
Arval menghampiri Theodor dengan wajah memelas. Ia mendengkus sembari mengelus dada, berharap usahanya kali ini untuk membujuk Theodor tidak sia-sia. Rasanya keterlaluan sekali jika Theodor masih belum memaafkan kesalahan Jullian yang melarikan diri ke bumi. Siapa, sih, yang bisa mengendalikan seseorang yang sedang jatuh cinta?
Kabar terakhir yang Arval dengar dari Zuli, Jullian telah hidup bahagia dengan Sisilia. Akan tetapi Jullian dan Sisilia masih belum menemukan keberadaan Milia, dan hal itu menjadi masalah satu-satunya yang tengah pasangan itu hadapi.
Arval yang sempat menghabiskan waktu bersama dengan Sisilia dan Milia tentu saja masih menyimpan sejuta rasa khawatir, iba dan rasa bersalah karena kepergian Milia. Apalagi kepergian Milia disebabkan oleh Devine, yang sejatinya adalah makhluk sebangsanya. Bukankah paling tidak Theodor harus mengirimnya kembali ke bumi dan mengizinkannya untuk membantu Jullian mencari Milia.
Sebenarnya mudah saja jika ia ingin pergi tanpa sepengetahuan Theodor. Ada Zuli yang bisa membatunya. Namun, Theodor telah memperingatkan Zuli agar tidak bertindak macam-macam tanpa perintah darinya. Peringatan dari Theodor itulah yang membuat Zuli bungkam dan tidak memberi petunjuk apa pun tentang bagaimana cara Jullian pergi dari dunia mereka beberapa tahun yang lalu.
Arval mengacak rambutnya dengan frustrasi saat tiba di hadapan Theodor yang tiba-tiba langsung memunggunginya.
“Ehem, Tuan Theodor, bagaimana kabarmu?” tanya Arval, mencoba untuk berbasa-basi. Akan tetapi, Theodor tidak menghiraukan kehadiran Arval. Salah satu seraphim terkuat di Mundi Luminis itu bahkan melangkah untuk menjauhi sosok Arval.
“Jangan begini, Tuan Theodor. Aku mohon, mari kita bicara. Bagaimanapun juga bayi itu tidak akan terpisah dari ibunya jika bukan karena Devine. Bagaimana bisa Anda tidak melakukan tindakan apa pun untuk mencari keberadaan bayi itu. Sekarang sudah belasan tahun berlalu, dan aku mendengar kabar bahwa Jullian dan Sisilia masih mencari keberadaan bayi itu hingga sekarang—“
“Sudah kuperingatkan berkali-kali padamu wahai serdadu, bahwa aku tidak ingin lagi mendengar kisahmu itu. Aku muak selalu mendengar tentang Jullian si pengkhianat. Jika dia hebat, kenapa tidak dia saja yang mencari anak itu. Kenapa harus aku?” Theodor membentak Arval, wajahnya terlihat merah padam karena menahan amarah.
Arval tidak lantas menjadi takut akan kemarahan Theodor. Ia tahu, jika Theodor masih peduli pada keadaan Jullian, seraph itu hanya tidak menunjukkannya saja. “Theodor, kamulah yang paling paham apa yang sekarang terjadi pada Jullian. Dua tahun setelah dia meninggalkan Mundi Luminis, maka kekuatannya akan menghilang. Dia hanya manusia biasa di sana. Aku mohon, izinkan aku untuk membantunya.” Arval menanggalkan formalitas antara dirinya dan Theodor, masih berusaha membujuk Theodor yang keras kepala.
“Tidak bisa. Saat aku mengizinkanmu pergi ke sana, maka kamu pun akan menghilang seperti Jullian. Lihatlah dia, jatuh cinta pada makhluk bumi dan membuat dirinya lupa akan statusnya sebagai panglima perang. Bagaimana bisa dia melupakan semua itu dan memilih hidup selamanya di sana?!” teriak Theodor.
Arval memejamkan mata, tangannya secara refleks memijat pelipis. Ia tidak tahu harus dengan cara apalagi membujuk Theodor agar seraph itu bisa mengerti akan niatnya. Ia hanya ingin Milia kembali, tidak ada niat lain.
Theodor mendelik ke arah Arval yang sekarang tidak bersuara. Serdadu itu bahkan jatuh berlutut di lantai batu yang dingin, wajahnya terlihat putus asa dan sedih.
“Sepenting apa arti anak itu bagimu?” tanya Theodor. Setelah beberapa saat melihat kepedihan di wajah Arval, ia menjadi tidak tega.
Arval mengangkat wajah, kedua matanya menerawang ke masa lalu, menembus waktu yang telah silam. “Aku melihatnya menangis di keranjang bayi malam itu, malam di mana kami tersesat di sana. Sementara Jullian melihat ibunya menangis di ruangan lain. Ayah bayi itu meninggal saat kami tiba di kediaman mereka, bayi itu masih sangat kecil. Dia mungkin tidak akan merasakan bagaimana rasanya memiliki ayah jika Jullian tidak mengambil alih tubuh ayahnya yang telah meninggal malam itu.” Arval menghentikan ucapannya.
__ADS_1
“Lalu?” tanya Theodor.
“Aku dan Jullian merawatnya setelah Sisilia tahu bahwa suaminya sudah meninggal dan Jullianlah yang mendiami tubuh suaminya. Dia bahkan buang air berkali-kali di pangkuanku saat sedang kugendong.” Arval membuang muka, berusaha menyembunyikan kristal bening yang mulai menumpuk di kelopak matanya.
“Lalu?” Theodor mulai tertarik. Ia duduk di singgasananya dengan menopang dagu pada sebelah tangan dan menatap Arval dengan saksama.
“Saat kejadian nahas itu, Annora dan aku bertarung untuk memaksa Jullian kembali kemari. Kau kan yang memerintahkan Annora untuk menjemput kami?” tanya Arval, sambil melempar tatapan kesal ke arah Theodor.
“Ya, aku. Memang seharusnya kalian kembali, ‘kan? Bukankah saat itu kalian juga sedang mencari cara untuk kembali?” Theodor tidak mau kalah. Ia tidak ingin disalahkan akan kejahatan yang telah Devine lakukan.
“Ya, memang kami sedang mencari jalan untuk kembali. Akan tetapi, kami ingin kembali dengan tenang, bukannya meninggalkan manusia yang tersakiti di sana.” Arval mengusap wajahnya dan kali ini ia tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Air matanya yang begitu bening mulai turun membasahi pipi.
“Aku—“
“Saat itu ....” Arval memotong ucapan Theodor. “Jullian membawa Sisilia dan bayinya pergi menuju tebing. Aku dapat merasakan kepakkan sayap Jullian, walaupun saat itu dia menggunakan sihir terkuatnya agar aku dan Annora tidak dapat menemukan keberadaannya. Lalu, ketika aku tiba di tebing, Jullian sudah terluka parah. Tubuhnya bersimbah darah, sebelah sayapnya hampir terputus dan terdapat beberapa luka tusuk di tubuhnya. Sisilia dengan sabar menguatkan Jullian saat itu, kepala Jullian berada dalam pangkuannya, sementara matanya dengan liar menyapu setiap sudut tebing. Aku tidak tahu apa yang sedang dia cari, tetapi kemudian saat aku dan Annora akan membawa pergi Jullian, dia menahannya. Sisilia memohon dan mengatakan bahwa bayinya dibawa oleh Seraph bersayap hitam, dan kita semua tahu jika yang dimaksud Sisilia adalah Devine.”
“Sudah kubilang berkali-kali. Izinkan aku kembali dan membantu mereka. Jullian tidak akan bisa melakukannya tanpa aku. Ya, dia memang seorang panglima, tapi itu dulu, sekarang dia bukan siapa-siapa. Lagi pula aku sudah berjanji pada Sisilia untuk mencari keberadaan putrinya.”
“Baiklah. Kalau begitu mari kita buat kesepakatan.” Theodor bangkit dari singgasananya kemudian menghampiri Arval. Arval bangkit dan membungkuk hormat di hadapan Theodor.
Sesampainya di hadapan Arval, Theodor mengulurkan tangan ke arah serdadu itu. “Ayo kita buat perjanjian.”
Arval mengangguk. “Perjanjian apa?”
Theodor mendekat dan berbisik di telinga Arval. Mendengar apa yang Theodor katakan, wajah Arval seketika menegang. “tidak mungkin,” gumamnya.
***
__ADS_1
Emmi menyeruak di antara kerumunan, berusaha menjangkau tubuh Sylva yang terlihat kacau sekali.
“Sylva, Sylva ... permisi, maaf, ya, permisi!” Emmi berteriak sambil melewati kerumunan berpiama yang berkumpul di pekarangan, tepat di bawah tangga.
Ia segera merangkul tubuh Sylva begitu tiba di hadapan gadis itu. “Aah, semuanya, maafkan teman saya yang satu ini. Dia memang sering mengalami Somnabulisme. Ehhhm, itu ... sleepwalking, kalian tahu kan tidur sambil berjalan? Dia juga sering mimpi buruk, jadi tolong lupakan saja apa yang kalian lihat barusan. Dia pasti mimpi buruk lagi.” Emmi terkekeh sambil merapikan rambut panjang Sylva yang berantakan dan mengusap air mata di wajah cantik sahabatnya itu.
Saat rombongan penghuni indekos telah membubarkan diri, Emmi lantas menarik tangan Sylva menuju kamar mereka. Dalam perjalanan menuju kamar, sesekali Emmi masih mendengar Sylva terisak.
Sesampainya di kamar, Sylva menyentak genggaman tangan Emmi dari tangannya, lalu kemudian gadis itu jatuh berlutut dan mulai menangis.
Emmi dengan cekatan mengambil sebotol air mineral dan meminta Sylva meminumnya. “Minumlah, Syl, dan tenangkan dirimu. Apa yang sebenarnya terjadi, hah?”
Sylva menyingkirkan botol air mineral itu dari tangannya, kemudian mencengkram lengan Emmi. “Aku tadi melihatnya sekilas, Emm. Dia bahkan menyelamatkanku. Aku sungguh-sungguh melihatnya.”
“Siapa?” tanya Emmi, kebingungan.
“Dia yang selalu kulihat di dalam mimpiku, Emm. Tadinya aku pikir dia tidak nyata, tetapi ternyata dia itu nyata. Dia bahkan menolongku.”
“Menolongmu dari apa tepatnya, Syl?”
Sylva mulai menceritakan apa yang terjadi. Saat ia menghitung bintang di langit, saat Dylan tiba-tiba muncul, saat tangan Dylan terbakar ketika menyentuhnya, lalu saat ia terjatuh dari tangga dan berakhir dalam dekapan sosok misterius.
Emmi mendengarkan dengan penuh perhatian, tetapi yang menjadi fokusnya bukanlah sosok misterius yang dikatakan Sylva, melainkan Dylan. Ketika nama Dylan disebut, ia lantas menjadi kesal.
Belum lagi Sylva selesai dengan ceritanya. Emmi telah bangkit dan berjalan keluar dari kamar. “Dylaaaan! Sialan kamu!”
Bersambung ....
__ADS_1