Nyonya Muda Kesayanganku

Nyonya Muda Kesayanganku
Ketahuan anu-anu


__ADS_3

...•○~ENJOY YOUR READING!!~°●...


BRAKK


Sekali lagi Johan membanting Rebecca. Namun kali ini tidak kelantai. Melainkan ke atas kasur.


Johan menindih tubuh Rebecca dan mencekiknya lagi. Walau hanya dengan satu tangan, cekikan itu bisa membunuh Rebecca setidaknya dalam beberapa menit kedepan.


Tuhan.. Tolong jangan ambil aku sekarang. Aku masih ingin bertemu dengan mama. Batin Rebecca sambil terus berusaha menyingkirkan tangan Johan.


Johan mengambil pistol yang tergeletak di atas nakas. Pistol itu diarahkan ke kening Rebecca. Tangannya sudah siap menarik pelatuk yang bisa kapan saja dia lakukan.


Dalam rasa takut yang luar biasa bercampur dengan rasa sakit setengah mati yang ia tahan, Rebecca menangis tanpa suara. Air matanya terus mengalir tanpa henti.


"SIAPA YANG MENGIZINKANMU MASUK?!!!" Bentak Johan.


"JAWAB!!!"


Ini kali pertamanya Rebecca mendengar suara keras yang keluar dari mulut Johan. Johan sangat berbeda. Tidak seperti Johan yang biasanya arogan dan dingin, Johan lebih mirip seperti monster sekarang.


"Apa kau sangat ingin mati?" Tanya Johan lirih, namun sangat mengintimidasi.


"Aku akan mengabulkannya"


Johan mencekik Rebecca makin kuat. Ia tak peduli meski Rebecca benar-benar mati sekalipun.


Tubuh Johan memancarkan aura pembunuh yang terasa mencekam hingga membuat jantung Rebecca terasa berhenti berdetak.


Tolong..


Sakit..


Ditengah kelimpungannya, Rebecca mengangkat tanganya. Ia tak lagi berusaha melepaskan tangan Johan dari lehernya.


Tangan Rebecca meraba. Mencari wajah Johan dengan gemetar hebat. Pandanganya sudah kabur. Rebecca sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi.


"KAU–" Johan memotong ucapannya saat ia bisa merasakan tangan Rebecca yang menyentuh wajahnya.


"T,tenang,lah" Rebecca mencoba berbicara walau itu sangat menyiksanya.


"Kau– tidak. sendirian.. Aku, disini, ber,samamu"


Dengan suara yang parau dan terputus-putus. Rebecca menangkup pipi Johan yang dingin dengan tangannya yang hangat.


Johan diam membisu. Amarah yang menggebu-gebu itu mulai reda. Jantung yang berdebar kencang itu mulai stabil. Hati yang keras dan berusaha melawan rasa traumanya itu, kini mulai melunak tanpa perlawanan.


"Hiks.."


Isakan itu bukan berasal dari Rebecca. Melainkan suara yang keluar dari mulut Johan.


Perlahan, cengkraman tangan Johan di leher Rebecca mulai mengendur. Rebecca mulai bisa kembali bernapas dan kesadarannya mulai kembali pulih.

__ADS_1


Syukurlah.


Rebecca menyeka air mata yang mengalir dipipi Johan dengan jemarinya.


"Kau anak baik. Menangislah jika ingin menangis"


Rebecca membelai rambut Johan. Merasakan tiap tetesan air Johan yang jatuh ke wajahnya.


"Hiks hiks.."


Johan masih berusaha menahan tangisannya. Namun ia kepayahan. Hatinya terlalu sakit.


"It's ok.."


"Hwuuuaa...."


Tangisan Johan pecah. Dan Rebecca langsung menarik Johan kedalam pelukannya.


"Menangislah"


Rebecca memeluk Johan seerat mungkin agar Johan bisa merasakan bahwa dia tidak sendirian.


Johan memendam kepalanya didada Rebecca. Menumpahkan semua rasa sakitnya dengan menangis sekencang-kencangnya.


Hangat.


Nyaman.


Semua perasaan itu mengalir dalam hati Johan. Ia terus menangis sesenggukan selama hampir satu jam hingga akhirnya ia tertidur pulas dalam pelukan Rebecca.


...•○°●...


Rebecca ikut tertidur semalam, sebab Johan yang menindih tubuhnya tidak memungkinkan baginya untuk bergerak apalagi berpindah tempat.


Di pagi hari. Ketika arunika menerobos masuk kedalam kamar itu, Rebecca yang masih terpejam perlahan mulai membuka matanya.


Hal yang pertama dilihat olehnya adalah Johan. Pria itu sudah bangun lebih dulu. Ia duduk disebelah Rebecca sambil membersihkan noda darah yang mengering di pelipis Rebecca dengan sangat hati-hati.


Wajah Johan yang terlihat serius, membuat Rebecca tersenyum.


"Kau sudah bangun?" Tanya Johan.


"Belum" Rebecca kembali menutup matanya dan pura-pura tidur.


"Mau tidur selamanya?"


"Ck!" Rebecca berdecak kesal sambil membuka matanya lebar-lebar. "Apa kau tidak bisa bicara sedikit lebih lembut padaku?" Tanya Rebecca.


"Tidak. Kau akan jatuh hati padaku jika aku bicara dengan lembut padamu. Aku berusaha menyelamatkanmu dari lima miliar yang harus kau bayar jika kau melanggar kontrak"


Mata Rebecca semakin terbuka lebar. Gadis itu melotot. Tak habis fikri dengan apa yang dikatakan Johan barusan.

__ADS_1


Dasar pria angkuh! Rebecca menggerutu dalam hatinya.


"Bagaimana jika kau yang jatuh hati padaku?" Tanya Rebecca.


"Aku tidak mungkin melakukan itu"


"Melakukan apa?"


"Jatuh hati padamu"


"Bagaimana jika kau melakukannya?"


Johan diam. Menatap mata coklat milik Rebecca dengan tatapannya yang tajam.


"Kau hanya anak kecil. Kau tidak akan bisa membuatku melakukannya" Ucap Johan remeh. "Tapi bagaimana denganmu?" Johan tiba-tiba membungkuk. Mendekatkan wajahnya pada Rebecca. "Sejauh mana kau akan bertahan untuk tidak jatuh cinta padaku?"


Mata Johan kini terfokus pada bibir merah muda milik Rebecca. Warna yang alamai tanpa polesan apapun. Bibir itu terlihat mungil dan sedikit terbuka.


"Bahkan bibirmu ini tidak akan bernilai lima miliar dimata orang paling kaya sekalipun"


"K, kau! Menjauhlah!" Rebecca berusaha mendorong Johan. Namun apalah dayanya? Rebecca kalah tenaga dengam Johan.


Kini Johan mengambil alih tubuh Rebecca. Pria itu meletakkan salah satu kakinya diantara kedua kaki Rebecca. Matanya menatap seluruh bagian wajah Rebecca tanpa terkecuali.


Cantik.


Setiap lekukan pada wajah Rebecca terlihat sangat cantik. Namun sayang, Johan sama sekali tidak berhasrat pada kecantikan itu.


"Apa Lucxy yang menyuruhmu masuk ke kamarku?" Tanya Johan tiba-tiba.


"B, bukan. Aku sendiri yang ingin masuk"


"Kau berani juga. Lalu, apa kau terluka karena aku?" Johan menatap luka dipelipis Rebecca dengan perasaan bersalah. Darahnya memang sudah tidak ada, tapi luka itu pasti masih sakit.


"Aku–"


KLAK!!..


Suara pintu terbuka.


"SELAMAT PAGI PUTRAKU TERSA–"


Rosella memotong ucapannya saat ia melihat pose diatas ranjang itu.


Sementara dua oknum tersangka yang tertangkap basah itu malah saling melempar tatapan sambil melotot kaget.


Rosella melotot dengan mulutnya yang terbuka lebar. "ASTAGA!!! DADY!!! ANAK KITA SEDANG ANU-ANU!!!" Rosella berlari keluar sambil berteriak kencang saking syoknya.


"Mom!" Johan memanggil. Namun percuma sebab Rosella sudah turun kebawah.


Johan menghela napas. Memang tidak masalah jika Rosella melihat dia dan Rebecca sedang ada diposisi yang agak, me**m. Tapi jangan teriak juga dong!! Kan malu sama para pelayan😭. Itulah batin Johan dalam hatinya.

__ADS_1


...•○°●...


__ADS_2