OB Milyader ( Menantu Sampah)

OB Milyader ( Menantu Sampah)
Kau sudah menodai ku, Om


__ADS_3

"Papa, tadi malam Ayana mimpi lagi, tapi mimpi kali ini berbeda dengan mimpi yang pertama." Ucap Ayana membuka pembicaraan dengan papanya.


"Oya, memang anak papa mimpi apa, setelah menangis sampai seunggukan?"


"Mimpi kalau papa akan menikah dengan seorang wanita yang cantik." celetuk Ayana, membuat semua orang yang sedang sarapan tersedak secara bersamaan.


"Kamu lucu sekali Ayana, gak ada hujan gak ada angin kamu bilang kalau papamu akan menikah." saut Akas sambil terkekeh.


"Om, mimpi Ayana seperti nyata. wanita itu sangat cantik dan masih muda." jelas Ayana lagi, menyakinkan.


"Baik, om percaya dan om akan bertaruh jika hari ini atau besok papamu benar-benar menikah, om akan belikan kamu lima puluh boneka teddy bear, bagaimana?"


"Akas, jangan becanda, bagaimana bisa kamu taruhan dengan anak kecil, pastinya kamu yang akan menang, Lagian mana mungkin aku menikah calon saja belum punya."


Akas melirik Sonia, yang diam-diam memperhatikan Kelvin, "Apa papamu akan menikah dengan Tante Sonia?" Akas memancing suasana, membuat Sonia menjadi salah tingkah.


"Bukan, calon istri papa rambutnya pendek, kalau tante Sonia kan rambutnya panjang, jadi bukan Tante." Jelas Ayana dengan suara khasnya.


"Ayana, cukup jangan di lanjutkan, itu hanya bunga tidur saja dan tidak akan terjadi dan papa belum ada rencana untuk menikah, paham! sekarang lanjutkan sarapannya dan papa akan mengantarkan kamu pulang ke rumah mama Arumi."


"Tidak. Ayana tidak mau pulang, Ayana sudah berjanji kalau Ayana akan tetap ikut papa." Ayana meletakkan sendok yang sedari tadi dipegangnya ke atas piring dengan kasar dan langsung berlari menuju kamar.


"Ayana, dengarkan papa, mamamu tidak mengizinkan kamu tinggal bersama papa" Kelvin berusaha menjelaskan, namun tak di dengar Ayana.


Kelvin pun berusaha untuk menahan amarahnya karena sikap putrinya.


"Sabar Vin, dia masih kecil, dia gak tahu permasalahan orang tuanya. Bujuk Ayana dengan baik-baik, dia pasti akan mengerti."


"Akan aku coba." Kelvin segera menghampiri Ayana yang sedang menangis terisak-isak di atas ranjang.

__ADS_1


"Ayana. Papa mau bicara."


"Ayana gak mau dengar, kalau papa mau bujuk Ayana." Jawab Ayana di balik bantal.


"Tidak, papa tidak akan membujukmu untuk pulang ke rumah mama Arumi, papa cuma minta kamu datang temui mamamu dan jelaskan ke inginmu jika ingin tinggal bersama papa. Papa gak mau jika papa di tuduh yang tidak-tidak oleh mama Arumi. Apa kamu dengar dan bisa membantu papa." Dengan tenang Kelvin berusaha menjelaskan, agar Ayana bisa mengerti. Ayana langsung duduk dan menatap papanya yang masih berdiri di pintu sambil menyandarkan tubuhnya di sisi pintu.


"Kalau mama, tidak mengizinkan bagaimana?" tanya balik Ayana.


"Ya kamu harus bisa bujuk mamamu. Papa janji, kapanpun waktunya jika putri papa ini ingin bertemu papa, papa akan selalu siap menjemput. Sampai kapanpun papa ini adalah papamu, walaupun kamu tinggal bersama mamamu dan juga papa barumu, kamu tetap anak papa."


"Papa janji." Ayana menghampiri Kelvin dan menjulurkan jar kelingkingnya untuk mengikat janji pada papanya.


"Papa janji." Kelvin pun berjanji dengan melingkarkan kelingkingnya di kelingking putrinya. Ayana langsung tersenyum dan percaya pada Kelvin.


Pada akhirnya Kelvin berhasil membujuk Ayana untuk kembali pada Arumi. Sepanjang perjalanan Ayana menyandarkan kepalanya di pintu mobil. Kelvin yang fokus mengendarai mobil sesekali melirik putrinya tanpa bertanya.


Setelah beberapa waktu akhirnya mobil Kelvin memasuki halaman rumah dimana tempat yang selalu mengingatnya pada kenangan masa lalu.


"Mama, Ayana pulang." Sapa Ayana dan langsung memeluk mamanya.


Dari dalam rumah, terlihat sosok Sukma yang berjalan keluar, "Nak Kelvin, Masuk dulu nak, sudah lama kamu gak main kesini." ucap Sukma yang tiba-tiba berubah sikap saat mengetahui siapa Kelvin sebenarnya.


"Terimakasih Tante, tapi maaf saya sedang sibuk, saya harus segera pergi ke kantor." Jawab Kelvin yang masih berusaha sopan, mengingat Sukma lebih tua darinya dan juga Nenek Ayana.


"Ohhh sibuk ya, enggak papa kalau begitu, lain kali kan masih bisa main-main kesini, buat jenguk Ayana."


Kelvin jongkok di hadapan Ayana, "Ayana papa harus pergi, kamu baik-baik sama mamamu ya, jadi anak yang pintar, dan bisa jadi anak kebanggaan. Papa pasti akan merindukanmu sayang." Kelvin pun langsung memeluk erat Ayana sebelum pergi meninggalkannya.


"Papa harus tepati janji pada pada Ayana." bisik Ayana di telinga Kelvin sebelum membalas pelukan dengan pelukan yang erat.

__ADS_1


Kelvin akhirnya pergi meninggalkan Kelvin dengan perasaan sedih, Kelvin melihat Ayana dari kaca spion yang sedang melambaikan tangan, sebelum Kelvin akhirnya tancap gas dan pergi.


Sepanjang perjalanan Kelvin teringat Ayana yang akan membuatnya selalu rindu padanya.


Kelvin mengendarai mobilnya dengan pelan, ia tak terlalu fokus berkendara, ia takut jika terlalu laju akan membuatnya kembali celaka.


Namun namanya musibah tidak bisa di hindari, di saat berkendara pelan pun jika naas menghampiri apapun bisa terjadi, seperti yang di alami Kelvin kembali, sudah sangat pelan ia berkendara masih saja ia hampir menabrak seorang wanita yang tengah berlari dengan arah berlawanan.


Braaakkk...


Seorang wanita menabrakkan tubuhnya di mobil Kelvin hingga Kelvin pun mendadak berhenti.


"Si*l, sudah berkendara seperti semut masih saja ada yang membuat masalah dengan menabrakkan diri." Kelvin sangat kesal, dengan ulah wanita yang tak bergerak dari depan mobilnya dan tubuhnya masih menempel di depan mobil.


Kelvin keluar dan ingin menegur wanita yang sedang mengenakan baju pengantin yang ingin bunuh diri dengan menabrakkan diri di mobilnya.


Kelvin menggebrak mobilnya dan mengagetkan wanita itu, "Nona, jika kamu ingin bunuh diri, silahkan cari mobil yang melaju kencang. Apa kamu tak lihat, aku mengendarai mobil saja seperti semut, jika kamu ingin mati, gak mungkin kamu bisa mati." Tak segan-segan Kelvin memarahi wanita tersebut tak perduli apa yang terjadi padanya dengan pakaian pengantin, malah berkeliaran di jalan.


Belum selesai bicara, tiba-tiba wanita itu menci*um bbir Kelvin, dan seketika membuat mata Kelvin melotot, mendapat serangan tak terduga dari wanita yang sama sekali tak di kenalnya. Wanita itu tanpa malu menahan kepala belakang Kelvin agar tak bergerak dan menahan ciumanannya tak perduli sedang di tempat umum, sampai beberapa orang yang mengejarnya menghampiri.


Tubuh Kelvin di dorong oleh wanita itu, lalu wanita itu menangis di depannya, " Kamu harus tanggung jawab, kenapa kamu ingin lari, kamu sudah menodai ku." Tiba-tiba wanita itu menuduh Kelvin dan memintanya bertanggung jawab.


"Tunggu dulu, apa ini, kenapa aku harus tanggung jawab, aku tidak melakukan apapun padamu, mengenalmu saja aku tidak." Bantah Kelvin, membela diri.


Wanita itu kembali memeluk Kelvin dengan paksa dan berbisik di telinga Kelvin, "Kau telah Menodai Bibirku, Om. Maka om harus bertanggung jawab."


Mendengar bisikan Wanita itu, Kelvin langsung diam mematung.


_TBC

__ADS_1


✔️ jangan lupa tinggalkan jejak


✔️👍📝🎁🔖💙❤️


__ADS_2