
Emmi membantu Sylva untuk duduk dan segera memberikan sebotol air mineral kepada sahabatnya itu. Sementara Sylva menikmati tegukan demi tegukan, Emmi mengusap pipi Sylva yang basah.
“Trims, Emm.” Sylva menyerahkan botol air mineral kepada Emmi, kemudian melanjutkan kegiatan Emmi yang terjeda—mengusap pipinya yang basah karena air mata. “Aku menangis lagi,” desahnya.
“Dengan tersedu-sedu.” Emmi menambahkan.
Sylva tertawa kemudian mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. “Tidak ada yang lihat, ‘kan?”
Emmi menggeleng. “Setelah mereka mengangkatmu ke sini, segera aku usir mereka semua.”
Sylva kembali tertawa. “Trims. Ayo kita keluar. Aku tidak terlalu suka berada di ruang kesehatan.”
Emmi mengangguk dan mengikuti langkah Sylva menuju kelasnya. “Kamu memimpikannya lagi? Hmm, pria itu.” Emmi bertanya dengan ragu.
“Ya, begitulah. Aku tahu ini terdengar aneh. Tapi aku sangat merindukannya walau aku tidak tahu dia itu siapa.” Air mata kembali menetes dari kedua mata bulat Sylva. Emmi merangkul tubuh Sylva dan menepuknya, berusaha untuk menenangkan sahabatnya yang selalu bertingkah seperti itu setiap kali hilang kesadaran. Belakangan ini Sylva memang kerap kali tidak sadarkan diri.
Emmi masih ingat ketika pertama kali Sylva tidak sadarkan diri. Sylva menangis tersedu-sedu dengan mata yang masih terpejam. Suara lirihnya memohon kepada seseorang agar tidak meninggalkannya. Terkadang Sylva malah cekikikan dan merengek meminta untuk digendong. Siapa pun yang selalu hadir di alam bawah sadar Sylva, Emmi tahu jika seseorang itu pasti sangat berarti bagi Sylva.
***
Flafian memandangi dari kejauhan sosok yang sejak tadi mengayunkan pedang ke sembarang arah. Gerakannya luwes, cepat dan tepat walau terlihat tidak beraturan.
Debu terangkat di sekitar sosok itu akibat kepakkan sayap yang menyapu tanah.
“Argh!” sosok itu berteriak dan merebahkan tubuh gagahnya di atas tanah.
Flafian menghampiri sosok itu dengan pedang yang terarah ke depan. “Bangun dan mari kita bertarung, Devine!” seru Flafian, begitu ia tiba di hadapan Devine.
__ADS_1
Devine bangkit dengan menancapkan ujung pedangnya pada tanah. “Pergilah, Flafian, aku sedang tidak ingin bercanda.”
Flafian mengangkat sebelah alisnya. “Sejak kapan kita mulai bercanda? Kita tidak pernah bercanda, Devine. Hidup di tempat sesuram ini membuat kita semua lupa bagaimana caranya bercanda.”
Devine menghela napas dengan berat. Apa yang dikatakan Flafian benar, bertahan hidup sebagai Seraph buangan yang diasingkan di ujung Mundi Luminis tentu saja membuat segalanya berbeda. Jika klan Seraph Meridem hidup di pedesaan hingga pusat kota, berbeda dengan klan Seraph Tenebris yang dibiarkan membusuk di Hutan Hitam. Tempat yang terlalu suram untuk bisa menciptakan sebuah senyum apalagi kelakar.
Hampir tidak pernah terdengar suara tawa di Hutan Hitam, mungkin karena jumlah mereka memang tidak sebanyak klan Seraph Meridiem dan juga perlu diingat, hampir tidak ada anak kecil di klan Tenebris. Seperti hilangnya minat mereka untuk bercanda, klan Tenebris pun kehilangan minat untuk bercinta.
Lagi pula siapa yang ingin membesarkan seorang anak di tempat yang sangat suram. Jika si anak beranjak dewasa, pasti anak itu akan memilih untuk tidak dilahirkan.
“Sekarang cepat bangun dan salurkan amarahmu dengan cara yang benar, Devine!” Flafian kembali berseru.
Devine tersenyum miring kemudian mulai mengayunkan pedangnya ke arah Flafian. Flafian adalah lawan yang tepat jika ia ingin menguji kemampuan, seperti halnya jika ia ingin melampiaskan amarah, maka bertarung dengan Flafian adalah keputusan yang tepat.
Devine mengeluarkan semua emosi yang selama ini ia pendam. Perasaan aneh yang menekan dadanya hingga terasa amat sakit. Sakit yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan, sakit yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara menyingkirkan rasa sakit itu, sakit yang selalu membuatnya memimpikan masa lalu yang sebenarnya tidak terlalu penting baginya. Namun, ia sadar jika masa lalu itulah yang menyebabkan semua rasa sakit aneh di dalam dadanya. Masa lalu yang ia habiskan selama hampir lima tahun bersama dengan makhluk kecil dari dunia lain. Makhluk yang seharusnya ia habisi hari itu, tetapi dengan bodohnya ia malah membuang-buang waktu untuk merawat dan membesarkan makhluk itu. Ia bahkan memberi tanda di tubuh makhluk itu saat ia memutuskan untuk meninggalkannya.
Sekarang, Devine tahu jika dirinya merindukan makhluk itu lebih dari yang seharusnya. Ia merindukan makhluk bernama manusia itu. Ia merindukan Milia.
***
Sylva menaiki anak tangga satu per satu menuju atap. Indekos tempatnya tinggal memang memiliki ruang terbuka di bagian atap yang digunakan para penghuni untuk menjemur pakaian. Akan tetapi, pada malam hari tidak ada pakaian di sana, membuat atap itu menjadi tempat favorit Sylva untuk menghabiskan malam jika ia tidak dapat tertidur.
Sylva duduk sambil menekuk lutut di lantai beralaskan tikar. Kepalanya mendongak menatap langit, berusaha menghitung bintang yang ada di sana. Ia tahu apa yang dilakukannya sekarang adalah hal yang sia-sia, tetapi berbaring di kamar sambil menghitung jumlah cicak yang lewat di langit-langit kamar pun bukankah sama sia-sianya.
Ia menghela napas, kemudian membaringkan tubuh. Tanpa sadar sebelah tangannya meraih liontin yang selama ini selalu menggantung di lehernya. Liontin itu berat, berbentuk aneh dan terasa hangat. Ia yakin gadis mana pun tidak ada yang ingin memakai liontin seperti itu, tetapi sejak kecil liontin itu sudah menggantung di sana, menggantung indah pada sebuah rantai berbahan titanium yang melingkari leher jenjangnya. Sylva pernah menanyakan perihal liontin itu pada ibunya, tetapi ibunya hanya mengatakan ‘Anggap saja sebagai jimat keberuntunganmu.’
Sylva setuju, dirinya memang selalu beruntung. Kecuali malam ini.
__ADS_1
“Belum tidur?” Sebuah suara mengejutkan Sylva. Ia menoleh untuk tersenyum kepada tamu tak diundang. Tamu yang menjadi alasan dirinya selalu memasang tampang masam tanpa disengaja begitu kembali ke kota.
“Belum.” Sylva memasang senyum paling manis dan paling palsu yang bisa diciptakannya. Gadis itu harus berulang kali meyakinkan diri sendiri, bahwa ia tidak boleh terlihat sedih. Ia hanya boleh terlihat jahat atau bahagia, hanya itulah pilihannya. Tidak boleh sedih!
“Aku baru tiba sore tadi. Aku tidak tahu jika kamu sudah tiba terlebih dahulu.” Dylan duduk di samping Sylva dan melempar tatapan penuh arti ke arah gadis itu.
Sylva bangkit dari posisi berbaringnya, kemudian menggeser duduknya. Berusaha menjaga jarak dari Dylan.
“Sylva, plis,” lirih Dylan, melihat sikap Sylva yang tidak bersahabat terhadapnya. “Belum cukupkah permintaan maafku—“
“Bisakah kita tidak membahas hal yang itu-itu lagi?” Sylva berkata dengan sengit.
“Oke, maaf, tapi mau sampai kapan kamu bersikap dingin seperti ini? Hubungan kita tidak akan ada kemajuan jika—“
Sylva mengangkat tangan ke udara, meminta Dylan untuk menghentikan ucapannya. “Hubungan kita yang mana maksudmu? Sejak pengkhianatan itu terungkap, apa kamu masih berharap bahwa hubungan kita akan baik-baik saja? Tidak, Lan, aku tidak sebaik itu.” Sylva bangkit berdiri dan berbalik pergi.
Berpura-pura tersenyum di hadapan Dylan memang bukan perkara yang sulit, dengan catatan tidak lebih dari lima menit.
Akan tetapi, Dylan memilih untuk duduk di sampingnya dan mengobrol panjang lebar tentang kelangsungan hubungan mereka, mana mungkin ia bisa bertahan. Memasang senyum palsu itu dalam lima menit saja rasanya sudah sangat menyakitkan.
Dylan segera bangkit dan menyusul Sylva, dengan kasar ia menarik lengan gadis itu dan menarik tubuh Sylva ke arahnya. Ia sangat mencintai Sylva, tidak peduli akan kekhilafan yang pernah ia lakukan, toh Sylva tetaplah segalanya. “Jangan begini, Syl, aku tidak ingin kehilangan dirimu.” Dylan memohon dengan sorot mata mengerikan—Liar dan sedikit memaksa. Bahkan Sylva dapat merasakan nyeri pada lengannya, di mana Dylan mencengkeram lengannya dengan kuat, menancapkan kuku-kuku tajamnya ke lengan kurus Sylva.
“Lepas, Dylan, kamu gila, ya!” Sylva berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dylan dari lengannya, tetapi percuma saja, Dylan malah semakin liar.
“Aku tidak akan melepaskanmu, sampai kapan pun tidak akan pernah ... argh! Argh, sial, sial!” Dylan mengibaskan kedua telapak tangannya yang sekarang terlihat kemerahan, seperti daging yang baru saja dicelupkan ke dalam air panas.
Sylva tahu semua itu pasti akan terjadi. Hal seperti itu selalu terjadi setiap ia merasa ketakutan. Di saat yang bersamaan, ia juga merasakan rasa panas di bagian tengkuknya. Di mana yang ia tahu terdapat tanda berbentuk bulu yang berwarna hitam pekat di sana.
__ADS_1
Bersambung ....