
Semenjak mamah dan papah meningal hidup ku terasa begitu sepi, hati ku pun terasa kosong serta hari-hari ku terasa tak berwarna lagi..."sebuah perjuangan yang berat ini akan di mulai" pikir ku, "ya....Tuhan tolong jangan Engkau lepaskan tangan ku gemgam selalu Tuhan agar aku tak sesat sampai aku dewasa nanti", itu doa yang selalu ada di setiap aku berdoa sebab aku takut sekali menempuh perjalanan hidup yang aku tau pasti itu sangat berat. Setelah pemakaman mamah dan papah aku berangkat ke rumah sakit untuk menemani adik ku untuk operasi kaki dan tangannya yang patah akibat kecelakaan itu, ketika aku bertemu adik ku tak ada sepatah kata pun yang dapat aku ucapkan selain air mata yang mengalir, sehingga ia pun kebingungan melihat aku begitu dan berkata "kakak ada apa kakak menangis? aku baik-baik saja kak", aku hanya bisa menganguk-anguk di depannya dengan derai air mata dan dia berkata lagi "nanti kalau aku sudah sembuh kita menemui mamah dan papah ya ke palangka, nanti kita jalan-jalan....makan es krim bersama kak dan kita pergi ke pameran nanti kak, sebab kata tante mamah dan papah menunggu kita disana dan mereka dalam keadaab baik-baik saja kak, kami kemarin itu kecelakaan setelah kami jalan-jalan ke Bukit Karmel untuk berdoa", seperti di sambar petir perasaan ku mendengar ocehan adik ku saat itu sampai-sampai air mata ku semakin deras mengalir sehingga aku putuskan untuk kelur ruangan tempat adik ku di rawat, aku menangis dengan sekuat tenaga agar aku bisa menghentikan sesak di dada ku agar aku bisa lebih tenang, hingga akhirnya setelah aku dapat menenangkan diri barulah aku masuk dan mampu berbicara dengan baik pada adik ku, setelah aku masuk dia berbicara lagi "kak habis dari mana kok lama?, kak liat kaki ku bengkak kak kata dokter patah" aku pun menjawab "ia de...ga papa besok kita akan mengoperasi kaki mu supaya berhenti bengkak dan kamu nanti bisa berjalan lagi de..." kata adikku "aku takut kak nanti sakit kak" kata ku "jangan takut de....itu ga sakit nanti kakak minta supaya dokternya membius kamu supaya ga terasa sakit" kata ade ku "ia kak tapi kakak janji besok temani aku ya..." kata ku "ok tenang nanti kakak temani asalkan kamu harus berani, harus menjadi anak yang kuat ya....supaya kita bisa cepat pulang dan bertemu mamah dan papah" kata adik ku "asik....nanti aku bisa bertemu mamah dan papah....". Hati ku terasa pilu sebab aku harus berbohong hari itu pada adik ku, rasa tak tega terus membohonginya hingga tiba waktu aku harus mengantar ke ruang operasi keesokan harinya, kata adik ku "ayo kakak harus ikut ya nanti" kata ku " ia..." kami pun di minta oleh perawat agar pergi ke ruang operasi pagi itu, dalam perjalanan kami aku berdoa "Tuhan tolong lindungi adik ku agar operasinya bisa berjalan dengan baik Tuhan, hanya pada mu ku serahkan semuanya Tuhan baik kegelisahan dan ketakutan di hati ini amin", setibanya di depan ruang operasi adik ku sempat menangis karena tidak melihat aku dan aku pun masuk dan berkata "jangan takut ini ada kakak de...qm harus kuat supaya kita bisa bertemu mamah dan papah", setelah itu dia di suntik bius oleh dokter dan sempat ia berkata "kak...aku takut...takut sekali kak..." kata ku "jangan takut ada Tuhan dan kakak yang akan selalu setia menjaga mu di sini de..., ayo pejamlan mata mu pelan-pelan dan katakan pada Tuhan lindungi saya Tuhan", dia pun mulai memejamkan matanya dengan tangan yang masih mengenggam tangan ku dengan erat, setelah beberapa menit kemudian berlahan tangannya mulai ku rasa melemah...lalu aku berkata pada dokter "sudah dokter dia sudah tertidur" kata dokter "oh ia...kami akan segera membawa adik mu ke ruang operasi ya..." kata ku "ia dok...", aku pun keluar ruangan dan duduk di depan ruang operasi dengan air mata aku menangis tersedu-sedu sebab aku terpikir bagai mana aku bisa merawat adik ku tanpa orang tua ku lagi, apa bisa kami bertiga hidup dan bagai mana...aku saja bingung dan setelah lima jam aku menunggu akhirnya dokter keluar dari ruang operasi lalu menyampaikan "operasi sudah selesai dan adik mu baik-baik saja", aku segera menemui adik ku dan ikut mendorong ranjangnya menuju ruang perawatan dan sesampainya kami di ruang perawatan tiba-tiba adik ku tersadar dan berkata "kak....kakak....kamu di mana aku tak bisa melihat kak....mata ku buta....", lalu aku dengan segera memegang tangannya dan berkata " tidak apa-apa de...itu reaksi biusnya belun hilang memang seperti itu nanti kamu akan baik-baik saja setelah beberapa jam ke depan", dia pun terdiam dan berhenti memperlihatkan ketakutan diwajahnya. Keesokan harinya adik ku kuserahkan pada tante ku untuk menemaninya dirunah sakit hingga ia di perbolehkan pulang, sebab aku harus kembali ke desa tempat kami tinggal karena ijin ku di sekolah sudah habis jadi aku harus kembali, waktu aku berangkat aku berkata pada adik ku kalau aku akan pulang dengan menangis dia berkata "aku sendirian dong kak...." aku pun berusaha menhiburnya "ayo....kamukan sudah janji jadi anak yang kuat supaya bisa cepat sembuh dan dapat bertemu mamah papahkan...., jadi jangan menangis lagi ya....kakak pulang karena di panggil guru dari sekolah kakak untuk masuk sekolag lagi..., sebab kakak banyak....sekali ketinggalan pelajaran de..." dia pun mengangguk dan menyetujui lalu aku pun berangkat naik bis bersama tante ipar mamah ku. Kami pun tiba di desa tempat ku tinggal dan aku pun pulang kerumah orang tua ku lalu tante yang menemani ku pun pulang kerumah kakek dan nenek ku, ketika aku masuk ke dalam rumah terasa sekali kalau rumah itu tak seindah dulu lagi lalu aku berbaring ke kamar ku dan menangis setelah itu aku bangkit lagi, pergi ke dapur untuk memasak nasi...di tengah kesendirian ku kakek ku pun datang menemui ku "cu kamu ga usah masak nanti makan ke rumah kakek ya...!" lalu aku berkata "besok saja kek karena aku sudah memasak nasi" kata kakek ku kalau kamu takut tidur ke tempat kakek saja cu" kata ku "ga terima kasih kek tapi aku harus tidur di rumah ini sampai habis empat puluh hari mamah dan papah kek" kata kakek ku "ia...kakek pulang ya nanti ada kakek datang menemani mu di rumah" kata ku " ia kek", setelah mandi dan makan aku pun segera menyalakan lilin karena di agama kristen katolok menyalakan lilin itu wajib sebelum belum empat puluh hari. Di malam yang sunyi itu aku berbaring dengan ditemani lilin kecil yang menyala aku pun tidur dengan tenang setelah aku berdoa pada Tuhan, keesokan harinya aku berangkat ke sekolah kebetulan aku waktu itu baru naik ke kelas tiga SMP, aku pun melewati hari-hari tanpa orang tua dan adik serta kakak ku dengan kekosongan hati aku melewati hari-hari yang membuat aku setengah gila saat itu, jangankan bersenda gurau...tertawa pun aku tak mampu sebab terpaan hidup yang aku tak mengerti namun harus ku jalani.