan rencana karena semalam Juna membeli minuman haram yang diantarkan oleh kurir saat Nesya dan Zia baru memasuki kamar. Minuman sudah ada di depan mata dengan berbagai cemilan, jelas tidak ada satu pun yang menolak dari keempat sahabat itu. Bahkan Yurdha rela meninggalkan pekerjaannya demi menemani para sahabatnya minum.
Denim dengan otak cerdiknya sudah berusaha memanipulasi dengan meminum bir tanpa alkohol kemudian membuat botol minum haram itu sejauh jauhnya agar Zia dan Nesya mengira cuma minum bir tanpa alkohol dan mencuci mulut sebelum tidur. Tapi karena semalaman mereka terlalu asyik, mereka lupa akan rencana mereka setelah menghabiskan minuman haram itu.
Namun Gara tidak ingin mengambil pusing. Dengan adanya insiden ini, Gara mencoba mengambil hikmahnya karena Zia keluar dengan Nesya saja. Jadi ada Juna dan Denim yang akan membantunya mendekor Villa agar sebelum Zia kembali, semuanya sudah beres.
“Zia dan Nesya sedang di pantai tidak jauh dari sini.” Kata Yurdha setelah mendapatkan kabar dari Nesya.
“Bagus deh…” Kata Juna.
“Yur, bagaimana kalau kita buat Zia dan Nesya jalan ke kota saja. Pastikan Nesya membuat Zia pulang menjelang malam saja. Biar kita bisa tenang. Kan kemarin Zia pengen jalan-jalan ke kota.” Ucap Gara mencari sebuah ide.
“Ide bagus.. kita tinggal pikirkan bagaimana caranya untuk membawa Zia ke kota.” Jawab Yurdha.
“Bagaimana kalau elu nyuruh istri si penjaga Villa atau siapa buat ajak mereka ke kota untuk shopping sebagai permintaan maaf kita karena mabuk. Gue yakin Zia akan ngacir setelah denger shopping sepuasnya.” Usul Denim dan langsung di setujui semuanya.
To be continued...
__ADS_1