
Suatu sore yang indah kami berdua ayah ku pergi ke kebun pisang, dimana aku bisa menikmati hasil panen dari kebun kami...setelah ayah dan ibu pindah bekerja mereka selalu meluangkan waktu untuk berkebun di sore hari setelah mengajar, di kebun itu banyak jenis sayuran dan buah-buahan. Setiap hari kami lalui bersama dengan penuh semangat sebab kami dapat berkumpul bersama, kadang kami berangkat ke kota tempat kakak ku sekolah ya....untuk menjenguknya. Kata ibu ku "Dira kamu mau makan apa nanti setelah kita sampai?", kata ku "aku mau makan bakso dan es krim ya Mah...", ibu "ia nak....nanti kita beli ya...", rasanya aku bahagia saat itu dan tibalah kakak ku lulus SMA dan waktu itu aku sudah kelas dua SMP tak terasa tiga tahun aku bisa berkumpul bersama mamah dan papah, ketika kakak ku pulang dia menyampaikan hasil ujiannya pada mamah dan papah ya...dengan keterangan lulus, jadi kakak ku mau meneruskan pendidikannya di AKPOL waktu itu...dengan penuh semangat mamah dan papah merencanakan keberangkatan mereka ke kota Palangka Raya untuk mengantar kakak ku melanjutkan cita-citanya, hingga tibalah saat keberangkatan mereka pada hari kamis. Pagi itu aku berangkat mengantar mereka berangkat menuju kota palangkaraya, ibu dan ayah ku meninggalkan pesan pada ku "Dira kamu baik-baik ya di rumah jaga diri baik-baik dan rumah kita jangan tidak dibersihkan dengan baik ya nak!", kata ku " ya mah pah", lalu ayah ku bertanya "cita-cita Dira menjadi apa suatu saat nanti?", kata ku "jadi biara wati Pah...". Ayah ku sempat terdiam mendengar keterangan dari ku waktu itu dan di ajukannya lagi pertanyaan "apa kamu serius dan apa tak ada yang lain nak?, menjadi perawat atau bidan mungkin", kata ku "tidak ayah aku hanya mau menjadi seorang biara wati karena itu cita-cita ku dari aku kelas empat SD, tanpa terkecuali kalau suatu saat nanti aku harus mengurungkan niat ku itu pah", ibu ku juga berkata "mamah ga setuju Dira kalu kamu nantinya hidup membiara dan siapa nanti meneruskan harta warisan mamah dan papah?", kata ku "kan ada mereka kakak dan adik mah...yang nanti meneruskan warisan mamah dan papah". Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mamah dan papah saat itu, lalu kami bersama-sama berjalan menuju tempat keberangkatan mereka, aku sempat memegang erat tangan ibu ku saat dia mau berangkat dan ayah ku sempat menoleh sambil menaiki motornya lalu berkata "jaga diri baik-baik nak...kami akan berangkat hari sabtu dan pulang hari minggu", dengan mata berkaca-kaca ayah ku mengulurkan tangannya pada ku dan aku pun menyambit tangan ayah ku dan berkata "ayah kenapa?", namun dia tak menjawab pertanyaan ku dengan kebingungan ku terhadap sikap yang tak biasa, sebab aku sering di tinggal tapi tak pernah ayah ku hampir menitikkan air mata ketika meninggalkan aku, lalu ibu ku juga mengulurkan tangan dan memeluk ku katanya "nak kamu harus jadi anak yang baik ya...hanya itu harapan kami, jaga diri yang baik jangan pernah mau terjerumus dalam pergaulan yang tak baik nak, kami yakin kamu pasti bisa nak", ibu ku menangis hampir tak bisa melepas pelukannya dan dengan penuh heran bercampur bingung aku melepas kepergian mereka pada hari itu. Malam pun tiba...aku merasa tak nyaman dengan kata-kata terakhir itu hingga tiba hari sabtu aku menunggu mereka pulang di depan rumah, dengan penuh harap aku menunggu sampai sore pun berganti dengan malam saat itu dan pada akhirnya aku pulang ke rumah, gumam ku "mungkin besok mereka pulang" sambil aku berbalik pulang. Pada saat jam 18.00 WIB tiba-tiba ada ketukan di pintu dan aku membuka pintu "eh....ada apa tante?" itu tetangga ku ternata...lalu dia berkata "Dira mereka mamah dan papah mu kecelakaan, ibu mu sudah meninggal dan ayah mu di rumah sakit lalu adik mu juga", bagai di sambar petir hati ku hancur berkeping-keping sampai aku bingung harus berbuat apa saat itu, lalu aku pelan-pelan mengurus rumah mempersiap tempat mayat ayah ibu ku karena kata tetangga ku mayat akan dibawa besoknya ke kediaman kami, setelah setengah jam aku beres-beres datang lagi berita mengatakan kalau ayah ku juga sudah menghembuskan nafas terakhirnya yang juga akan di bawa besoknya bersama dengan ibu ku, aku meraung dan berkata "apa yang kamu inginkan dari ku Tuhan sehingga kau ambil orang tua yang sangat kami hituhkan di dunia ini, kenapa kau beri aku cobaan seberat ini Tuhan apa kau tak tau bagai mana kami bisa meneruskan hidup ini Tuhan, Engakau memang Tuhan yang tak adil pada ku...baru saja aku bisa merasakan berkumpul bersama mereka Engkau pisahkan untuk selamanya", rasa hati yang hancur membiat ku setengah gila waktu itu...besoknya aku menyambut mayat orang tua ku, dan kakak ku tak menemani aku menunggu mayat orang tua kami karena dia harus mengurus adik kami yang sedang sekarat di RS. Doris Silvanus, tak lama setelah kapergian kakak ku datang nenek dan tante keluarga dari ayah mereka menemani aku menjaga mayat orang tua kami, keesokan harinya kami sekeluarga berangkat ke pemakaman untuk menyemayamkan mamah dan papah di tempat peristirahatan terakhirnya. Aku sempat berbicara di pemakaman mereka "mah pah akan aku ingat semua nasehat kalian, aku hanya minta jangan pernah lupakan kami anak-anak mu yang akan berjuang hidup tanpa kalian lagi doakan kami mah pah agar selamat". Mulai hari itu perjuangan kami bertiga di mulai...pandangan hidup yang gelap gulita tak ada bayangan membuat aku merasa takut melangkah namun harus tetap harus di tempuh.