
Hari-hari aku lalui dengan rasa sukur sebab kakek ku selalu menghibur ku dia adalah kakek terbaik sepanjang hidup ku, setiap aku ke ladang pasti aku mencari kakek ku ke hutan jikalau dia tidak ada di pindoknya dan meminta dia segera pulang bersama ku...aku sungguh sayang sekali dengan kakek ku, dia selalu menasehati ku supaya aku bisa menjadi anak yang baik meski orang tua ku sudah tidak ada. Tak terasa sudah hampir berakhir libur sekolah ku dan aku sempat berkata pada kakek ku kalau besok mungkin aku tidak menjenguknya karena aku merasa kurang sehat, benar ternyata besoknya aku sakit demam karena kecapean lalu aku beristirahat di rumah hari itu dan aku berpikir semoga besok aku bisa berangkat ke ladang menjenguk kakek ku tapi ternyata keesokan harinya aku mendapat berita dari om ku ternyata kakek ku sudah meninggal dan sungguh aku tak tau harus berbuat apa hari itu sunguh sakit perasaan ku sebab baru saja aku bisa menenangkan diri setelah sepeninggalan orang tua ku dan kini kakek ku lagi yang pergi menghadap Tuhan, di hati ku berkecamuk bergumam "ya Tuhan kenapa lagi teganya Engkau membuat aku yerluka lagi, apa salah ku Tuhan dan apa yang Engkau inginkan pada ku....batu karang saja bisa runtuh jika diterpa badai terus apa lagi aku Tuhan", mulai hari meninggalnya kakek ku aku sudah tak mau terlalu berbicara pada siapa pun hingga aku merasa bahwa aku mulai gila, dimalam aku menjaga mayat kakek ku aku berbaring di dekat mayatnya sambil menangis aku tak tau pada siapa lagi aku bisa bercerita yentang ku sebab kakek ku sudah tidur dengan tenang, hingga akhirnya aku tertidur di samping mayat kakek ku, keesokan harinya ketika kami memakamkan kakek ku aku merasa hidup ku begitu kosong dan aku hanya bisa pasrah dengan cobaan yang menimpa ku kali ini..., ketika aku pulang kerumah semakin terasa bahwa hidup ku semakin tak berarti sebab kesunyian semakin mencekam dalam batin ku...aku hanya bisa bergumam "ya Tuhan apa yang Engkau inginkan dari hidup ku ini?, sungguh aku tak sanggup....". Tak terasa ternyata libur sekolah ku berakhir dan aku harus turun sekolah dan mengikuti ujian Nasional, saat aku mengerjakan soal hari itu sungguh otak ku sampai tak bisa di pakai untuk berpikir...sungguh tak berfungsi aku pun binggung, ketika aku mencoba untuk menjawab dengan baik selalu terlintas gambar ayah, ibu, kakek ku dan semua kejadian demi kejadian menimpa ku, aku pun berusaha diam dan berdo'a sejenak " ya Tuhan mungkin aku pernah marah pada Mu karena memberi aku cobaan yang berat ini, namun hari ini aku memohon pada mu jangan Engkau membenci aku tetapi bantulah aku agar mampu menjalani hidup ku ke depannya dan mampu melewati ujian Nasional ku dengan sangat baik, tolong dengarkan seluruh do'a dan permohonan ku ini. Amin", aku pun mulai lagi menjawab soal ku yang hanya sekitar 30 menit lagi akan berakhir dan ternyata Tuhan tak meninggalkan ku aku pun bisa mengerjakan semua soal dengan damai hari itu hingga selesai ujian selama tiga hari, kami pun tetap turun sekolah meski ujian sudah selesai...selama kami turun sekolah aku selalu menjadi manusia yang tak punya gairah hingga guru ku pun kesulitan untuk bisa mengembalikan senyum ku seperti dulu, biar bagai mana pun cara mereka tak satu pun yang mampu membuat aku tertawa apa lagi tersenyum, suatu hari guru ku bertanya
"Ra kamu nanti akan bersekolah kemana kalau kamu lulus?"
aku pun menjawab "aku tidak tau juga Pak sebab aku masih binggung, ada kata kakak ku aku akan di jemput untuk sekolah ke Palangkaraya tapi aku juga ingin masuk sekolah SMK jurusan pertanian"
kata guru ku "nanti kalau kamu sudah tau keputusan terakhinya jangan tidak bercerita ya Ra....!"
kata ku "ia pak...."
setelah perbincangan itu aku pun duduk termenung sendiri melihat teman-teman ku yang asik bermain volly, setelah kami pulang di tengah perjalanan sepupu bertanya
"Ra kamu nanti melanjut ke mana?"
jawab ku "aku ga tau Tika....mau kemana sebab kita saja masih belum di nyatakan lulus, nanti aku kasih tau kalau kita betul-betul lulus..."
ditengah perjalanan kami pun singgah di sebuah warung lalu membeli es bersama Rira dan Dendu....mereka berdua itu teman akrab kami berdua dan kami selalu bersama, kami pun berjalan pulang sambil memakan es yang baru kami beli sambil bersenda gurau bersama dan tak terasa ternyata aku sudah sampai dirumah orang tua ku lalu kami pun berpisah, setelag itu segwra aku menganti pakaian dan memasak mie soto banjar kesukaan ku bersama telur ayam....setelah sudah masak aku pun segera memakan mie kesukaan ku lalu mengurus pekerjaan di rumah, aku dengan sigap mengurus semua pekerjaan sendiri denga cepat sebab aku ada janji dengan mereka tadi bahwa kami akan bertemu du rumah kakek ku untuk bersantai bersama, setelah pekerjaan rumah ku selesai aku pun segera berangkat kesana untuk menemui mereka, kami pun membuat rencana kalau kami semua lulus kami akan membuat pesta kecil-kecilan membuat sup ayam kemudian mengundang teman serta tetangga di sekitar, waktu pun semakin tak terasa berlalu begitu juga dengan kebersamaan kami sudah hampir tiba waktunya berakhir, hingga tiba saat paling mendebarkan tiba kami turun kesekolah dan di minta oleh para guru menunggu di aula, dimana perintahnya kami akan di panggil satu per satu ke kantor untuk melihat lulus tidak lulusnya kami, aku pun duduk dengan tenang hari itu menunggu panggilan setelah lama aku menunggu tibalah waktunya nama ku di panggil guru ku
kata guru ku "selanjutnya saya panggil lagi siswa bernama Dira, silahkan untuk masuk ke ruang guru"
akupun beranjak dari tempat duduk lalu menuju ruang guru, sesampainya aku di depan ruangan
__ADS_1
"permisi pak"
kata wali kelas ku "ya masuk Ra....!"
kemudian aku masuk dan guru ku berkata
"tunggu ya....kita lihat apa kamu lulus" sambil jarinya menunjuk di lembaran kelulusan kami mencari nama ku dan "aha....dapat ini dia nama mu dan ternyata kamu tidak lulus Ra"
aku pu terdiam sejenak dengan tenang berkata
"ia pak"
kata guru ku "kamukan tidak lulus...apa kamu punya rencana untuk pindah atau tetap beraekolah di sini?"
guru ku berkata "apa kamu tidak malu bergabung bersama ade kelas mu?"
jawab ku "tidak pak pokonya apa pun yang terjadi saya akan tetap mengulang di sekolah ini"
kata guru ku "kamu memang anak yang kuat Ra mungkin teman mu pun tak akan ada yang sanggup seperti mu, oke kalau begitu coba kamu lihat di kertas ini Ra!"
lalu guru ku menunjukkan nama ku di kertas itu tapi aku tak mau melihat sebab aku percaya pada apa yang dikatakannya, guru ku pun memaksa aku untuk melihat sekali lagi ke kertas yang ditunjuknya
__ADS_1
"ayo Ra lihat dulu!"
aku pun melihat dengan seksama deretan nama ku dan ternyata aku dinyatakan lulus, tak terasa air mata ku jatuh dengan bercucuran tak mau berhenti dan aku tak bisa berbicara waktu itu dan guru ku berbicara "sudah Ra jangan menangis kamu lulus kok, tadi ketika bapak kasih tau kamu tidak lulus kamu tidak menangis tapi kenapa setelah kamu tau kamu lulus malah menangis?"
jawab ku "saya menangis karena bapak tidak jujur dari tadi sama saya....hati saya sakit pak karena itu"
kata wali kelas ku "ia maaf....saya hanya mau melihat keteguhan Ra!"
kata ku "ia pak....saya juga mengucapkan terima kasih pak"
sambil derai air mata ku yang tak kunjung berhenti aku pun bersalaman dengan wali kelas dan kepala sekolah ku pak Kristopel, kata kepala sekolah ku
"Ra kamu harus jadi anak yang berhasil ya!"
aku pun menjawab "ia pak saya janji akan berusaha supaya bisa berhasil"
ketika aku keluar ternyata teman-teman ku sudah menunggu di luar kantor dan memeluk ku, mereka pun berkata "ayo semangat Ra jangan menangis!" kami pun berpelukan bersama mengucapkan salam perpisahan hari itu, kami pun pulang dengan bahagia dan seaampainya di rumah teman dan saudara sepupu ku datang
"Ra kamu masih ingat janji kita untuk masak-masak kalau kita lulus?"
kata ku "ia....aku ingat dan kapan kira-kira kita mulai?"
__ADS_1
kata mereka "ya...hari ini lah Ra...."
kami pun segera berangkat untuk membeli apa saja yang kami butuhkan dan hari itu juga kami memasak sup, lalu mengundang teman serta tetangga untuk makan bersama dalan rangka sukuran kami bersama karena kami berempat bisa lulus bersama dan dapat melanjut sekolah ke SMA, aku sempat termenung "jadi apakah aku suatu saat nanti Tuhan?", apa aku bisa melewatinya ataukah tidak?".