
Langit yang mendung pagi itu seolah sedang menggoda Sylva agar tidak beranjak dari tempat tidurnya. Namun, awan kehitaman yang menggumpal di langit tidak berhasil membuat Sylva tetap bergelung di balik kehangatan selimut bermotif bunga-bunga yang ia kenakan. Sylva tetap saja bangkit dengan susah payah, kemudian mempersiapkan segala keperluannya dengan tergesa-gesa.
Hari ini adalah hari terakhir libur semester setelah ujian akhir di universitas. Sudah saatnya untuk kembali ke kota, walaupun ia merasa enggan.
Teriakan demi teriakan silih berganti melewati gendang telinga gadis itu, membuatnya meringis dan mengeluh berkali-kali.
“Forest, bergeraklah dengan cepat. Apa kamu mau ketinggalan bus lagi? Ini sudah yang ke sekian ribu kalinya, Nak.” Teriakan ibunya kembali terdengar dari lantai bawah kediamannya.
“Oh, Mom, santailah, bukankah aku bisa terbang!” Sylva balas berteriak, kemudian dengan cepat menuruni anak tangga dua-dua sekaligus dengan membawa ransel. Sesampainya di anak tangga paling bawah, ia melempar ranselnya ke lantai, kemudian duduk dan segera mengenakan sepatu yang telah disiapkan oleh sang ibu.
“Jangan bercanda dan berhentilah memanggilku dengan sebutan itu.” Liliana melempar mantel dan syal secara bergantian dengan kecepatan yang bisa dikatakan luar biasa ke arah Sylva yang tengah sibuk mengikat tali sepatu. “Dan jangan sekalipun membahas tentang terbang, Forest!” tambahnya dengan sengit.
Barang-barang itu lantas berjatuhan di lantai tanpa dipedulikan oleh Sylva. “Ck, berhentilah melempari semua barang-barangku, Mom.”
“Yeah, jika kamu berhenti memanggilku dengan sebutan Mom!”
“Jika Mom juga berhenti memanggilku dengan sebutan Forest,” protes gadis bermata bulat itu. “Aku manusia, bukan hutan! Lagi pula aku memiliki nama yang cantik, Sylva, kenapa Mom malah memanggilku dengan sebutan Forest. Aneh sekali.”
Liliana tertawa. “Baiklah, aku minta maaf,” ujarnya, lalu ia menunduk di hadapan Sylva dan membantu gadis itu mengikat tali sepatunya. “Bukankah keterlaluan, Sayang, jika sampai sekarang kamu tidak bisa mengikat tali sepatu.”
__ADS_1
“Ini sulit. Lagi pula aku memiliki kelebihan lain yang spektakuler, sehingga tidak bisa mengikat tali sepatu adalah bentuk dari keseimbangan yang memang harus kumiliki. Ibu tahu kan di balik kelebihan harus ada kekurangan.” Sylva membela diri.
“Ck, alasan macam apa itu?!” Liliana mendelik ke arah putrinya, lalu melanjutkan, “Dan aku mohon, berhentilah membahas masalah terbang. Plis!”
Sylva terkikik geli melihat mata melotot Liliana. “Baiklah, Bu, dan trims.” Sylva menyentuh tali sepatunya yang telah tersimpul rapi. “Ini cantik.”
“Itu hanya simpul. Cepatlah, sebentar lagi bus akan datang—“ Suara klakson yang berbunyi nyaring memotong perkataan Liliana, membuat wanita anggun yang rambutnya mulai memutih itu berdecap kesal. “Apa ibu bilang,” omelnya, lalu membantu Sylva menjejalkan ponsel dan syalnya ke dalam ransel secara asal.
Setelah semua barangnya telah tertata secara acak-acakkan di dalam ransel, Sylva segera bangkit, menyampirkan mantel di pundak dan memeluk Liliana. “Aku berangkat, Bu.”
“Ya, Hati-hati di jalan, jangan membuat ulah, jangan menarik perhatian dan jangan sembarang berucap. Oh, ya, jangan lupa kabari ibu setelah kamu tiba di sana.” Liliana berkata dengan cepat, wajahnya menyiratkan rasa khawatir yang berlebih.
“Ck, jangan memasang tampang begitu, Bu. Aku jadi sedih.” Sylva mencubit kedua pipi keriput ibunya, kemudian berlari keluar rumah sambil melambai, menuju bus yang terparkir di seberang jalan.
Liliana memandangi Bus yang ditumpangi Sylva hingga bus itu menghilang di tikungan. Bahkan setelah bus itu tak tampak lagi oleh pandangan, ia masih saja menatap jalanan kosong dengan raut wajah khawatir.
Bukan tanpa alasan Liliana merasa khawatir, Sylva adalah gadis dengan sejuta misteri. Sejak ia menemukan gadis itu di tengah hutan dalam keadaan pingsan, sejak saat itulah terjadi banyak keajaiban dalam hidup keluarganya.
Keluarga Liliana memiliki kehidupan yang pas-pasan. Mereka tinggal di sebuah pondok yang terletak di tengah hutan, dan hidup dengan apa yang hutan berikan kepada mereka.
__ADS_1
Mencari kayu bakar di atas gunung adalah kegiatan rutin yang Liliana lakukan saat itu. Sesekali juga Liliana dan putrinya menjadi penunjuk arah bagi para pendaki yang ingin mendaki di pegunungan itu.
Gunung berkabut, adalah sebutan bagi gunung yang terletak di pedalaman Kalimantan. Sebutan yang pas untuk gunung yang tidak terlalu tenar di kalangan para pendaki.
Gunung Berkabut selalu ditutupi kabut bahkan saat cuaca panas sekali pun. Bukan hanya di pagi hari, sejak matahari terbit hingga tenggelam pegunungan itu selalu diselimuti kabut. Tidak heran, jika kemudian warga yang tinggal di wilayah pegunungan itu memberinya nama Gunung Berkabut.
Namun, sekarang Liliana, suami dan juga putrinya tidak lagi tinggal di dalam hutan. Tepat setahun setelah menemukan dan memutuskan untuk merawat Sylva, mereka mampu membeli rumah di pinggir kota yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari kaki Gunung Berkabut. Sungguh hal yang tidak pernah terbayangkan oleh Liliana.
Liliana merasa jika Sylva-lah yang membuat segalanya menjadi mudah bagi dirinya dan keluarga. Terlebih lagi banyak kejadian aneh yang sering terjadi di sekitar gadis itu. Kejadian yang tidak masuk akal dan membuat bulu kuduk merinding.
Liliana selalu merasa khawatir jika keanehan yang Sylva miliki akan diketahui orang banyak. Apa jadinya jika orang-orang tahu? Apakah Sylva akan baik-baik saja atau sebaliknya?!
***
Sylva mengacak-acak isi ranselnya, berusaha menemukan headset bluetooth yang biasa ia kenakan saat sedang dalam perjalanan. Mendengarkan musik dengan suara keras yang langsung menyapa gendang telinganya adalah pelarian yang sempurna dari perasaan aneh yang terus membuatnya merasa sedih.
Sylva tidak banyak mengingat kenangan masa kecilnya. Ibu, ayah dan juga kakaknya mengatakan jika ia pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan cedera di kepala. Cedera itu kemudian membuat Sylva kehilangan ingatan.
Pernah suatu hari ia bertanya pada kakak perempuannya, apakah mereka memiliki saudara laki-laki. Akan tetapi, kakak perempuannya menggeleng dan menegaskan bahwa mereka hanya dua bersaudara, tidak ada anak lelaki dalam keluarga mereka.
__ADS_1
Saat itu dan hingga sekarang, mau tidak mau Sylva memercayai apa yang dikatakan oleh kakak perempuannya. Namun, tetap saja ia merasa ada yang kosong dalam hidupnya. Seolah-olah ada yang pergi dan tak kunjung kembali, yang ia rasa dan ia tahu, ia sangat merindukan seseorang itu. Seseorang yang dirinya sendiri tidak tahu siapa dan anehnya perasaan rindu itu semakin hari semakin menyiksa. Sylva terus merasa rindu, rindu pada entah siapa!
Bersambung ....