
Rebecca tak pernah menyangka kalau alamat yang harus didatanginya adalah sebuah degung perkantoran yang megah dan sangat tinggi.
Yang datang kesana pun adalah orang-orang yang menaiki mobil mewah. Tidak ada yang berjalan kaki. Mungkin hanya Rebecca.
Rebecca tercengang. Kagum dan keheranan. Terutama tentang Johan.
Banyak sekali hal yang membuat Rebecca bingung dan penasaran pada laki-laki yang akan menikah dengannya itu.
Laki-laki tampan yang sepertinya punya kedudukan yang tinggi disini.
Tapi kenapa Johan malah memilih Rebecca yang hanya sekuntil manusia biasa ketika laki-laki itu bisa memilih gadis-gadis seksi dan terkemuka lainnya?
Entahlah.
"Ada perlu apa kau datang kemari?"
Seorang pria kekar berseragam hitam tiba-tiba datang menghampiri Rebecca yang hendak masuk kedalam.
"A, aku ingin bertemu seseorang"
"Kau pikir daerah ini taman bermain yang bisa seenaknya kau kunjungi? Pergilah! Selagi aku masih bicara baik-baik denganmu"
"T, tapi, beliau menyuruhku untuk datang kemari"
"Kau tidak punya akses untuk masuk, nona. Pergilah!"
"Aku harus bertemu dengan beliau. Tolong izinkan saya masuk"
Pria yang adalah satpam ditempat itu lantas berdecak kesal.
"Sulit sekali bicara dengan kaum rendahan sepertimu!" Katanya.
Dia lalu menggenggam kuat-kuat pergelangan tangan Rebecca dan menyeretnya agar menjauh dari pintu utama gedung itu.
__ADS_1
"Tunggu! Aku sungguh harus bertemu dengannya! Ini penting, pak! Tolong lepaskan aku"
"Lebih baik kau pergi dan jangan kembali lagi! Jika kau masih berusaha masuk, aku akan mengirimmu kedalam jeruji besi!"
Satpam itu menghempaskan tubuh Rebecca hingga Rebecca tersungkur keatas paping setelah tergelincir pada beberapa anak tangga.
Rebecca yang kala itu hanya menggunakan rok sebatas lutut, lantas merasakan perih sebab lututnya berdarah karena beberapa kerikil kecil yang menggores dan menancap.
"Pergi kau!" Perintah satpam itu.
Namun ketika Rebecca mencoba untuk bangkit, pergelangan kakinya terasa sangat sakit. Ia tak bisa berdiri. Sepertinya kaki Rebecca terkilir.
Satpam itu keterlaluan! Terlepas dari tugasnya untuk menjaga gedung, dia terlalu kasar pada perempuan.
Dibentak dan diperlalukan dengan buruk membuat hati Rebecca terenyuh perih. Bahkan diam-diam dirinya mulai menangis sambil menunduk menahan sakit.
Rebecca terus berusaha berdiri.
Suara maskulin itu membuat Rebecca terkejut.
Bukan, itu bukan suara si satpam yang tak punya hati itu! Melainkan suara dari seorang pria yang rambutnya dikuncir karena panjang.
Lucxy, entah sejak kapan ada disana, berjongkok disebelah Rebecca sambil melihat luka dilutut serta memar biru dipergelangan kaki Rebecca.
"T, tuan Johan. Selamat pagi, tuan!"
Satpam itu membungkuk memberi salam ketika melihat Johan.
"Kau yang melakukannya?"
Johan yang berdiri dibelakang Lucxy menatap dingin kepada satpam itu.
"Ya, tuan. Gadis itu memaksa masuk. Saya mengusirnya sebab dia tidak memiliki akses untuk masuk"
__ADS_1
Johan menatap Rebecca yang terdiam dengan tangan yang gemetar menyangga tubuhnya agar tidak ambruk.
Rebecca hanya membisu saat Lucxy menanyainya.
Hal itu membuat Johan kesal dan segera menendang bokong Lucxy agar menjauh dari Rebecca.
Johan berjongkok dan dengan entengnya mengambil tubuh Rebecca. Ia menggendong Rebecca didepan dengan kedua tangannya.
"Lucxy, urus pesangon untuknya. Cari orang yang bisa bekerja lebih becus" Perintah Johan.
Menyadari kalau ia akan segera dipecat, satpam itu langsung bersujud pada Johan.
"T, tuan! Saya hanya menjalankan tugas sebagai penjaga keamanan! Mohon jangan pecat saya, tuan! Saya sungguh menyesal"
Satpam itu terus memohon, sementara Johan terus mengabaikannya sambil berlalu begitu saja masuk kedalam gedung.
"Tuan Lucxy, tolong pertimbangkan saya. Saya sungguh tidak tau kalau gadis itu adalah tamu pentingnya tuan Johan"
Lucxy menghela napas berat. Lalu menepuk pundak sang satpam, merasa iba.
"Maaf, tapi yang kau ganggu itu bukan sembarang wanita" Katanya.
Lucxy sendiri tak bisa apa-apa sebab ia sangat mengenal Johan.
Jika Johan ingin satpam itu dikeluarkan, maka harus dikeluarkan. Bahkan jika Johan mau satpam itu mati, maka Lucxy hanya bisa menurut tanpa bisa membantah sedikitpun.
Sebesar itu kekuasaan Johan.
"T, tuan!–"
Lucxy memilih untuk meninggalkan satpam itu dan menyusul Johan serta Rebecca masuk kedalam.
...•○°●...
__ADS_1