
Menyelamatkan orang yang di sayang memang butuh perjuangan ekstra. Setelah kehilangan jejak Klara, kali ini mobil yang dibawanya kehabisan BBM di tengah jalan yang sepi dan hari sudah semakin sore, ditambah jaringan internet yang hilang lengkap sudah ujiannya, membuat Kelvin sangat kesal dengan kesialan yang dia hadapi.
"Dasar ceroboh, kenapa tadi tidak di cek dan di isi full. Begini kan jadinya kita terdampar di jalan yang jauh dari permukiman." Dengan kesal Kelvin keluar dan membanting pintu mobilnya dengan kasar.
"Kenapa jadi aku yang di salahkan, kamukan yang terlalu buru-buru." Akas tak terima di salahkan balik menyalahkan Kelvin.
"Bagaimana aku gak gegabah, istriku dan adikku menghilang dari pantauanku. Kamu sendiri pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku saat ini." Nada bicara Kelvin mulai meninggi dan pikirannya semakin kacau.
"Oke...oke... aku yang salah, gak bisa siaga. Terus sekarang apa rencanamu? gak mungkin kita balik dengan berjalan kaki, perjalanan kita sudah terlalu jauh."
"Kita akan berjalan ke depan, mudah-mudahan kita menemukan permukiman. Kita tidak bisa bertahan di sini, tempat ini terlalu rawan."
Kelvin dan Akas menyusuri jalan yang masih sunyi dan berharap segera mendapatkan pertolongan.
*****
"Makanlah, kamu butuhkan energi untuk pergi dari sini." Davan memberikan satu mangkuk sup hangat.
"Terimakasih, aku tidak lapar." Klara menolak pemberian Davan dengan sopan dan memalingkan wajahnya tak ingin menatap Davan.
"Kau harus makan, dan besok aku akan mengantarkanmu meninggalkan tempat ini. Jika kamu tetap tinggal di sini, mereka akan berusaha menemukan kamu." Davan masih berusaha membujuk walaupun kesabarannya sudah semakin habis.
"Bagaimana aku bisa pergi, sedangkan adikku masih di sana. Aku harus pulang bersamanya jika tidak mas Kelvin pasti akan marah padaku."
"Apa kamu tahu, rumah itu tidak mudah di tembus, banyak jebakan di sana dan siapapun yang di giring ke rumah itu tak akan pernah keluar hidup-hidup, jadi kecil kemungkinan adikmu akan selamat."
"Kamu jangan bohong. Adikku gak punya musuh, dia sedang dalam pemulihan, jadi siapa yang menginginkan nyawanya. Dan kamu dari mana kamu bisa mengetahui semuanya, atau jangan-jangan kamu bagian dari orang jahat itu ya." Klara mulai curiga, Setelah pikirannya mulai jernih.
__ADS_1
Davan tak menjawab, dia malah pergi setelah di tuduh Klara dan kembali mengunci Klara dalam kamar.
*****
Setelah perjalanan cukup jauh dan hari mulai gelap, Kelvin dan Akas mendapati sebuah mobil yang menabrak pohon.
"Vin, sepertinya aku tak asing dengan mobil itu, Sepertinya aku pernah melihatnya tapi dimana ya?" Mereka pun mendekati mobil tersebut untuk memeriksanya dan baru menyadari saat melihat plat mobil tersebut ternyata mobil milik Kelvin.
Kelvin segera membuka mobil tersebut dan mendapati Aura yang pingsan begitu juga dengan pak sopir.
"Aura, bangun Aura apa yang terjadi. Kenapa kenapa kamu bisa ada di sini?" Kelvin berusaha menyadarkan Aura hingga akhirnya Aura berlahan tersadar. Aura langsung memeluk Kelvin karena ketakutan.
"Tenang Aura, kakak ada di sini." Kelvin mencoba menenangkan Aura dan memeluk tubuhnya agar tetap tenang.
Akas pun tak tinggal diam, dia menanyai Pak sopir yang sudah sadar, "Apa yang sebenarnya terjadi pak? kenapa kalian bisa sampai di sini dan dalam keadaan pingsan." Namun sayang pak sopir itu masih linglung dan belum bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi.
"Dimana Klara? bukankah Klara mengikuti kalian." Kelvin mencari keberadaan klara namun tak di dapatinya, dan tak ada jawaban dari Aura maupun pak sopir.
Dengan terpaksa Kelvin pun menerima saran Akas untuk membawa kembali Aura terlebih dahulu.
Akhirnya Kelvin kembali dan langsung membawa kembali ke rumah.
Saat membuka pintu, bayangan Klara langsung hadir dalam pikiran Kelvin. Klara yang selalu menunggu dirinya pulang tak terlihat lagi.
Kelvin langsung ke kamar dan tak melihat sosok istrinya yang biasanya menemani dirinya ngobrol sebelum tidur.
"Dimana kamu sayang? kenapa malah kamu yang menghilang, aku harap kamu dan anak kita baik-baik saja. Tunggu aku, aku kan segera menjemputmu."
__ADS_1
*****
Davan kembali masuk dan memastikan jika Klara makan, namun Klara yang keras kepala memilih untuk kelaparan dari pada makan dari orang yang tak dikenalnya.
"Dasar keras kepala. Kalau aku jahat, gak bakalan aku memberimu makan, lebih baik aku biarkan kamu mati kelaparan. Sekarang kamu tinggal pilih mau mati di sini atau mati dipangkuan suamimu." Davan mulai hilang kesabaran menghadapi Klara yang keras kepala dan hampir membuatnya kehabisan akal untuk membujuknya.
"Kau, apa kau mendoakan aku cepat mati. Aku belum siap mati, aku masih ingin melahirkan anak-anakku." Klara mengusap perutnya.
"Apa kau hamil?" Davan terkejut saat Klara menganggukkan kepala. Ekspresi Davan pun berubah dan dia mulai berfikir sesuatu.
"Jadi ini yang mereka inginkan, aku sekarang paham."
"Maksudmu, apa yang kamu tahu dan apa hubungannya dengan anakku, jangan bilang kalau mereka mengincar anakku." Klara mulai cemas bercampur takut, jika terjadi sesuatu pada anaknya sebuah penyesalan akan menghantui dirinya.
"Tidak. Tidak papa. Lebih baik kamu makan, apa kamu gak kasihan dengan kedua janinmu, jika kamu tak makan darimana mereka akan mendapatkan nutrisi. Percayalah aku ini bukan orang jahat. Aku disini Karena keadaan yang memaksa, Jika aku bisa pergi dari sini, aku sudah pergi dari dulu."
"Apa kau tawanan mereka?" tanya Klara penasaran sambil menatap Davan.
"Aku tak tahu jalan meninggalkan tempat ini. Salah satu dari mereka adalah orang tuaku. Aku disini menjadi budak agar aku bisa bertahan dan tetap hidup dan yang aku berikan padamu itu makanan dari dapur rumah utama."
"Jahat sekali orang tuamu. aku minta maaf, sempat menuduhmu. Kamu bilang ini makanan dari rumah utama, apa tempat ini terhubung satu sama lain?"
"Dia hanya ingin melindungiku. Sekarang kamu tahu siapa aku, lebih baik makan sekarang, aku akan mencari tahu keberadaan adikmu. Oya, sekarang kamu berada di ruang tersembunyi yang aku bangun, jadi tak akan ada orang yang mengetahui keberadaan kamu." Davan pun pergi meninggalkan Klara untuk mencari tahu, wanita yang di ikuti Klara.
Tanpa Klara sadari ponsel miliknya masih berada ditangan Davan, ia pun menggunakannya untuk mengambil gambar wanita yang Klara ikuti. Selain itu Davan berusaha untuk mengirim pesanan Kel salah satu nomor yang ada di ponsel Klara.
Davan bersusah payah menyelinap agar bisa naik ke atas atap untuk mendapatkan jaringan internet dan bisa mengirimkan pesan penting untuk menyelamatkan Klara, tak perduli siapa yang ia kirimi pesan, Davan hanya berharap orang tersebut percaya dan bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkan Klara sebelum terlambat.
__ADS_1
_Tbc
✔️ jangan lupa tinggalkan jejak