
Dari lantai satu sampai ke ruang kerja pribadi miliknya di lantai delapan, Johan terus membopong Rebecca dan tidak membiarkan gadis itu berjalan dengan kakinya yang terluka.
Seluruh perhatian terpusat pada mereka berdua.
Para staff dan kariawan disana menatap tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Benarkah itu bos? Tapi siapa gadis yang di gendongnya itu?"
"Apakah bos memiliki adik perempuan?"
"Sepertinya tidak. Aku tidak pernah mendengar rumor bahwa bos punya adik perempuan"
"Benar. Setauku bos adalah anak tunggal keluarga Zhegara"
"Apa jangan-jangan bos mulai berkencan?"
"Wahh.. Jika benar, itu adalah berita bagus!"
"Tapi mana mungkin bos berkencan dengan bocah? Bukankah kau pikir gadis itu terlalu muda?"
"Entahlah"
Dulu, sempat ada rumor yang mengatakan bahwa Johan memiliki gangguang asexual yang membuat Johan tidak memiliki hasrat untuk berhubungan apalagi menikah.
Lantas hal itu membuat mereka jadi penasaran dan mulai mempertanyakan siapakah gadis yang datang bersama Johan itu.
"Hey! Apa kalian sudah bosan bekerja disini? Jika iya, aku akan membuatkan surat pemecatan kalian hari ini juga!"
Mereka langsung membubarkan diri setelah mendengar ancaman dari Lucxy.
Jelas saja mereka takut.
Karena perintah Luxcy itu setara dengan perintah Johan. Artinya, apa yang dikatakan Lucxy harus mereka turuti sebagai instruksi.
...•○°●...
"Bisa-bisanya aku akan menikah dengan bocah yang bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri" Johan mengoceh kesal.
Sementara Rebecca menunduk malu.
Begitu sampai diruang kerjanya, Johan langsung mengambil kotak P3K dan mulai membersihkan luka yang ada dilutut Rebecca dengan sangat hati-hati.
Rebecca duduk disofa. Dan Johan berjongkok didepannya.
"Ssh.."
Rebecca berdesis kesakitan saat Johan mulai memberinya obat merah.
"Tahanlah sedikit. Sakit sedikit tidak masalah daripada harus diamputasi"
Rebecca melotot, merinding mendengar ucapan Johan.
"Kau terlalu berlebihan jika mengatakan kaki Rebecca harus diamputasi hanya karena luka gores" Celetuk Lucxy yang tiba-tiba muncul dari balik pintu membawa berkas yang diperlukan Johan untuk menikah.
"Kau mau mengetuk pintu sebelum masuk, atau kupotong saja tanganmu?"
Lucxy menghela napas berat. Gaya bicara Johan memang tidak pernah berubah. Selalu pedas dan penuh ancaman.
Lantas Lucxy bergegas keluar.
Menutup pintu.
__ADS_1
Mengetuknya.
Lalu masuk lagi.
"Sudah kan?" Tanyanya sambil tersenyum tak berdosa.
Bukankah ini adalah hubungan yang pelik?
Johan yang ketus dan kejam itu selalu menjalani kesehariannya bersama Lucxy yang konyol dan bersikap semau-mau.
Tapi disisi lain, Johan hanya memiliki Lucxy sebagai satu-satunya orang yang bisa dipercaya.
Lucxy pun sudah bersumpah untuk menjadi 'anjing' yang akan setia pada tuannya sampai mati.
Jadi mau mengusir Lucxy pun, Johan harus berpikir dua kali. Atau bahkan lebih.
Johan kembali fokus pada lutut Rebecca. Ia memberi plester untuk menutupi luka itu.
"Setelah menjadi istriku, kau harus melawan siapapun orang yang berani menyakitimu. Tunjukkan pada mereka siapa dirimu. Kau tidak boleh takut pada apapun. Mengerti?"
"Me, mengerti"
"Bagus. Setelah ini bacalah kontrak nikah kita. Kemudian tanda tangani kontrak itu dan ikut aku ke KUA"
Rebecca mengangguk. Dan kini, lututnya sudah tidak sakit lagi berkat Johan.
...•○°●...
Johan menghentikan mobilnya tepat didepan kantor urusan agama (KUA). Dia merapihkan penampilannya sebelum keluar dari mobil. Mereka akan menikah hari itu juga.
Disisi lain, Rebecca masih tak menyangka kalau dalam waktu dekat ia akan menjadi seorang istri. Lebih tepatnya istri dari seorang CEO sekaligus pemilik perusahan B.A Company, Johan Gee Zhegara.
"Ayo" Ajak Johan sambil membukakan pintu untuk Rebecca.
"Apa kau gugup?"
"Maaf, aku hanya... sedikit tidak siap" Rebecca menunduk.
"Ini hanya sementara dan aku tidak akan melakukan apapun padamu. Jadi kau tidak perlu takut. Setelah semuanya beres dan kontrak kita berakhir, kau bisa kembali bebas menjalani masa mudamu"
Johan mengulurkan tangannya.
"Ayo" Ajak Johan sekali lagi.
Setelah menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, Rebecca akhirnya menerima tangan Johan dan keluar dari mobil itu.
Wajah Rebecca pucat. Keringat dingin mulai membasahi lehernya. Ia sangat gugup ketika mereka sudah ada didepan pintu gedung itu.
"Tenanglah. Aku ada disampingmu" Kata Johan, berusaha menenangkan Rebecca.
.
.
.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua keluar dari gedung dengan status mereka yang sudah resmi menjadi pasangan suami istri.
Menikah diusia yang masih sangat muda bukanlah hal yang diinginkan oleh Rebecca. Tapi ia tidak pernah menyesal. Sebab dengan begitu, Rebecca bisa membantu ibunya untuk mendapatkan donor ginjal.
"Ingat! Kau harus berusaha agar tidak jatuh cinta padaku"
__ADS_1
Rebecca mengangguk. Karena memang itulah perjanjian yang tertulis di kontrak. Bahwa:
Pihak kedua dilarang keras untuk jatuh cinta pada pihak pertama;
Pihak pertama tidak boleh memaksakan kehendak pada pihak kedua diluar tujuan kontrak ini dibuat;
Tidak ada kekerasan fisik;
Pihak kedua menjadi istri bayaran selama tiga bulan dengan gaji 100 juta perminggu.
Jika melanggar kontrak, maka sanksi akan berlaku sesuai dengan perjanjian. Yaitu:
•Jika yang melanggar adalah pihak pertama, maka pihak kedua akan mendapatkan jaminan hidup dalam bentuk apapun selama seumur hidup.
•Jika yang melanggar adalah pihak kedua, harus membayar uang tunai senilai 5 miliar selama tiga tahun berturut-turut.
Yang bertanda tangan
Pihak pertama ( Johan Gee Zheraga )
Pihak kedua ( Rebecca Terence )
Begitulah isi kontrak mereka.
"Kemasilah barang-barangmu. Malam ini kau akan tinggal dirumahku"
"A, apakah aku harus tinggal bersamamu?" Tanya Rebecca.
"Aku menikahimu untuk itu" Jawab Johan singkat, padat dan jelas.
"Dan kau juga harus berhenti bekerja sebagai waitress. Aku tidak mau ada rumor yang mengatakan bahwa aku menelantarkanmu"
Rebecca menatap Johan.
"Izinkanlah aku bekerja disana malam ini untuk yang terakhir kalinya" Pinta Rebecca. "Kumohon.." Lanjutnya.
"Hanya untuk mengucapkan salam perpisahan"
Rebecca tersenyum senang.
"Terima kasih"
"Aku akan menjemputmu setelah pulang kerja"
"Sebenarnya aku bisa sendiri"
"Aku tidak suka penolakan" Ucap Johan tidak mau dibantah.
"B, baiklah"
Rebecca pun hanya bisa patuh dan bersabar dalam menghadapi sifat angkuh suaminya itu.
Walau cukup tertekan, tapi Rebecca akan terus berusaha untuk memahami Johan. Tekat Rebecca sudah bulat. Hal itu ia lakukan untuk membalas kebaikan Johan padanya.
Semua berjalan sesuai rencana. Kini hanya tinggal menunggu orang tua Johan datang dan melihat langsung bahwa putra tunggal mereka itu sudah menikah. Tanpa mereka tau kalau pernikahan putranya hanyalah perjanjian diatas kertas.
Namun disinilah kisah awal mereka akan dimulai.
__ADS_1
🌻🌻🌻
...•○°●...