Om Ganteng Mantan Mama

Om Ganteng Mantan Mama
Bab 7


__ADS_3

Keesokan harinya, Elli tengah bersiap untuk bekerja. Pekerjaan paruh waktu yang dilakoninya 5 bulan yang lalu bersama Dinda sahabatnya.


"Oke, udah cantik !" Ia mematut dirinya didepan cermin. Setelah itu ia keluar kamar menuju meja makan.


Terlihat Arcello Putra Fansa atau akrab disapa Ello, saudara kembarnya sedang menatap lekat hp ditangannya sambil mengunyah roti bakarnya.


"Pagi nek !" Selly mencium pipi neneknya yang sedang menuangkan susu di gelasnya.


"Kamu mau berangkat kerja ?" Tanya sang nenek.


"Iya, nanti perkebunan stroberi mau dibuka untuk umum jadinya kami harus ekstra supaya para pengunjung nanti gak merusak kebun !" Jelas Selly.


Cello yang mendengar itu, masa bodoh dan tetap fokus pada Hp-nya.


Saat lulus SMP, si kembar itu pindah ke Indonesia dan tinggal bersama kakek dan neneknya yang katanya kesepian karena anak mereka satu-satunya ikut suaminya.


Kakek dan nenek sempat melarang Elli untuk bekerja di kebun stroberi dikarenakan ia akan mendekati ujian akhir namun Elli terus membujuk keduanya hingga akhirnya diijinkan dengan syarat pelajaran tetap nomor satu.


Ello beruntung bisa masuk kelas akselerasi, menyelesaikan SMA-nya hanya 2 tahun saja hingga kuliah dan sekarang ia terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran disalah satu kampus swasta dengan bantuan beasiswa berkat kecerdasannya.


"Ya udah nek, aku berangkat dulu !" Elli beranjak dari duduknya setelah menghabiskan sarapannya kemudian mencium pipi sang nenek kemudian dengan cepat mencium pipi Ello.


"Elli, ih gelii !" Pekik cowok tampan itu sambil memelototi adiknya yang tertawa terbahak-bahak seraya menuju pintu.


"Hati-hati, bawa motornya pelan-pelan !" Teriak sang nenek.


"Iya nek !" Balas Elli.


Elli segera menuju motor matic-nya dan berlalu dari sana. Mengendarai motor kesayangannya selama 20 menit dan akhirnya tiba diperkebunan stroberi Mahardika.


Ia memarkir motornya disamping motor Dinda. Elli menuju ruang ganti wanita dan mengganti pakaiannya dengan seragam kerjanya yang berwarna merah.


Elli membawa peralatan yang dibutuhkan dan mulai bekerja, membersihkan sekitar pot dan mencabuti rumput liar agar keindahan kebun tetap terjaga.


Musim stroberi yang telah datang hingga membuat pot-pot besar disana ditumbuhi stroberi dengan begitu baiknya. Mata Elli terpaku pada sebuah stroberi yang cukup besar dengan warna begitu menggoda. Ia segera meraih gunting kecil diperalatannya dan menggunting batang kecil itu.


Ia memakan buah itu, rasa manis seketika memenuhi Indra pengecapannya.


"Enak ?" Sebuah suara seketika membuatnya terkejut dan hampir tersedak.


Elli menoleh dan melihat Amel sang bos berkacak pinggang menatapnya. Ia hanya tersenyum cengengesan.


"Rasanya enak banget bos, ini pasti bisa jadi penjualan terbaik dengan kualitas tinggi !" Ucap Elli membuat Amel geleng-geleng kepala.


"Hm, lanjutkan pekerjaanmu dan jangan selalu makan atau tempat ini bangkrut karena mu !" Amel melotot ngeri

__ADS_1


"Iya bos !" Elli mengangguk patuh seraya menatap punggung Amel yang berlalu dari sana.


"Saleh !" Pekik Dinda seraya memeluk Elli dari belakang membuatnya kaget.


"Udin, aku kagetttttttt !" Pekik Elli seraya memegangi dadanya tapi Dinda malah tertawa.


Sementara itu, mobil Bilal sudah berada didepan kebun stroberinya. Sebelum keluar, ia menatap pemandangan didepannya. Pemandangan langit dan bukit itu, selalu sama dan tak pernah bosan memberikan kesan indah nan menyeramkan.


Bilal keluar dari mobilnya melangkah perlahan, membiarkan tubuhnya diterpa angin yang terkadang cukup kencang. Setelah cukup puas menikmati pemandangan didepannya, Bilal melangkah memasuki kebunnya.


Saat ia sudah berada didalam, terlihat jelas tempat yang dulu kecil sekarang terlihat semakin luas dengan pot-pot besar yang banyak dengan stroberi yang terlihat tumbuh subur. Beberapa karyawan begitu fokus dengan pekerjaan masing-masing. Bilal tidak menyangka ia masih mempertahankan kebun ini, dimana alasan utama ia memiliki perkebunan demi seseorang yang telah lepas dari pelukan.


Amel yang hendak masuk ke kantornya saat melihat seseorang memasuki area perkebunan.


"Bos Bilal !" Pekiknya terkejut, sudah berbulan-bulan ia tidak melihat pemilik perkebunan ini.


"Hai Amel, apa kabar ?"


"Saya ba..baik bos !"


"Hm, bagaimana perkebunan selama saya tinggal !"


"Semua dalam kondisi yang sangat baik, anda tenang saja. Oh ya, akan saya ambilkan data keuangan selama beberapa bulan ini dulu bos. Silahkan duduk !" Amel berlaku masuk ke kantornya.


Bilal berjalan-jalan memerhatikan stroberi-stroberi yang berbuah lebat membuatnya tersenyum senang. Ia tidak menyangka kebun kecilnya dulu yang ia bangun untuk seseorang yang begitu ia cintai kini semakin luas dan besar.


"Woi, mingggirrrrrr !"


2 teriakan menggelegar itu seketika membuat Bilal melirik keasal suara, dilihatnya 2 gadis sedang berlari kearahnya dengan kecepatan tinggi dan...


"Mingirrrrrrrrrr !" Teriakan itu terdengar lagi.


Tapi terlambat detik berikutnya gadis paling depan menghantam telak tubuh Bilal yang mematung hingga keduanya terhempas ketanah bersama dengan posisi Elli menimpa tubuh Bilal cukup keras. Erangan kesakitan terdengar dari keduanya.


"Aduh, sakit !" Erang Elli merasakan nyut-nyut ditubuhnya.


Keduanya membuka mata bersamaan dengan dahi mengernyit saat tatapan keduanya terkunci. Elli terpana menatap wajah pria didepannya, begitu juga dengan Bilal. Ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan saat menatap gadis yang sekarang berada diatas tubuhnya. Keduanya mematung dengan tatapan dalam.


Dinda segera menghampiri Elli setelah membuang cacing ditangannya. Merasa bersalah, andai ia tidak menakuti Selly dengan cacing yang ia pungut tadi pasti temannya itu baik-baik saja. Ia membantu gadis itu berdiri dari tubuh pria itu


"Ah, bos Bilal !" Amel panik saat melihat atasannya tergeletak dengan mimik kesakitan.


"Anda baik-baik saja ?" Amel membantu Bilal berdiri.


"Kalian berdua ngapain ?" Amel beralih pada 2 pegawainya dengan mata melotot.

__ADS_1


"Maaf bos, kami gak sengaja menabrak Om itu !" Dinda yang menjawab membuat Amel menghela nafas kasar.


"Maaf bos, mereka ini pekerja paruh waktu disini !" Jelas Amel pada Bilal.


Bilal yang mendengar itu hanya diam seraya menatap tajam kedua gadis yang menunduk didepannya terutama gadis yang menabraknya dengan keras tadi.


"Saya minta maaf pak !" Ucap Elli hati-hati seraya melirik Bilal yang menatap tajam dirinya.


"Kenalkan ini tuan Bilal Mahardika, pemilik perkebunan ini !" Ucap Amel membuat 2 gadis itu saling pandang kaget.


"Perkenalkan bos, yang ini namanya Dinda dan yang ini namanya Selly !" Amel menunjuk gadis itu satu persatu.


"Salam kenal bos !" Ucap keduanya kompak.


"Iya, salam kenal !" Akhirnya Bilal bersuara juga walau masih menatap tajam kedua gadis itu.


"Ng, mari bos saya tunjukkan ruangan baru anda, kebetulan sudah rampung direnovasi. Saya juga akan memperlihatkan data-data keuangan beberapa bulan ini !" Ucap Amel memutus situasi mencekam itu.


Bilal hanya mengangguk dan mengikuti Amel melangkah namun beberapa langkah ia kembali berbalik dan pandangannya bertemu dengan Elli, tatapan keduanya terkunci sesaat. Sesuatu kembali menyentak dada Bilal saat menatap wajah Elli, ia merasa pernah mengenal gadis itu. Elli pun segera menundukkan wajahnya saat bos barunya menatapnya lekat.


Saat Amel dan Bilal hilang, memasuki ruangan bos. Elli dan Dinda seketika tersenyum lega.


"Ya ampyunnnn, bos kita ganteng b.g.t (banget) !" Pekik Dinda pelan.


"B.g.t (banget), jadi semangat untuk bekerja kalau pemandangannya ganteng begitu !" Sahut Elli.


"Betul, betul. Ini memang vitamin yang paling mujarab dalam belajar dan bekerja yaitu pemandangan ganteng !"


Kedua gadis mata keranjang itu terpingkal-pingkal, entah apa yang lucu sehingga keduanya tertawa hingga lupa kalau Elli baru saja jatuh. Bahkan suara keduanya menembus ruangan pribadi Bilal, membuat Amel mendengus kesal mendengarnya.


"Maaf bos, mereka baru lulus SMA jadinya masih butuh arahan yang baik !" Jelas Amel.


Bilal terkekeh sebentar.


"Tidak masalah Mel, aku senang kamu bisa menjadi pemimpin yang pengertian dan bijaksana. Ini yang membuat saya tidak ragu percayakan perkebunan ini selama aku terbang kesana kemari !" Jelas Bilal seraya membuka map yang disodorkan oleh Amel barusan.


Amel tersenyum mendengar itu, pipinya merona menatap sang bos yang fokus dengan deretan angka-angka di dokumen itu.


Setelah merasa semua sesuai, Bilal memutuskan ingin berjalan-jalan sekitar pot-pot stroberinya.


Dan lagi ia melihat wajah serius Elli yang sedang berkutat dengan buah stroberi itu membuat Bilal terpesona sebentar dan ia langsung tersadar sebelum ada yang menyadarinya.


Ia mulai berkeliling, para pekerjanya memberi hormat padanya, disampingnya Amel menjelaskan yang perlu ia jelaskan terkait penjualan juga pembukaan kebun ini untuk umum.


"Hanya saja tolong pastikan pohon buah stroberi jangan sampai rusak, takutnya pengunjung hanya tertarik untuk mendapat foto yang bagus jadi perketat keamanan jika mendapat pengunjung seperti itu !" Jelas Bilal.

__ADS_1


Elli yang melirik Bilal yang perlahan menjauh bersama Amel kini menatap lekat pria itu. Bukan hanya Bilal, Elli pun merasakan perasaan aneh saat menatap lekat sang bos. Ia merasa seolah ini bukan pertemuan pertama, ia merasa sebelumnya mereka telah mengenal laki-laki itu namun entah kapan dan dimana.


__ADS_2