
Begitu gorden dibuka, sebuah kalimat indah langsung terpampang jelas di depan Zia. Kalimat yang disusun dari luar Villa kemudian digantung menghadap ke Villa.
“SHAZIA, WILL YOU MERRY ME?”
“Ide konyol siapa ini?” Tanya Zia dengan polosnya membuat semua yang mendengarnya itu melongo.
“Kalian lagi ngeprank gue ya?” Tanya Zia lagi.
“Ha?”
“Ngeprank?” Gumam Gara, Yurdha, Juna dan Denim bersamaan dan saling pandang dengan penuh tanda tanya. Keempat lelaki itu masih berdiri di balik tembok yang tak terlihat oleh Zia.
“Jauh-jauh ke Jogja buat kasih kejutan dia, eh dia nganggep kita lagi ngeprank?” Gumam Juna sambil geleng-geleng kepala.
“Bener kan dugaan gue, itu bocah nggak ada menye-menyenya. Coba gadis lain di lamar begini.. pasti udah meleleh dan nangis karena menganggap pasangan mereka so sweet. Ini, dianggap konyol bray?” Sambung Denim berbisik.
“Emang limited edition.” Ucap Yurdha sambil tersenyum tipis. Kemudian Yurdha menyenggol Gara agar Gara keluar dari tempat persembunyian mereka.
“Serius, ide konyol siapa ini? Gak lucu juga tau ngeprank orang kayak gini.” Ujar Zia dengan memasang wajah datar.
“Kok Ngeprank sih Zi?” Tanya Nesya.
“Gak lucu bercanda kalian! Keluar coba kalian semua.” Teriak Zia.
Sejujurnya, Zia sangat terkejut dengan kalimat yang terpampang jelas di depannya itu. Kalimat yang di rangkai dengan menggunakan balon berwarna gold serta di hiasi dengan kertas kertas berbentuk love di sekitarnya. Namun sebisa mungkin Zia tetap mengontrol dirinya agar tidak langsung baper dengan semua yang ada di hadapannya saat ini.
Pasalnya, Gara yang merupakan sahabat sekaligus kekasih Zia itu, sama sekali tidak pernah membahas perihal pernikahan. Gara justru selalu berkata bahwa dia ingin menikah setelah menyelesaikan pendidikan S2-nya dan berhasil menjadi artis papan atas. Jadi, bagi Zia.. tidak mungkin kan Gara tiba-tiba melamar dirinya?
Dalam benak Zia saat ini, justru hal tersebut merupakan cara yang digunakan Gara, Yurdha, Denim dan Juna agar Zia tidak marah lagi gara-gara semalam kekasih dan para sahabatnya itu mabuk.
__ADS_1
“Siapa yang lagi ngeprank kamu Zi?” Suara Gara tiba-tiba muncul dari belakang Zia. Hal itu sontak membuat Zia langsung menengok ke belakang mencari sumber suara berasal.
Zia auto membeku ditempat melihat Gara yang nampak gagah dengan kemeja navy yang slim fit dan celana bahan ditambah dengan sepatu memberikan kesan formal. Belum lagi, rambut Gara yang malam ini ditata sangat rapi juga brewok tipis-tipisnya yang begitu mempesona.
Entah karena pencahayaan lampu yang bagus di Villa saat ini atau karena penampilan Gara yang sangat rapi membuat Gara sangat sangat dan sangatlah tampan di mata Zia. Ya, Zia akui Gara memang memiliki ketampanan diatas rata-rata. Namun, malam ini Zia melihat aura yang berbeda dari seorang Segara Byantara.
“Gara…” Gumam Zia pelan yang tidak melepaskan sedikitpun tatapannya dari wajah tampan sang kekasih.
Tanpa menjawab panggilan dari kekasihnya, Gara langsung berjongkok dan mengeluarkan sebuah cincin yang berada di kotak berudu berwarna merah yang sebelumnya Gara sembunyikan di balik punggungnya. Gara tidak membawa bunga, sebab Gara sangat tahu bahwa kekasihnya itu tipe wanita yang tidak terlalu menyukai bunga.
“Ga…”
“Shazia Abila Athalla, malam ini… aku, Segara Byantara dengan segala rasa cinta dan sayang aku untuk kamu.. aku ingin kamu mau menjadi istri aku, menemani sepanjang hidup aku dan nantinya menjadi ibu dari anak-anak aku. Aku sangat mencintai kamu Zia, sangat….” Ucap Gara dengan segala kesungguhan. Jangan salah, Gara sebenarnya juga cukup gugup melamar Zia. Padahal hanya di dengar oleh sahabat-sahabatnya saja, bagaimana nanti kalau di depan penghulu?
Zia tertegun sejenak, namun Zia mencoba mengembalikan jiwanya untuk kembali menginjak bumi, tidak terbang terlalu tinggi karena takutnya semua tidak sesuai dengan ekspetasinya.
“Gara.. gak lucu deh ya prank kamu kali ini. Aku gak suka cara kamu dan yang lainnya minta maaf Ga…” Ucap Zia dengan sangat gugup. Bagaimana pun Zia adalah wanita normal, mendadak di lamar sang kekasih hati tentu Zia menjadi salah tingkah apalagi ini adalah pengalaman pertama dalam hidup Zia.
“Iya. Kamu dan sahabat-sahabat laknat kita itu pasti sedang berusaha membuat aku senang dan gak marah lagi kan karena pagi tadi kalian ketahuan habis mabuk semalam?” Tanya Zia.
Wajar Zia memiliki pemikiran seperti itu. Karena, sebelumnya keempat sekawan itu pernah membuat baliho besar di sepanjang jalan dari kampus menuju rumah Zia yang berisi permintaan maaf dan meminta Zia agar tidak marah lagi setelah mereka ketahuan mabuk di sebuah klub malam. Bahkan mereka menampilkan wajah cantik Zia disepanjang jalan. Benar-benar sahabat laknat kan?
Gara tersenyum. Senyum yang sungguh mempesona dan mampu membuat hati para gadis meleleh seketika.
“Zia sayang.. aku gak sedang ngeprank kamu. Aku serius.. Aku mencintai kamu dan hari ini adalah hari anniversary kita yang ke-tiga. Makanya aku ajak anak-anak kesini buat bantuin aku untuk melamar kamu. Melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius lagi.” Jawab Gara dengan tenang.
Zia mencoba mencari kebohongan dari sorot mata Gara yang sangat meneduhkan itu, namun Zia sama sekali tidak menemukan kebohongan itu sedikit pun. Sebentar.. sebentar.. anniversary ke tiga? Zia mencoba mengingat hari ini tanggal berapa.
Oh astaga, Zia benar-benar kelupaan dengan tanggal jadiannya dengan Gara karena beberapa bulan ini disibukkan oleh tugas kampus juga skripsi.
__ADS_1
“Pasti kamu lupa sama hari spesial kita kan?” Tanya Gara dan dijawab dengan anggukan lemah oleh Zia karena Zia merasa bersalah. Biasanya, dimana-mana itu pihak cewek yang selalu mengingat tanggal tanggal penting hubungan mereka dan lebih cenderung ke pihak cowok yang lupa. Namun, Gara dan Zia justru kebalikannya.
“Ma.. maaf..” Cicit Zia.
“Gak masalah.. jadi kamu mau menerima lamaran aku gak? Aku udah capek ini jongkok?” Tanya Gara membuat Zia langsung tertawa.
Eh. Juna, Yurdha, Denim dan Nesya langsung menepuk jidat mereka sendiri. Bagaimana bisa Gara berkata capek jongkok di saat wajah Zia sudah mulai terharu karena suasana romantis yang tercipta itu. Namun mereka semua tidak heran sih dengan apa yang terjadi karena Zia dan Gara memiliki romantis versi mereka sendiri.
“Zi, mau nggak jadi calon istri aku?” Tanya Gara lagi.
“Emang bisa aku menolak? Enggak kan. Kan aku cinta sama kamu Ga, jadi aku mau menjadi calon istri kamu yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anak kamu.” Jawab Zia dengan tersenyum malu.
“Yess! Gue diterima gaess!” Jawab Gara dengan semangat dan langsung berdiri dan meloncat seperti orang yang sudah berhasil menangkan lomba cerdas cermat tingkat Internasional. Yurdha, Juna, Denim dan Nesya pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan kedua sahabatnya itu saat ini.
“Makasih udah terima aku Zi, aku mencintai kamu.” Ucap Gara yang langsung memeluk Zia dengan erat. Zia pun langsung membalas pelukan Gara dengan tidak kalah erat.
Meskipun Gara tahu bahwa kemungkinan sangat besar Zia akan menerima lamarannya, tapi ketika kalimat persetujuan itu keluar langsung dari bibir Zia, hati Gara merasa sangat bahagia bahkan melayang tinggi. Begitu pula Zia, calon dokter muda itu merasa bahwa hatinya saat ini sedang dipenuhi oleh bunga-bunga yang bermekaran meskipun Zia tidak dapat mengekspresikannya karena melihat kemunculan para sahabatnya.
“Woii, udah dong pelukannya,, buruan di pasang tuh cincinnya di jari manis Zia.” Ucap Nesya membuat Zia langsung melepaskan pelukannya pada Gara. Dengan sangat terpaksa, Gara pun melepaskan rengkuhannya itu.
Dengan tatapan yang saling mendamba dan penuh cinta, Gara pun memasangkan cincin berlian dengan model sederhana namun terlihat elegan pada jari manis Zia membuat mata Zia berkaca-kaca karena bahagia. Cincin yang Gara pilih sungguh begitu indah di mata Zia karena sesuai dengan karakter Zia yang simpel dan anti ribet.
“Makasih Segara-ku..” Ucap Zia pelan. Gara pun mengangguk kemudian mengecup kening Zia selama beberapa detik sembari mendalami perasaan masing-masing. Zia benar-benar bahagia hari ini, begitu juga dengan Gara.
“Masak cium kening doang? Cium bibir dong Ga!” Teriak Juna dari tempatnya berdiri yang tidak jauh dari Zia dan Gara.
“Ah gak asik. Udah berani melamar tapi belum berani cium bibir?” Sambung Denim berusaha menjadi kompor.
“Ciuman! Ciuman.. ciuman…” Teriak sahabat Gara dan Zia dengan kompak membuat dua sejoli itu langsung sama-sama merona karena malu.
__ADS_1
To be continued...