
Berat rasanya kaki untuk melangkah, menginjakkan kaki di rumah yang memiliki kenangan begitu banyak.
Semenjak kebenaran terungkap tentang papanya, Kelvin sangat membenci Mahendra. Semua kebaikan dan kasih sayangnya lenyap begitu saja oleh kebohongan yang ia buat sendiri hingga Kelvin enggan untuk memberikannya maaf padanya. Kini yang ada tinggallah kebencian dan keinginan untuk segera mengusir Mahendra dari rumah yang di tempatnya sekarang.
"Pak, tuan Mahendra belum kembali, kita tunggu atau kembali esok hari?" tanya Akas. Di saat bekerja Akas akan bersikap hormat pada Kelvin yang merupakan bosnya.
Kelvin keluar dari dalam mobil dan segera berjalan memasuki Mansion tempat tinggalnya dari kecil.
Pelayan yang ada, menyambut hangat kedatangan Kelvin. Kelvin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan tak mendapati bingkai foto sang mama terpajang.
"Pelayan. Katakan dimana Mahendra membuang semua foto-foto mama?" tanya Kelvin.
"Tuan Mahendra menyimpannya di gudang semua tuan."Jelas sang pelayan.
Kemarahan Kelvin memuncak, ia berusaha menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya sendiri namun tak mampu meredamnya. Kelvin membanting bingkai foto Mahendra dengan istri barunya yang terpajang di dinding.
"Mereka tak layak untuk menempati rumah ini, mereka semua parasit, mereka semua harus kembali dimana dirinya berasal."Teriak Kelvin sambil menginjak-injak foto mereka dengan sepatunya.
Tak ada yang berani angkat bicara untuk menenangkan Kelvin. Mereka membiarkan Kelvin meluapkan amarahnya yang menggebu-gebu, yang selama ini berusaha ia tahan.
Tak lama kemudian Mahendra datang. Ia terkejut dengan kedatangan Kelvin dan juga kuasa hukum mantan istrinya.
Kelvin sedang duduk di kursi goyang tempat dimana Mahendra sering duduki saat sedang bersantai.
"Kelvin..." ucap Mahendra dalam keterkejutan.
"Kenapa? kau terkejut?" tanya balik Kelvin dengan santainya.
__ADS_1
"Waktumu sudah habis Mahendra, lebih baik sekarang kamu angkat kaki dari rumah ini atau aku akan meminta Akas menyeretmu keluar dengan paksa." Akas melemparkan tas yang berisi pakaian Mahendra tepat dihadapannya.
"Pak Arya, Berikan surat wasiat mama padanya, biar dia baca sendiri isinya."
"Aku sudah pernah bilang padamu, mama masih baik hati dengan menyerahkan tiga puluh lima persen hartanya dengan catatan kau tidak di izinkan menikah lagi, karena mama sangat mencintaimu tapi sepertinya kau sama sekali tak pernah mencintai mama, yang ada dalam hatimu hanya dendam, dendam karena penghinaan yang kamu dapatkan." Mahendra membaca dokumen yang berisi wasiat dari Kartika. Karena selama ini semua harta yang ada adalah milik Kartika Casandro sedangkan Mahendra menikahi Kartika tanpa harta sama sekali.
"Baik, baiklah aku akan pergi dari sini. Tapi ingat dan jangan pernah menyesal kamu telah mengusirku, aku pastikan setelah ini aku akan menghancurkan hidupmu. Aku tak akan pernah merasa kasihan lagi padamu karena aku bukan papamu."Mahendra segera angkat kaki dan Mambawa tas yang ada di depannya.
Tanpa perlawanan Mahendra meninggalkan Mansion yang selama ini ditempatinya, Namun saat Mahendra pergi senyum menyeringai terlihat jelas di bibirnya seolah inilah yang di inginkan Mahendra, dan rencana besar sedang di susunnya.
"Pak, apa bapak tidak merasa curiga dengan pak Mahendra yang pergi tanpa perlawanan?" tanya Akas yang tampak kuatir.
"Aku tahu itu, dia sedang merencanakan sesuatu, Dan aku pun sama, akan membuatnya lebih menderita jika berani menyentuh salah satu keluargaku dan aku belum puas jika mereka masih bisa berkeliaran dengan bebas."
"Kenapa bapak tidak menjebloskan mereka ke penjara dengan banyak tuduhan yang mengikat mereka."
"Belum waktunya, biarkan mereka bebas untuk sesaat sampai dimana dia harus memilih antara dua yaitu mati atau hukuman mati."
Setelah sampai Kelvin hendak pergi ke kamar namun saat bertemu dengan Aura yang senyum-senyum sendiri, Kelvin merasa curiga ditambah lagi tak mendapati Klara.
"Kenapa kamu senyum-senyum? apa ada yang aneh dengan kakak?" tanya Kelvin di persimpangan tangga Antara kamar Kelvin dan Aura.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat dengan cerita istri muda mu itu yang sudah kakak bohongi."
"Apa kau memberitahu kebenarannya?" Aura mengangguk.
"Aku bahkan mengajarinya sesuatu, ya walaupun aku sendiri belum pernah melakukannya tapi aku rasa itu bisa buat kakak makin tambah cinta sama Klara." jelas Aura yang masih saja terus senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Maksudmu, apa yang sudah kamu ajari? kakak harap kamu tidak mengajari dia yang aneh-aneh." Kelvin makin curiga dan segera kembali ke kamar.
Akas yang berpapasan dengan Aura pun ikut bertanya karena rasa penasaran apa yang sudah dikatakan Aura, "Apa kamu sudah mengajari dia sama dengan yang aku katakan?" tanya Akas.
"Sebenarnya aku merasa bersalah dengan kakak, sudah ngerjain istrinya, tapi aku juga ingin melihat kakak bahagia dengan tak terus-terusan hanya memikirkan pekerjaan dan hal yang mempergunakan otaknya, sesekali kakak butuh di manja, dan sekarang Klara lah yang bisa memanjakannya."
"Kamu memang adik durhaka, berani ngerjain kakak iparnya."
"Tapi kak Akas kan yang ngajarin, berarti kakak juga durhaka pada temannya sendiri, kalau aku kasih tahu kakak, aku rasa besok kak Akas di pecat." Canda Aura sambil tertawa bersama Akas, namun tawanya tiba-tiba saja terhenti saat mendapati Sonia yang baru keluar dari kamarnya dan kemungkinan mendengar apa yang dikatakan Aura pada Akas.
Aura tahu jika Sonia menyukai kakaknya dan sayangnya cintanya bertepuk sebelah tangan.
Kelvin membuka pintu kamarnya yang gelap tanpa penerangan, dan tangannya pun segera meraba dinding untuk mencari saklar yang tak jauh dari pintu.
Saat lampu menyala, semuanya terlihat seperti biasa, tak di dapati Klara berada di kamar, "Klara... Apa kamu disini?" panggil Kelvin namun tak ada jawaban dari Klara.
Kelvin memanggil beberapa kali, sambil melepas jas dan juga kemejanya yang sudah bau keringat satu persatu.
"Aku tahu kamu sedang main petak umpet denganku, aku tak akan terpengaruh apapun yang di ajarkan Aura padamu." Ucap Kelvin yang masih tak direspon Klara.
Setelah meletakkan jam tangannya yang baru dilepas dari tangannya. Tiba-tiba tangan mungil memeluknya dari belakang meraba dada bidangnya dengan lembut. Aroma tubuhnya sangat wangi dan segar, tangan mulusnya yang menjalar di dada, membuat jantung Kelvin berdegup lebih kencang.
Kelvin menghentikan pergerakan tangan Klara dengan mencekam dengan satu tangannya. "Apa yang kamu lakukan, jangan memancingku sekarang, atau kau akan menyesal telah menggoda ku malam ini." Klara hanya menggelengkan kepalanya di punggung Kelvin tanpa bicara, Kelvin pun mulai terbawa suasana setelah lama tak merasakan sebuah pelukan hangat, kini dia bisa merasakan kembali pelukan itu, dan dengan sekali tarik kini Klara berada di hadapan Kelvin dan keduanya saling berhadapan dan saling menatap.
_TBC
...Authornya keterlaluan, ceritanya di gantung lagiπ€π€...
__ADS_1
βοΈ Jangan lupa tinggalkan jejak, kalau komennya ramai tak kasih satu part lagi tengah malam.
βοΈπππππβ€οΈπππ