Nyonya Muda Kesayanganku

Nyonya Muda Kesayanganku
In The Dark


__ADS_3

Deru berisik mobil sport lamborghini aventador berhasih mencuri perhatian banyak orang. Mobil itu parkir di depan gedung mall.


Lucxy keluar dari sana dengan jas hitam yang membalut tubuhnya.


Masih dengan perhatian orang-orang yang tertuju padanya, Lucxy lekas menghampiri Rebecca yang terlihat sedang menunggu di lobi.


"Nyonya" Panggil Lucxy.


"Ah! Kau rupanya" Rebecca bahkan hampir tidak mengenali Lucxy sebab pria itu terlihat agak berbeda hari ini.


"Apa kau baru potong rambut?" Tanya Rebecca penasaran.


"Kau sungguh celik, nyonya. Apa aku makin tampan?"


Lucxy menyentuh dagu dengan telunjuk dan ibu jarinya seperti sedang berpose. Sungguh narsis bukan?


"Ya, kau jadi sedikit lebih tampan" Kata Rebecca sambil tersenyum.


"Aku tau itu! Hehe. Kalau begitu, mari nyonya, kita pulang" Lucxy sedikit membungkuk sambil mengarahkan telapak tangannya ke arah mobil agar Rebecca berjalan lebih dulu dan dia akan mengekor dibelakangnya.


"Kupikir Johan yang akan menjemputku"


"Hari ini tidak bisa, nyonya. Tuan sedang ada masalah"


Lucxy membukakan pintu untuk Rebecca dan mempersilakan Rebecca untuk masuk kedalam mobil yang atapnya masih terbuka itu.


"Terima kasih" Kata Rebecca.


"Tidak perlu berterimakasih, nyonya. Ini sudah menjadi tugasku"


Setelah duduk dikursi pengemudi, Lucxy segera menyalakan mesin mobil itu. Suara berisiknya kembali mencuri perhatian orang-orang. Bahkan mereka sampai mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam.


"Apa wanita itu memakai seragam pelayan?"


"Sepertinya memang seragam pelayan"


"Pasti dia telah menjual tubuhnya untuk bisa naik mobil mewah!"


"Benar, murahan sekali kelakuannya!"


Orang-orang itu mulai bergosip. Memang sudah hal yang wajar. Mereka yang derajatnya lebih rendah, pasti suka menjelek-jelekkan orang yang terlihat lebih mampu daripada mereka.


...•○°●...


Lucxy mempersilakan Rebecca masuk kedalam mansion milik Johan.


Hal pertama yang dilihat Rebecca adalah kemewahan di dalam ruangan yang luas.



Mulut Rebecca terbuka lebar-lebar. Dia masih tak menyangka kalau orang sepertinya yang hanya digaji dua juta setiap bulan, akan tinggal dirumah yang lebih seperti istana ini.


Semua benda yang ada didalam sana terlihat mengkilap. semuanya terlihat mewah.


Kira-kira harga satu bohlam lampu disana setara dengan gaji Rebecca selama berapa bulan ya?


"Nyonya, anda bisa mandi dulu sebelum pergi ke kamar tuan" Kata Luxcy yang berdiri dibelakangnya.


"Ke kamar Johan?"

__ADS_1


"Benar. Malam ini anda akan tidur disana. Tapi sambil menunggu tuan meredakan amarahnya, silahan nyonya membersihkan diri terlebih dahulu. Aku akan menyuruh pelayan untuk membantu anda" Jawab Lucxy.


"Apa Johan sedang marah?"


Ah, Lucxy melupakan satu hal yang belum Rebecca ketahui tengan Johan.


Hal yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.


Tapi karena sekarang Rebecca adalah bagian dari keluarga Johan, sepertinya Rebecca juga perlu tau soal hal ini.


"Ada hal penting yang perlu kusampaikan. Mari ikut aku nyonya" Ajak Lucxy


.


.


Ada sebuah taman dibelakang mansion itu. Disanalah Lucxy mengajak Rebecca duduk.


Lucxy menyerahkan sebuah foto kecil pada Rebecca. Dan dengan mudah, Rebecca bisa langsung mengenali siapa pria didalam foto itu.


Tapi,...


"Kau pasti bisa tau kalau itu adalah Johan" Kata Lucxy.


"Tapi wanita ini, apa dia kekasihnya Johan?" Tanya Rebecca


"Piring cantik untukmu karena sudah menebak dengan benar" Jawab Lucxy.


Terdengar helaan napas berat keluar dari mulut Lucxy. Pria itu menatap langit sambil tersenyum kecil penuh arti.


"Kami dulu adalah sahabat. Kami tumbuh bersama dan selalu menghabiskan waktu bertiga. Saat kami remaja, Johan ternyata mengungkapkan perasaannya pada Lyoni. Aku senang karena mereka memiliki perasaan yang sama. Tapi..."


Lucxy menurunkan pandangannya.


Rebecca menutup mulutnya. Syok mendengar cerita itu.


"Kenapa dia melakukan itu?" Tanya Rebecca penasaran.


"Aku selalu ingin menanyakan hal itu pada Johan. Karena hanya dia yang tau semua hal tentang Lyoni. Tapi Johan tidak pernah mau membahas soal itu"


Rebecca tak pernah menyangka kalau pria angkuh itu rupanya menyimpan cerita yang kelam hingga membawa rasa trauma dalam dirinya.


"Tempramen Johan jadi sangat buruk setelah kematian Lyoni. Bahkan dia tidak segan-segan untuk melukai siapapun yang ada didekatnya saat dia sedang emosi. Makanya Johan lebih memilih untuk mengurung dirinya dikamar dan tidak membiarkan siapapun masuk. Biasanya Johan akan keluar dengan keadaan tubuhnya yang terluka. Tapi itu sudah biasa. Johan lebih tidak mau seseorang terluka karenanya"


"Johan melukai dirinya sendiri?" Tanya Rebecca.


Namun Lucxy hanya diam sambil menunduk.


"Apa kau tidak berusaha mencegahnya?" Rebecca bertanya lagi.


Kali ini Lucxy menatapnya. Kemudian tersenyum.


Lucxy berdiri dari tempat duduknya. Ia mengangkat kemeja yang membalut tubuhnya. Memperlihatkan perut kotak-kotak dan bekas luka yang tergaris panjang disana. Seperti luka bekas sayatan.


"Aku pernah mencobanya. Dan inilah yang kudapatkan" Kata Lucxy. Ia menurunkan kemejanya lagi kemudian kembali duduk di sebelah Rebecca.


"Sebenarnya aku tidak masalah dengan seberapa banyak pun luka yang akan kudapat. Tapi Johan selalu mengancam akan mengakhiri hidupnya jika aku melakukan ini lagi. Karena Johan selalu kehilangan kesadaran ketika ia melakukan itu"


Hati Rebecca mencelos mendengar semua yang dikatakan oleh Lucxy. Perasaannya hancur. Seolah ia bisa merasakan bagaimana penderitaan Johan melawan setiap trauma masalalunya.

__ADS_1


"Aku ingin memeriksa"


"Jangan!"


Lucxy segera menahan tangan Rebecca yang hendak pergi.


"Johan tidak akan peduli siapa dirimu. Kau bisa terluka"


"Dan membiarkan Johan terluka?"


"Itu lebih baik, nyonya"


"Tapi aku istrinya. Bukankah aku juga harus melindunginya?"


"Johan tidak akan memaafkanku jika dia tau aku mengizinkanmu masuk"


"Aku akan menangani itu"


"Nyonya..–"


"Baiklah. Aku tidak akan masuk"


Rebecca akhirnya mengalah.


"Dan tolong berhenti memanggilku nyonya. Aku lebih merasa nyaman jika kau memanggilku dengan nama" Pintanya.


...•○°●...


Selagi Lucxy pergi menemui para pelayan, Rebecca diam-diam naik ke atas dan mencari dimana kamar Johan berada.


Bukannya Rebecca tidak menghiraukan perkataan Lucxy. Namun naluri Rebecca mengatakan kalau Johan sedang membutuhkannya sekarang.


Ada sebuah pintu diujung lorong di lantai dua. Pintu yang cukup besar. Namun sangat gelap disekitarnya.


Rebecca tebak itu adalah kamar Johan.


Gadis itu langsung pergi mendekat ke arah pintu itu. Tidak ada siapapun disana. Sangat sunyi dan sepi. Membuat suasana terasa begitu mencekam.


TOK–


Nyeeeet...


Baru sekali Rebecca mengetuknya, pintu itu malah terbuka dengan sendirinya.


"Permisi.."


Rebecca melangkah masuk dengan perlahan. Ia mencoba beradaptasi dengan ruangan gelap itu. Tapi kenapa seperti tidak ada orang didalamnya? Apa ruangan ini memang bukan kamarnya Johan?


Rebecca menghela napas. Kemudian berniat keluar untuk mencari Johan di ruangan lain.


Namun tiba-tiba tubuh Rebecca terbanting ke lantai dengan sangat keras. Kepalanya yang terbentur sesuatu itu terasa sangat sakit. Rebecca bisa merasakan ada cairan yang mengalir keluar di pelipisnya.


"Johan, itu kau?" Tanya Rebecca sambil berusaha berdiri menyeimbangkan tubuhnya.


"Aku hanya– Akh!"


Kakinya melayang dan tubuhnya seketika kaku. Rebecca tidak bisa bicara untuk meminta tolong karena Johan mencekiknya. Jangankan bicara, Rebecca bahkan hampir kehabisan oksigen lantaran sangat sulit bernapas.


"Jo...–"

__ADS_1


Dengan susah payah dan setengah mati, Rebecca berusaha melepaskan diri. Namun semakin ia memberontak tubuhnya malah semakin lemas dan kehilangan banyak tenaga.


Kepalanya pusing, napasnya hampir putus dan dirinya sudah mulai kehilangan kesadaran. Apa hidup Rebecca sungguh akan berhenti sampai disini? Apa Rebecca benar-benar akan mati?


__ADS_2