NOV

NOV
Eps 5 ~ Gunung Indah di Pagi Hari


__ADS_3

Mendengar kekasihnya masih asyik menikmati indahnya alam mimpi, Gara pun panik dan segera meminta tolong sama Mba Kiki untuk membangunkan Zia dan meminta Zia segera bersiap agar mereka tidak ketinggalan pesawat nantinya. Dengan cepat mbak Kiki menolak permintaan Gara karena dia sedang diminta Bik Sumi mengejar tukang sayur untuk membeli beberapa bumbu dapur yang habis.


Mbak Kiki justru meminta Gara untuk membangunkan Zia sendiri, sebab semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing ditambah dua asisten rumah tangga di rumah itu juga sedang cuti pulang kampung.


Toh, Gara sudah terbiasa keluar masuk kamar Zia kan? Dan selama ini orang tua mereka juga tidak masalah Gara maupun Zia keluar masuk kamar masing-masing. Begitulah pikir Mba Kiki.


Setelah menghela nafasnya dengan kasar, Gara pun segera menuju lantai dua dimana kamar Zia berada karena jika berdebat dengan Mbak Kiki justru akan membuang-buang waktu mengingat betapa ajaibnya kelakuan asisten rumah tangga Zia tersebut.


Beberapa kali Gara mencoba mengetuk pintu kamar Zia namun tidak ada jawaban. Dan tanpa ragu, Gara pun membuka pintu tersebut yang ternyata memang tidak di kunci. Gara bahagia karena tidak perlu membuang waktu untuk menggedor pintu kamar kekasihnya.


Bibir Gara melengkung melihat penampakan gadis cantik yang terlihat damai dalam tidurnya tersebut. Dengan langkah pasti, Gara pun mendekat ke arah ranjang berniat membangunkan Zia. Namun belum juga membangunkan sang kekasih, langkah Gara tiba-tiba terhenti.


“Astaga….” Ucap Gara yang langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah karena Gara tidak sengaja melihat bagian dada Zia yang tidak tertutup selimut. Zia tidur memang menggunakan baju tidur berlengan pendek tapi Gara tahu bahwa saat ini Zia sedang tidak mengenakan Bra sedangkan selimut yang Zia kenakan hanya menutupi bagian perut ke bawah.


Susah payah Gara mencoba menelan salivanya karena secara otomatis otaknya langsung bertamasya ria dengan jantung yang berdegup sangat kencang. Maklum, Gara adalah lelaki normal.


Gara segera menetralkan dirinya sebelum pikiran kotor menguasai logikanya. Dan tanpa menatap sesuatu yang belum menjadi hak –nya itu, Gara mencoba menarik selimut Zia dan menaikkannya hingga menutupi dua gunung indah yang tercetak sempurna di balik baju tidur berwarna broken white itu.


Gara benar-benar tidak ingin ambil kesempatan dalam kesempitan pada Zia.


“Yangg… sayang… bangun..” Gara mengusap rambut Zia dengan lembut. Meskipun buru-buru dan detak jantungnya belum normal karena dua gundukan, Gara tetap membangunkan Zia dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


“Entar mbaakk Kiki… aku ngantuk!” Kata Zia dengan mata masih terpejam. Kesadaran Zia belum berkumpul dan Zia belum menyadari suara orang yang sedang membangunkannya itu.


“Zi, bangun buruan… Anak-anak sudah menunggu di rumah Yurdha, kita semua nanti bisa ketinggalan pesawat!” Ucap Gara yang masih berusaha membangunkan Zia.


“Astaga!” Pekik Zia yang kesadarannya langsung kembali sepenuhnya mendengar kata ketinggalan pesawat. Zia yang tadi tidur di ranjang itu pun langsung terduduk sempurna di depan Gara.


Hal itu sontak membuat Gara terkejut dan gelagapan apalagi pemandangan pegunungan indah di pagi hari tepat berada di depan mata anak dari Andra tersebut.


Untuk kedua kalinya, Gara langsung membuang pandangannya ke sembarang arah sebelum otak dan pikirannya kembali bertamasya hingga membangunkan yang selama ini tertidur dengan baik.


Dalam hatinya, Gara merutuki mbak Kiki yang tadi menyuruh dirinya untuk membangunkan Zia sendiri.


Ya meskipun Gara pernah melihat gunung gunung indah dan besar di film biru yang menjadi koleksi Denim, salah satu sahabatnya. Namun melihat gunung milik Zia yang masih tertutup sempurna baju tidur, nyatanya mampu membuat Gara gugup setengah mati sebab benar-benar indah di luar ekspektasi Gara selama ini.

__ADS_1


Gara terus mencoba untuk tenang.


“Ini jam berapa yangg?” Tanya Zia panik sambil menguncir rambutnya ke atas dengan posisi yang masih sama.


“Astaga Zi..” Batin Gara yang saat melirik Zia justru menampilkan Gunung yang makin nampak jelas dan indah.


Jujur, Gara tidak ingin curi kesempatan namun sebagai lelaki normal Gara tentu penasaran dengan milik kekasih hatinya.


“Hampir jam 7. Jam setengah delapan kita harus sudah sampai rumah Yurdha dan kita berangkat bareng-bareng ke Bandara diantarkan supir si Yurdha.” Jawab Gara yang dengan nada dingin karena Zia tidak sadar dengan penampilannya saat ini dan tidak mungkin juga Gara memberitahukannya kan?


“Astaga! Kamu kok gak bangunin aku dari tadi sih Yangg!” Ucap Zia dengan wajah cemberutnya menyingkap selimut kemudian turun dari ranjang dengan santainya.


“Aku pikir kamu sudah bangun, kan biasanya kamu bangun pagi-pagi.” Gara pun ikut berdiri dan mencoba menjauh sekaligus menghindar agar tidak menatap tubuh kekasihnya itu.


“Aku semalam lembur ngerjain skripsi Gara Segara Karena Senin siang aku udah janji bimbingan sama dosbing… kamu sih baru ngomong kemarin kalau ngajak aku buat liburan ke luar kota!” Gerutu Zia dan Gara sadar bahwa dimana mana lelaki itu serba salah. Ah, lebih baik diam bukan daripada menjawab seorang wanita.


“Ya sudah, sana buruan mandi… Aku tunggu di bawah!” Perintah Gara yang hendak keluar dari kamar Ziva.


“Sayang, bawain koper aku turun sekalian ya.” Pinta Ziva.


Untung kemarin Zia langsung berkemas setelah Gara memberitahu agenda liburan tersebut, kalau tidak mereka bisa benar-benar ketinggalan pesawat dan gagal liburan sekaligus gagal memberikan kejutan untuk Zia.


“Eh, kamu kok pagi ini aneh sih… dingin banget sama aku?” Tanya Zia yang hendak masuk kamar mandi namun di urungkan dan memilih menahan pergelangan tangan kekasihnya.


“Aku gak apa-apa, sudah buruan mandi!” Gara mencoba melepaskan genggaman Zia dari pergelangan tangannya yang sedang menyeret koper.


“Aku tahu aku salah karena bangun kesiangan, tapi waktunya masih panjang kan… kok kamu jadi dingin sama aku gini. Maafin aku.” Kata Zia dengan tatapan penuh rasa bersalah pada Gara.


Meskipun Zia tergolong gadis cuek, namun Zia tidak pernah bisa sedikitpun kala Gara bersikap cuek sedikitpun dengannya. Mungkin karena sedari kecil Gara selalu berlaku manis dan penuh perhatian pada Zia.


“Bukan karena kamu telat bangun Zia ku…. Tapi karena.. astaga, gak mungkin kan aku jujur!” Ucap Gara hanya dalam hati dengan sedikit gugup.


Gara menghela nafasnya kasar kemudian menatap wajah cantik Zia yang tanpa make up sedang mengerjap-ngerjapkan matanya dan begitu menggemaskan. Meksipun baru tidur, Zia tetap terlihat sangat cantik di mata Gara.


“Aku gak marah sayang… kamu mandi buruan gih! Kasian anak-anak yang lain nanti nunggu kita kelamaan.” Gara mencoba tersenyum dan tenang pada Zia di tengah kegugupannya. Gara juga menatap Zia dengan tatapan teduh dan mencoba untuk bertahan agar tatapannya tidak turun ke bawah sedikit saja.

__ADS_1


Pegunungan indah yang mampu memporak-porandakan logika.


Melihat sikap Gara yang kembali manis, Zia pun tersenyum. Dan tanpa terduga, Zia justru langsung memeluk Gara hingga membuat Gara mematung seketika.


“Makasih ya selalu sabar sama aku, aku mandi bentar! I Love You!” Ucap Zia.


Gara pun memejamkan matanya sambil susah payah menelan salivanya saat merasakan dua gunung menabrak dada bidangnya untuk pertama kali.


"Lo... Love you to..."


Zia nampak heran dengan tubuh Gara yang menegang namun Zia tidak ambil pusing karena dia ingin buru-buru mandi sebelum kekasih hatinya yang tampan ini mengomel.


Tanpa rasa berdosa sedikit pun, Zia langsung melepaskan pelukannya dan memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamarnya dengan sangat santai.


Ceklek.


Pintu kamar mandi tertutup sempurna dan Gara masih mematung dengan tatapan entah. Perlahan tangan Gara mengusap dadanya sendiri.


“Astaga… kenyal… pagi-pagi dapat rejeki nomplok!” Gumam Gara pelan sebelum logikanya kembali dengan sempurna.


“Gila-gila… gila…” Gara langsung menggeleng-gelengkan kepalanya saat pikirannya sudah bertamasya melampaui batas karena membayangkan yang enak-enak.


Dengan tergesa dan membawa koper Zia, Gara segera turun dan menuju meja makan. Sampai di sana, Gara langsung membuka kulkas di rumah kekasihnya dan mengambil air dingin untuk mendinginkan otak juga tubuhnya yang terasa panas akibat tingkah Zia pagi ini.


“Mas Gara habis lihat setan? Pagi pagi sudah minum air dingin sebanyak itu?” Tanya Bik Sumi yang melihat tingkah aneh anak tetangga majikannya itu.


“Lebih menyeramkan dari setan bik!” Jawab Gara dengan nafas terengah-engah.


“A.. apa mas yang lebih menyeramkan dari setan?” Tanya bik Sumi penasaran dengan raut wajah takut karena memang bik Sumi takut dengan hal-hal berbau mistis.


“Ada deh pokoknya!” Jawab Gara sekenanya.


“Benar-benar lebih menyeramkan dari Setan, karena bisa mengusir logika ku bik.. astaga Zia!” Batin Gara menjerit.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2