
Devine terperanjat saat lidah api di kedua sayapnya lagi-lagi menyala tanpa sebab. Biasanya lidah api itu hanya akan menyala saat dirinya mengepakkan sayap, atau saat dirinya sedang berada dalam bahaya. Namun, beberapa bulan terakhir lidah api itu selalu menyala sesukanya, bahkan saat ia sedang tertidur sekali pun.
Seraph tampan yang memiliki tatapan dingin dan mematikan itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan menuju reruntuhan tebing Struem Alarum—Tumpukan Sayap—yang merupakan salah satu portal menuju bumi sebelum tebing itu runtuh.
Tebing itu dulunya merupakan tempat pasukan Seraph Tenebris membuang sayap-sayap dari serdadu Seraph Meridiem yang berhasil mereka babat saat terjadi pertempuran.
Setibanya di tebing Struem Alarum, Devine segera duduk di tepi reruntuhan tebing, membiarkan kakinya menggantung di ruang hampa. Dari sana, ia dapat melihat dunia lain yang berbentuk bola dengan warna biru terang.
Perlahan kenangan akan dunia itu kembali merasuki ingatannya. Saat ia memutuskan untuk menyusul Jullian dan Arval yang tersesat di sana, saat ia menghabisi Jullian di atas tebing dan merenggut putri kekasih Jullian yang masih bayi. “Entah apakah kamu masih hidup Milia. Bagaimana keadaanmu,” lirihnya, saat ingatan akan Milia kembali muncul di dalam kepalanya. “Aaaah!” Devine merintih, tiba-tiba saja ia merasakan panas yang luar biasa pada liontin yang menggantung di lehernya. Di saat yang bersamaan lidah api yang berada di tepi sayapnya tiba-tiba saja berkobar, menjilati hampir seluruh bagian sayap kehitaman di tubuhnya. “Apa yang terjadi?”
Devine menyentuh liontin yang masih terasa hangat. Tadinya liontin itu berbentuk bulat sempurna, tetapi ia ingat di hari terakhirnya bersama Milia, gadis kecil itu menarik liontin itu dari lehernya dan tanpa disangka liontin itu pecah.
***
Dylan meraung dan melempar tatapan penuh amarah ke arah Sylva yang berdiri mematung di hadapannya. Tangannya terasa amat panas, seperti baru saja menyentuh api yang membara.
“Apa yang barusan, Syl? Apa yang kamu lakukan pada tanganku, hah?” teriak Dylan.
__ADS_1
“Tidak, tidak ada. Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa—“
“Bohong! Inikah alasannya Emmi sering mengataimu penyihir. Apa karena hal ini?!”
Sylva panik. Ia tidak menyangka jika Dylan akan menebak sejauh itu. Secepat kilat Sylva berbalik dan berlari menuruni tangga. Akan tetapi, Dylan tidak menyerah, pria itu pun berlari menyusul Sylva, ia membutuhkan penjelasan tentang apa yang baru saja terjadi.
Saat menapaki anak tangga menuju lantai bawah, kaki Sylva terpeleset. Gadis itu menjerit, kemudian menutup mata dengan pasrah. Tidak ada cara untuk selamat dari kecelakaan itu, anak tangga yang menuju ke atap itu tidak memiliki pegangan atau pembatas pada tepinya. Sehingga tidak ada tempat bagi Sylva untuk berpegangan guna menghindari tubuhnya meluncur bebas dari ketinggian.
“Sylva, tidak!” Dylan berteriak panik, ia mempercepat langkah kakinya agar dapat menolong Sylva. Namun, terlambat, tubuh kekasihnya telah menghilang ditelan kegelapan malam.
Dylan menghentikan langkah, melihat tubuh Sylva terjatuh dari tangga membuatnya panik. Alih-alih berlari untuk mengetahui keadaan Sylva, pria itu malah berlari menuju kamarnya. Ia tidak ingin ada orang lain yang melihatnya di sana. Toh hubungannya dengan Sylva memang sedang tidak baik beberapa bulan belakangan. Jika ia tetap berada di tempat kejadian, orang-orang pasti akan mencurigainya. Orang-orang akan menuduh dirinyalah yang mendorong Sylva.
“Siapa kamu?” terdengar suara seorang pria di telinga Sylva.
Sylva membuka mata dan mendapati tubuhnya ternyata berada dalam rangkulan seorang pria. Namun, ia tidak dapat melihat wajah pria itu dengan jelas, karena wujud pria itu transparan. Hampir menyerupai bayangan. “Kamu ... apakah kamu malaikat kematian?” tanya Sylva dengan polosnya.
“Bukan!” jawab pria itu, kemudian menjatuhkan tubuh Sylva ke tanah.
__ADS_1
“Aaah, kasar sekali,” desis Sylva, mengelus bokongnya yang terasa sakit karena dilepas begitu saja dari gendongan si pria aneh.
“Di mana ini?” tanya pria itu lagi.
“Di neraka!” jawab Sylva, asal. Ia lalu bangkit berdiri dan memperhatikan sosok yang berdiri di hadapannya.
Sylva memindai tubuh pria itu dengan saksama. Sayap yang besar berwarna hitam, lidah api berwarna merah kebiruan di setiap sisi sayap besarnya, rambut panjang berwarna hitam legam, tubuh berotot yang dibalut jubah hitam tanpa lengan, dan wajah tampan.
Sylva menahan sesak di dadanya. Perlahan kilasan-kilasan yang tidak asing di dalam kepalanya mulai bermunculan. Buah berry hutan, pria berwajah masam dan kepakkan sayap yang diiringi dengan kehangatan. Sylva menangis saat semua ingatan itu muncul. Wajah pria di hadapannya memang tidak dapat ia lihat dengan jelas, tetapi ia tahu siapa pria itu. “Aku tahu siapa kamu. Aku mengingatmu!” lirihnya.
Wuuush ....
Pria itu menghilang, menyisakan debu yang beterbangan di sekitar Sylva dan juga rasa sakit yang menyerang hatinya.
“Kembali! Kembalilah!” Sylva berteriak. Mengayunkan tangannya di udara, berharap dapat menyentuh sosok yang baru saja menghilang dari pandangannya.
“Sylva, apa yang kamu lakukan?”
__ADS_1
"Dia kembali, dia kembali. Ya, Tuhan, aku tidak percaya dia kembali."