
Segara Byantara, lelaki 22 tahun yang saat ini masih berstatus sebagai mahasiswa fakultas Ekonomi Bisnis di Universitas Harapan Bangsa itu tidak langsung pulang ke rumah melainkan langsung ke rumah tetangganya. Rumah mewah yang berada tepat di samping rumah mewah kedua orang tuanya.
Artis pendatang baru yang namanya langsung melejit dan banyak di kagumi kaum hawa karena ketampanannya itu pun memasuki rumah tetangganya seperti rumahnya sendiri.
“Malam Tante…” Sapa Gara pada nyonya pemilik rumah tersebut.
“Eh Gara, bukannya kamu ada acara ya… kok jam segini udah disini aja?” Tanya wanita paruh baya yang sedang menonton sinetron itu dengan ramah.
“Hehehe.. iya tante… acaranya udah selesai kok tante, aku mau ketemu Zia.” Jawab Gara sambil nyengir kuda.
“Zia ada di taman belakang noh… sepertinya dia sedang galau karena kekasihnya yang tampan itu mengaku jomblo dan banyak digilai wanita.” Ucap wanita bernama Sekar sambil terkekeh karena beberapa menit lalu melihat cuplikan video Gara beberapa jam lalu sudah tersebar di sosial media.
“Maaf tante bukan maksud aku…”
“Tante mengerti Gara..” potong tante Sekar. Gara merasa tidak enak dengan ibu dari kekasih hatinya itu karena tidak mengakui Zia di depan publik.
“Tante sama Om, juga Mama dan papa kamu sudah sepakat untuk tidak ikut campur hubungan kalian meksipun kami para orang tua berharap kalian segera menikah. Kalian sudah dewasa dan sudah bisa memilah milah mana yang baik dan enggak untuk hubungan kalian juga masa depan kalian. Toh sebelumnya Zia sudah setuju untuk menyembunyikan status kalian demi karier kamu kan?” Gara pun mengangguk dengan rasa bersalah yang sangat besar.
“Iya, tante benar. Zia sudah banyak mendukung aku selama ini.” Jawab Gara.
“Tante hanya ingin mengingatkan kamu satu hal Gara, bukan maksud tante ikut campur ya… tante hanya ingin melihat kalian terus bersama, saling mendukung, melengkapi dan membahagiakan.” Gara mengangguk mengerti.
“Semandiri-mandirinya wanita… sekuat kuatnya wanita dan secuek-cueknya wanita, dia memiliki rasa cemburu yang sangat besar meskipun bibirnya terus berucap tidak masalah atau tidak apa-apa. Jadi, jika selama status kalian masih disembunyikan dari awak media.. tante berharap kamu bisa mengimbanginya dengan terus meyakinkan Zia kalau kamu memang sungguh-sungguh sama anak bontot tante itu, jangan buat Zia ragu sedikit pun sama kamu yang nantinya akan membuat Zia berpikir macam-macam tentang perasaan kamu padanya yang sebenarnya.” Nasihat Tante Sekar membuat Gara tersenyum.
“Terima kasih tante, dan itulah tujuan aku langsung kesini. Aku ingin terus membuat Zia percaya akan seberapa besar cinta aku buat dia dan seberapa berartinya dia untuk aku.” Kata Gara dengan kesungguhan.
“Dasar kalian, anak muda yang bucin akut! Udah sana buruan temui pacar kamu. Nanti kalau dia semakin ngambek, berabe!” Gara pun dengan cepat langsung menuju ke taman belakang dimana ada sebuah kolom renang cukup besar disana. Sedangkan Tante Sekar tersenyum menatap punggung calon menantunya itu yang semakin menjauh.
__ADS_1
Senyum Gara mengembang melihat seorang gadis tengah duduk di pinggir kolam renang dengan kaki yang sedang bermain air kolam. Gadis itu menatap langit yang nampak cerah karena sinar dari bulan dan dihiasi ribuan bintang-bintang nan indah. Gadis cantik yang kini menempuh kuliah jurusan kedokteran itu pun bersenandung dengan lirih sambil menikmati kesendiriannya.
Setelah cukup puas mendengar sang pujaan hati menyanyikan lagu Ruang Sendiri dari Tulus dengan suara merdunya, Gara pun berjalan mendekat ke arah Zia dengan perlahan agar gadis cantik 22 tahun itu tidak mengetahui kedatangan dirinya. Dan…
“BA!”
Gara mengejutkan Zia dari belakang membuat gadis cantik itu terperanjat dan hampir tercebur ke kolam renang jika Gara tidak memegangi kedua pundak Zia.
“Astaga… Garaaaaa!! Ih ngeselin!” Teriak Zia sambil mengusap dadanya untuk mengurangi rasa keterkejutannya akibat ulah sang kekasih. Gara hanya tertawa melihat wajah cantik Zia kini sudah merenggut kesal.
“Kamu kenapa sih tiba-tiba datang dan ngagetin aku Gara Segara?” Tanya Zia masih dengan wajah kesalnya. Gara pun ikut duduk di samping ke kasihnya itu dan memasukkan kedua kakinya ke dalam air kolam yang dingin kemudian menatap wajah cantik Zia yang semakin mempesona karena pantulan dari sinar bulan.
“Maafkan aku Zi.” Satu kalimat yang keluar dari mulut Gara penuh dengan rasa bersalah dan Zia tahu akan hal itu terlebih Gara sudah menatapnya dengan sendu disertai dengan helaan nafas berat. Zia paham maaf Gara bukan karena mengagetkannya, namun Zia memilih pura-pura tidak paham.
Zia pun tersenyum kemudian bertanya pada Gara,
“Maafkan aku yang belum bisa berkata jujur pada publik mengenai hubungan kita.” Gara meraih tangan Zia untuk di genggam. Benarkan feeling Zia.
“Kenapa masih membahas hal itu lagi sih Segara sayang, aku gak masalah. Aku mengerti posisi kamu kok. Aku bangga sama kamu, aku bahagia melihat kesuksesan film kamu.” Masih dengan senyum yang meneduhkan, Zia membalas genggaman tangan Gara dan mengusap punggung tangan Gara dengan lembut agar kekasihnya yang tampan itu tidak larut dengan rasa bersalah.
“Terima kasih sudah selalu mengerti dan mensupport segala keputusan aku sayang, aku bersyukur banget punya kamu yang bahkan rela mengesampingkan ego dan perasaan kamu demi karier aku, Maafkan aku, aku sayang dan cinta banget sama kamu Zi… sangat mencintai kamu.” Ujar Gara dengan sorot mata yang saling bertautan dengan Zia.
“Aku melakukan itu semua karena aku juga sangat mencintai kamu Gara.. Aku ingin segalanya yang terbaik buat kamu ” Zia kembali tersenyum, tapi Gara menangkap ada sesuatu yang mengganjal di hati kekasihnya itu.
“Maafkan aku udah buat kamu cemburu karena tranding di media sosial kebanyakan tentang aku dan Sabrina. Zi, percayalah, aku hanya mencintai kamu Zi,,, sesuai janji aku sebelumnya, di belakang kamera aku benar-benar menjaga jarak dengan para wanita termasuk Melly.” Jujur Gara membuat Ziaa tertawa.
Memang begitulah Gara, dia akan sangat peka dan care dengan orang-orang terdekatnya, namun sangat cuek dengan orang lain. Dan di depan kamera, Gara harus bersikap ramah dengan siapa saja terutama para fans nya, sebab yang menjadikan dirinya ada pada titik saat ini adalah mereka. Dan Zia sangat paham akan semua hal itu.
__ADS_1
“Heii tuan Segara… aku tuh gak akan cemburu sama lawan main kamu itu ya, karena aku tahu semuanya hanya acting! Dan aku percaya dengan cinta kamu. Aku gak mau berpikiran negatif karena aku takut pikiran itu justru akan membuat aku semakin curigaan sama kamu. Lagian aku gak mau jadi pacar posesif yang akan mengganggu kerjaan kamu.” Jelas Zia dengan mode jenakanya agar Gara tidak membahas soal ini lebih jauh lagi.
Karena jujur, sebenarnya Zia sangat cemburu dengan Sabrina. Apalagi saat membaca komentar-komentar netizen yang mendokan Gara dan Sabrina supaya menjadi pasangan di dunia nyata. Hati Zia terasa sangat nyeri. Namun Zia berusaha bersikap bijak dan tidak ingin reaktif, toh Gara selama memang menunjukkan sikap profesionalnya sebagai artis. Dan Segara Byantara-nya yang sekarang masih sama dengan Segara Byantara-nya yang dulu.
"Makasih sayang.. aku akan jaga kepercayaan yang telah kamu berikan padaku..." Zia mengangguk dan tersenyum. Sebuah senyum yang mampu menghangatkan relung hati Gara.
“Kamu kenapa tadi tidak datang di acara aku? padahal aku udah kasih kamu tiket VIP buat duduk di depan loh sayang.” Ucap Gara mengingat sesuatu.
“Kamu kasih aku tiket VIP, terus kalau ada yang tanya tentang hubungan aku sama kamu hingga aku sampai dapat tiket itu… aku bakal jawab apa?” Tanya Zia membuat Gara terdiam dengan raut wajah sedih karena Gara memang ingin Zia selalu hadir di acara pentingnya namun benar kata Zia, pasti akan ada yang curiga mengenai hubungan mereka.
“Kamu kan bisa jawab saudara sepupu aku atau apalah… biasanya kamu paling pinter cari alasan. Aku tuh pengen banget kamu datang di setiap momen penting dalam hidup aku Zi.” Kata Gara lirih dengan raut wajah sedih. Zia merasa bersalah.
"Sepupu?"
"Iya, bukannya selama ini banyak teman-teman kita mengira bahwa kita saudara sepupu, kenapa tidak kita gunakan itu saja?"
"Hmm.. bukan ide yang buruk."
"Oke, pokoknya next time kamu harus datang ke acara aku.. aku gak mau tau.. karena kehadiran kamu itu mood booster tersendiri buat aku. Jujur, aku kecewa banget kamu gak datang tadi yangg, aku terus kepikiran kamu tau gak." Ungkap Gara jujur.
“Segara sayang, maaf kan aku tadi gak bisa hadir. Karena tadi aku harus mengurusi skripsi aku, tadi nunggu dokter Ilham buat bimbingan lama banget.” Ujar Ziva berbohong karena nyatanya tadi Ziva datang ke The Amarilis Mall untuk melihat titik awal kesuksesan Gara.
Ziva hanya melihat Gara dari lantai dua Mall, jarak yang cukup jauh. Namun Ziva tersenyum bangga akan pencapaian kekasihnya itu dan Ziva memang tidak ingin mendekat takut perasaannya cemburu akan terpupuk dan menjadikan dirinya kekasih yang egois.
“Semoga skripsi kamu lancar ya calon bu dokter kesayangan aku!” Kata Gara mengusap kepala Ziva dengan lembut.
“Sayang, lalu bagaimana dengan skripsi kamu? Kapan kamu mulai mengajukan judulnya?” Tanya Ziva membuat Gara terdiam seketika.
__ADS_1
TO BE CONTINUED