
Emmi melangkah dengan cepat menuju kamar Dylan. Sesampainya di kamar Dylan, ia segera mengetuk pintu kamar di hadapannya itu dengan keras. Emmi adalah tipe yang sangat setia kawan, gadis itu akan merasa tersakti jika Sylva tersakiti, akan merasa terganggu jika Sylva diganggu, dan akan merasa sedih jika Sylva sedih. Begitulah hubungannya dengan Sylva.
Saat pertama kali Sylva mengetahui perselingkuhan yang dilakukan oleh Dylan, saat itu Emmi sama sakit hatinya dengan Sylva, sehingga jika Dylan berani muncul dan kembali mendekati Sylva, itu sama saja mencari perkara dengannya juga.
Maka, tidak heran jika sekarang Emmi ingin sekali mengacak-ngacak wajah sok tampan Dylan. Apalagi saat ia tahu bahwa Dylan berada di tempat kejadian ketika Sylva terjatuh dari atap. Bukannya memberitahu dirinya tentang apa yang menimpa, Si Dylan itu malah kabur.
Setelah mengetuk selama beberapa saat, akhirnya pintu terbuka. Dylan muncul dari balik pintu dengan raut wajah ketakutan. “Bukan aku, sungguh bukan aku, dia jatuh sendiri, Emm, aku berusaha menolongnya, tapi—“
Buk!
Emmi tidak banyak berkata-kata dan tidak juga menanti perkataan Dylan berakhir. Gadis itu langsung mendaratkan bogem mentah di wajah Dylan, tepat di matanya.
“Pengecut!” bentak Emmi. “Jangan dekati Sylva lagi. Dasar pengkhianat.” Setelah mengatakan hal itu, Emmi segera berbalik pergi.
Dylan menatap kepergian Emmi dengan bingung. Tadinya ia pikir kedatangan Emmi untuk mengabarkan bahwa Sylva sudah meninggal. Namun, ternyata bukan itu. Gadis pendiam yang pendendam itu hanya memperingatkan dirinya agar tidak mendekati Sylva lagi.
“Itu berarti Sylva selamat. Astaga, bagaimana bisa dia selamat setelah jatuh dari ketinggian? Dia benar-benar aneh,” gumam Dylan, merasa ngeri akan fakta yang baru ia ketahui tentang kekasihnya.
***
Emi memasuki kamar indekosnya dengan bibir yang masih mengeluarkan segala bentuk sumpah serapah terburuk. Sylva hanya memperhatikan sahabatnya itu dari atas ranjang sambil menggelengkan kepala.
“Sialan, tidak tahu diri, dasar buaya murahan. Seharusnya kamu dorong dia dari atas sana, Syl, biar dia saja yang jatuh!” ucap Emmi, menggebu-gebu.
Sylva menghela napas, kemudian meraih botol air mineral dari atas nakas dan melempar botol itu ke arah Emmi yang masih berdiri di tengah ruangan sambil berkacak pinggang.
“Minumlah, tenangkan dirimu,” ujar Sylva.
Emmi menangkap botol air mineral yang Sylva berikan padanya, membuka penutupnya dan segera menghabiskan air mineral di dalamnya.
Sylva berbaring, sebelah tangannya menyentuh liontin yang tergantung di leher, sementara sebelah tangannya lagi memijat pelipis.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Emmi. “jangan khawatirkan Dylan, aku hanya menonjok matanya. Aku harap besok akan ada lebam di sana.”
“Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan Dylan. Bukankah seharusnya aku berterima kasih padamu, karena kamu mewakili keinginanku.” Sylva tersenyum ke arah Emmi. “Sebenarnya aku pun sangat ingin menonjoknya.”
Emmi dan Sylva tertawa. Kemudian Emmi menghampiri Sylva yang masih berbaring dan memilih untuk duduk di tepi ranjang. “Lalu, sekarang apalagi? Kamu terlihat cemas.”
__ADS_1
Sylva bangkit untuk duduk dan menatap Emmi dengan sedih. “Aku memikirkan pria yang menyelamatkanku tadi, Emm. Kenapa dia pergi begitu saja. Seharusnya di tetap tinggal untuk memberikan penjelasan kepadaku, apalagi aku tadi mengatakan bahwa aku mengenalnya. Tapi dia malah pergi begitu saja.”
Emmi menyentuh pundak Sylva dan berkata, “Kamu yakin dia orang yang sama seperti yang selalu muncul di dalam mimpimu?”
Sylva mengangguk. “Aku yakin. Memang wajahnya terlihat tidak jelas, tapi aku yakin, Emm. Sekilas bahkan aku melihat dia mengenakan liontin yang sama persis dengan liontin milikku.” Sylva mulai menangis.
Emmi memeluk sahabatnya yang terlihat begitu sedih. “Tenang saja, jika sekarang dia muncul, maka tidak menutup kemungkinan jika nanti dia pasti akan muncul lagi. Jangan sedih, Syl.”
Sylva menjauhkan tubuh Emmi dari tubuhnya begitu menyadari bahwa ucapan Emmi ada benarnya. Ia memiliki gagasan yang layak untuk diuji coba. “Aku tahu bagaimana cara memanggilnya datang,” ucap Sylva dengan binar bahagia.
“Bagaimana?” tanya Emmi penasaran.
“Gedung tertinggi di Samarinda!” seru Sylva.
“Hah?” Emmi keheranan, karena tiba-tiba saja Sylva menanyakan tentang gedung yang paling tinggi di kota itu.
“Ayolaaah, Emm, pikirkan gedung apa yang paling tinggi yang ada di sini,” desak Sylva.
Emmi menggaruk tengkuknya sambil berpikir. Kemudian gadis itu menjentikkan jari. “Aku tahu. Heem, Hotel Samarinda Global City, hotel itu berjumlah 21 lantai, lalu ada Aston, Ibis dan ... memangnya untuk apa kamu bertanya?” Emmi menatap Sylva dengan tatapan menyelidik.
Sylva tersenyum penuh arti. “Aku akan loncat dari sana.”
***
“Argh, bukan di situ,” gumam Devine, setelah tubuhnya menghilang, lalu beberapa saat kemudian muncul kembali di atas reruntuhan tebing Steruem Alarum.
Kembali Devine memejamkan mata.
Wuuush ....
Menghilang.
Beberapa detik kemudian Devine muncul kembali dengan wajah merah padam karena kesal. “Bukan di sana juga!”
“Bukan itu tempatnya!”
“Bukan juga.”
__ADS_1
“Bukan!”
“Bukan!”
“Argh, Bukan!”
Devine berlutut di atas reruntuhan tebing, ia muak karena setelah berulang kali mencoba untuk kembali ke bumi, tetap saja ia tidak dapat kembali ke tempat di mana gadis misterius tadi berada. Devine bahkan memberikan tanda berupa retakan yang mengeluarkan cahaya pada jalan yang telah ia kunjungi, agar ia tidak kembali ke tempat yang sama.
Padahal sebelumnya, Devine telah berusaha mati-matian menahan keinginannya untuk kembali ke bumi. Jika saja gadis yang baru ditemuinya tidak mengatakan mengenal dirinya, mungkin untuk selamanya ia tidak akan pernah kembali menginjakkan kaki di sana.
Akan tetapi, saat gadis itu mengatakan bahwa si gadis mengenal dirinya, ditambah dengan tatapan sedih di wajah gadis itu membuat Devine tiba-tiba saja memikirkan Milia. ‘Apakah gadis itu adalah Milia?’ batin Devine.
Saat ia bersiap untuk bertanya pada si gadis, tiba-tiba saja tubuhnya seperti ditarik oleh kekuatan besar, dan dalam sekejap ia kembali berada di atas tebing yang ada di dunianya.
***
Pagi menjelang, seluruh penduduk bumi yang bagian negaranya mendapat jatah sinar dari sang surya akan mulai disibukkan dengan berbagai macam aktivitas, mulai dari anak-anak yang pergi bersekolah, para pria yang pergi bekerja dan para wanita yang sibuk berlalu lalang di dapur.
Namun, ada yang membuat pagi ini berbeda. Beberapa pengguna jalan dari berbagai daerah sedang menatap bingung pada retakan yang terdapat di jalan yang biasa mereka lalui. Para penyiar berita mulai disibukkan dengan kameranya untuk merekam secara eksklusif bentuk retakan aneh yang mengeluarkan cahaya kebiruan.
Retakan itu panjang dan memiliki bentuk yang aneh. Tadinya, beberapa orang yang melihatnya mengatakan bahwa retakan itu berbentuk seperti pohon yang memiliki banyak cabang. Namun, ketika beberapa stasiun TV menyiarkannya secara langsung melalui drone, ternyata retakan itu bukanlah berbentuk pohon, tetapi lebih menakjubkan lagi, retakan itu berbentuk sehelai bulu.
Jullian menjatuhkan tas laptop yang dipegangnya. Kedua matanya membulat sempurna. Pria tampan bertubuh tinggi itu lantas memanggil sang istri yang masih sibuk menyiapkan bekal untuknya di dapur.
“Sisilia! Sayang, kemarilah!” teriak Jullian.
Sisilia berlari dan segera memeluk tubuh sang suami dari belakang. “Sudah merindukanku?” tanyanya, dengan manja.
Jullian meraih tangan Sisilia yang melingkar di pinggangnya. Ia kemudian menarik Sisilia agar berdiri di hadapannya. “Aku selalu merindukanmu, Sayang, tapi ada yang lebih penting sekarang.”
“Apa?” Sisilia bingung saat melihat ketegangan di wajah Jullian.
“Lihatlah.” Jullian menunjuk ke arah televisi, di mana tayangannya sedang memperlihatkan pola berbentuk helai bulu dengan cahaya kebiruan.
“Astaga, mungkinkah ...?”
“Ya, itu tanda kami. Ada yang kembali, Sil, ada yang kembali.”
__ADS_1
Bersambung ....