NOV

NOV
Eps 7 ~ Villa Pinggir Pantai


__ADS_3

Villa yang diberi nama Ocean View itu di kelilingi pagar cukup tinggi di tepi pantai itu tidak terlalu besar, namun Villa itu memiliki fasilitas yang cukup lengkap dan pemandangan hamparan laut lepas yang menyejukkan mata menjadi pilihan Yurdha untuk menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya di akhir pekan ini.


Saat baru pertama sampai di pintu gerbang Villa, Juna dan Nesya sudah protes karena pagar tingginya yang menutupi pemandangan.


Namun setelah masuk, mereka semua dibuat tercengang dengan bangunan Villa yang estetik dengan kaca-kaca lebar dan tata ruang yang membuat nyaman siapa saja yang akan menempati Villa tersebut. Terlebih sisi yang menghadap pantai tidak terhalang oleh pagar tinggi sehingga mereka bisa menikmati sunset nanti sore dengan deburan suara ombak.


“Yurdha, kok kita malah ke Gunung Kidul sih? Kan katanya ke Jogja?” Tanya Zia dengan nada cemberut karena semua di luar ekspektasi Zia, sebab Ziva ingin jalan-jalan keliling pusat kota Jogja-nya sambil naik becak dan makan bakpia patok juga sarapan pecel di pasar Beringharjo.


“Pacar elu noh yang pengen ke Pantai… dia yang bayarin kita semua nih, jadi kita menuruti apa maunya aja.” Jawab Yurdha sambil membuka pintu utama Villa.


Zia melirik Gara sekilas, kemudian tatapan mata mereka saling bertemu. Namun secepat kilat, Zia langsung membuang pandangannya dengan wajah yang merona. Dan tingkah Zia itu tidak lepas dari pengawasan para sahabatnya.


“Terus kita kapan ke kota Jogja-nya?” Tanya Zia yang ingin juga beli daster di Malioboro pesanan para asisten rumah tangganya.


“Nanti hari ketiga pagi, terus malamnya kita balik Jakarta.” Jawab Yurdha lagi.


Zia memang tidak tahu menahu soal liburan ini, dia diajakin dan oke saja. Setahu Zia, semua diurus oleh Gara dan Yurdha jadi Zia tidak ada pilihan lain selain ikut aja. Ingin protes sama Gara, tapi Zia sedang tidak ingin berbicara dengan kekasihnya itu.


“Ayo masuk semua!” Perintah Yurdha.


“Di Villa ini kamarnya ada 3, masing-masing memiliki kamar mandi dalam. Namun salah satu kamarnya hanya memiliki ranjang ukuran double bed, sedangkan yang lainnya Queen bed.” Kata Yurdha saat semuanya sudah berkumpul di ruang tengah dimana terdapat sebuah sofa panjang yang menghadap ke televisi dengan karpet tebal bulu yang begitu menggoda untuk dibuat rebahan.


“Lah kalau double bed bukannya ukurannya cuma 120 cm, terlalu sempit dong kalau buat tidur berdua.” Kata Nesya.


“Gak apa-apa sempit sih Nes kalau yang tidur disana elu sama Yurdha.. biar bisa sambil peluk-pelukan agar tidak jatuh.” Sambung Juna.


“Ngaco!” Sambung Nesya dengan wajah kesal. Semuanya sangat tahu jika Nesya menyimpan perasaan pada Yurdha. Namun Yurdha bukan cowok yang gampang membuka perasaannya pada orang lain.


“Kan kemarin pembagian kamarnya, Zia sama Nesya..Gue sama Yurdha sedangkan Juna sama Denim. Bagaimana kalau yang tidur di kamar double bed itu Zia sama Nesya karena tubuh mereka kan lebih kecil daripada para cowok?” Tanya Gara.

__ADS_1


“Nggak!”


“Nggak! Enak aja!” Jawab Nesya dan Zia bersamaan.


“Bener deh Zi, enak saja… enggak leluasa kitanya nanti pas tidur..”


“Kalau kalian gak leluasa terus bagaimana dengan kita? Masak cowok sama cowok tidur pelukan… duh jijay banget!” Ungkap Denim dengan wajah jijiknya hingga terjadilah perdebatan antara kubu cewek dan kubu cowok.


“Gara, masak elu tega sih Zia tidurnya gak nyaman karena sempit?” Tanya Nesya membuat Gara terdiam.


Jangan tanya siapa yang bakalan menang, tentunya kubu cewek lah meskipun mereka hanya berdua dan melawan keempat cowok.


Dan solusinya adalah Gara meminta Yurdha untuk menghubungi penjaga Villa agar mengirimkan satu buah kasur lipat untuk Gara tidur dibawah. Gara memilih mengalah dan mengakhiri perdebatan daripada Zia harus tidur sempit-sempitan dengan Nesya dengan tidak nyaman.


Dalam hatinya, Zia merasa tidak tega membayangkan Gara tidur di kasur lipat. Apalagi kalau malam pasti cukup dingin karena terjangan angin pantai. Namun jika Zia yang mengalah, Gara pasti tidak akan pernah mengizinkannya. Ah Gara selalu saja manis pada Zia membuat hati Zia auto meleyot.


“Oke, semua sudah selesai kan… sekarang kita bisa bersih-bersih dulu dan sebentar lagi makan siang akan datang.” Ucap Gara.


“Elu lagi berantem sama Zia, Ga?” Tanya Denim kemudian menyalakan korek demi rokok yang sudah nyangkut di bibirnya.


“Nggak! Gue sama Zia baik-baik aja.” Jawab Gara sambil membuka kaleng minum soda yang memang  sebelumnya sudah disiapkan penjaga Villa di dalam kulkas sesuai permintaan Yurdha.


“Terus?” Denim nampak sangat penasaran.


“Terus gimana?”


“Terus kenapa dari Jakarta sampai Jogja elu sama Zia kayak saling menghindar dan tidak ada pembicaraan antara kalian?”


“Lah emang kagak ada yang perlu di bicarakan kan?” Gara memasang tampang biasa saja menghadapi sahabatnya yang satu ini. Sahabat yang paling kepo dan tidak akan berhenti sebelum puas mendapatkan jawaban.

__ADS_1


“Gak percaya!” Ucap Denim mengingat wajah merah Zia kala dekat dengan Gara. Padahal biasanya juga Zia dan Gara bertindak seperti itu.


“Gue gak akan cerita sama kalian tentang kejadian pagi ini, bisa-bisa kalian membayangkan gunung Zia lagi… gak gue gak ikhlas!” Batin Gara menatap sengit dua manusia mesum yang tidak lain Juna dan Denim.


“Kalau dia belum mau cerita, jangan kita paksa. Mending bahas yang lainnya.” Sambung Juna membuka bungkus cemilan enak karena banyak mengandung msg.


“Apa?” Tanya Yurdha.


“Misal kita bahas tentang ke kenormalan Gara gimana?” Ucap Juna.


“Gila, elu pikir gue gak normal apa?” Sungut Gara dengan wajah kesal sebab tidak sekali dua kali sahabatnya meledak dirinya bukan lelaki normal.


“Maybe.. kan gue gak pernah denger elu ciuman sama Zia.. secara elu punya pacar cantik dan body goals begitu, masak elu gak tertarik buat DP dikit dikit sih Ga?” Ucap Juna lagi.


Denim dan Juna memang yang paling bandel soal wanita diantara yang lainnya sebab gaya pacaran mereka sangatlah bebas, jadi wajar jika dua manusia itu kalau berbicara pasti mengarah kesana.


“Gue normal. Gue juga sama seperti kalian… tapi gue menahan diri gue! Sekali lagi gue tegaskan, gue sayang dan cinta banget sama Zia, jadi gue gak akan merusak dia. Zia berbeda dengan pacar-pacar kalian Jun, Den.” Ungkap Gara.


Yurdha tersenyum tipis kemudian mengacungkan dua jempol pada Gara sebagai tanda setuju bahwa Zia bukan wanita murahan seperti pacar-pacar Juna dan Denim yang rela ditiduri hanya dengan status berpacaran.


“Gak percaya!” Kata Denim dan Juna bersamaan.


“Gue gak butuh kepercayaan kalian.” Kesal Gara membuat dua sahabatnya itu tertawa.


“Udah-udah… makan siangnya sudah datang.. kita makan dulu yoh!” Kata Yurdha melihat penjaga Villa datang bersama seorang wanita paruh baya memasuki pintu gerbang dengan membawa banyak barang ditangannya.


“Ga, panggil Zia dan Nesya deh.”


Gara pun mengangguk sebab Gara sebenarnya sangat merindukan Zia, namun karena insiden pagi tadi Gara tahu Zia sedang berusaha menghindari dirinya jadi Gara mencoba memberi ruang pada Zia yang malu sendiri.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2