
Sylva mengetuk kaca jendela bus dengan keras untuk menghentikan laju bus yang sedang ia tumpangi.
Begitu mendengar ketukan dari salah sorang penumpang, sopir bus lantas melambatkan laju kendaraannya lalu kemudian berhenti di seberang sebuah bangunan besar bertingkat.
Sylva bangkit dari kursinya dan menarik ranselnya secara asal menyusuri deretan kursi penumpang lain menuju pintu keluar. Setelah mengucapkan terima kasih, Sylva segera keluar dari bus.
Kepulan asap hitam dari sebuah kendaraan bermotor menyambut kedatangannya. Sylva mengibaskan tangan di hadapan wajah untuk menghalau kepulan asap yang membuatnya terbatuk. “Inilah alasan kenapa aku lebih suka tinggal di desa,” gumamnya.
Dengan wajah masam gadis itu mengeluarkan syal dari dalam ransel dan melilitkannya di sekitar leher.
“Hai, Penyihir! I miss you!” Teriakan seorang gadis yang berdiri di balkon lantai dua sebuah bangunan besar di seberang jalan terbawa angin hingga sampai di telinga Sylva.
Sylva yang masih berada di seberang jalan seketika cemberut mendengar kata “Penyihir!” Jujur saja, ia lebih senang dijuluki Forest daripada penyihir.
“Cepatlah menyeberang, Penyihir.” Gadis yang berdiri di balkon itu kembali berteriak sambil melambai dengan riang ke arah Sylva.
Sylva mendengkus kesal. “Ingin rasanya kuubah dia menjadi katak panuan!” gumam Sylva, kemudian ia melangkah menuju bangunan besar tersebut.
Melihat Sylva menyeberang jalan, gadis yang berdiri di balkon itu segera berlari menuju tangga yang ada di samping bangunan utama. Sesampainya di pekarangan, ia segera menuju pagar dan membuka pagar tersebut dengan tergesa-gesa.
Buk!
Sebuah rangkulan membuat Sylva terkejut, hampir saja ia terjatuh jika tidak segera berpegangan pada tralis pagar di hadapannya. “Oh, I miss you, Witch!”
Sylva mendorong tubuh gadis bernama Emmi itu dan mendaratkan cubitan di pinggang Emmi. “Sekali lagi kamu sebut aku witch, maka aku tidak akan segan-segan mengubahmu menjadi katak.”
Emmi tertawa. “Tidak terlalu buruk. Aku hanya harus menemukan pangeran yang dapat mengubahku menjadi manusia kembali.”
__ADS_1
Sylva memasang tampang licik dan berkata, “Akan kutambahkan tutul-tutul kemerahan yang mengerikan di tubuh katak itu. Sehingga tidak akan ada yang sudi untuk berdekatan dengan si katak. Dengan begitu, maka kamu tidak akan menemukan seorang pangeran. Siapa yang mau mendekat dengan katak yang memiliki penyakit kulit.” Setelah mengatakan hal itu, Sylva segera berlari menuju tangga yang mengarahkannya ke lantai dua, tempat di mana kamarnya berada.
“Sylva, kamu jahaaaat!” teriak Emmi, menyusul langkah seribu Sylva. “Tunggu aku! Jangan curang dan jangan pakai kekuatan!”
Sylva hanya tertawa. Ia senang sekali menjahili Emmi, apalagi jika mereka hanya berdua. Dulu sekali, saat ia dan Emmi masih sama-sama berstatus sebagai mahasiswa baru di universitas, Emmi terlihat sangat lemah. Bukan lemah fisik, hanya saja sahabatnya itu terlihat sangat penakut sehingga Emmi selalu menjadi target bully oleh mahasiswa dari tingkatan yang lebih tinggi.
Sylva yang tidak tahan dengan sifat pendiam dan terlalu penurut dari Emmi, akhirnya bertindak nekat. Saat di perpustakaan, Sylva dengan sengaja meniupkan udara dari mulutnya yang membuat beberapa kakak tingkat yang sedang sibuk mengerjai Emmi seketika berjatuhan. Mudah bagi Sylva melakukannya, hanya butuh konsentrasi, niat dan lakukan.
Sylva sendiri tidak tahu dari mana kemampuan itu ia dapatkan. Ia hanya pernah melakukannya tanpa sengaja. Saat masih kecil tanpa sengaja Anna—kakaknya—membuat dapur mereka terbakar. Saat itu kedua orang tua mereka sedang pergi mencari kayu bakar di gunung. Anna sibuk mengangkat air dari sungai untuk memadamkan api yang berkobar.
Sylva ingin sekali membantu, tetapi badannya yang kecil pasti tidak akan sanggup untuk mengangkat seember air. Maka dengan bodohnya dan penuh percaya diri, ia meniup kobaran api itu. Anehnya lagi api yang membara itu benar-benar padam saat itu juga.
Anna membelalak saat melihat kobaran api yang tiba-tiba padam karena tiupan yang dilakukan Sylva. Bahkan Anna saat itu berniat untuk kembali membakar dapur dan meminta Sylva kembali melakukan tiupan ajaibnya hanya untuk memastikan apakah benar api yang berkobar itu padam karena satu tiupan kecil dari sang adik.
Untunglah ayah dan ibu mereka segera tiba, jika tidak, Anna pasti akan melaksanakan niatnya tanpa ragu. Sejak saat itu jugalah, Sylva sering kali meniupi pepohonan di tepi hutan hanya untuk melihat pepohonan itu bergerak.
***
Semester baru membawa suasana yang berbeda bagi Emmi dan Sylva. Kali ini mereka akan memasuki gerbang kampus sebagai mahasiswi semester tiga, yang artinya akan ada banyak mahasiswa baru yang bisa mereka takut-takuti. Tentu saja menakut-nakuti mahasiswa baru adalah ide Emmi, “Pembalasan dendam!” itu katanya.
Namun, Sylva sama sekali tidak berminat dengan ide sahabatnya itu. “Kalau mahasiswanya tampan, apa masih niat balas dendamnya?” goda Sylva.
“Tentu. Niat ini tidak akan goyah. Kamu tahu sendiri kan bagaimana aku dikerjai saat masih duduk di semester satu. Traumanya itu sampai sekarang, Syl!” ujar Emmi, dengan nada yang menggebu-gebu.
“Terus, kamu mau menciptakan trauma yang sama pada orang-orang yang tidak bersalah. Kok egois sekali, sih?” Sylva mencubit pinggang Emmi.
Gadis berkulit kecokelatan dan bermata sendu itu menghentikan langkah. Ia terdiam beberapa saat, terlihat sedang memikirkan sesuatu yang serius. Perkataan Sylva yang memang selalu bijak itu menghantamnya dan membuatnya menangis.
__ADS_1
“Why?” tanya Sylva. “Kenapa nangis?” Sylva menepuk-nepuk pundak Emmi.
“Benar apa yang kamu bilang, Syl. Aku kok egois sekali, ya,” lirihnya dengan air mata berlinang.
Sylva tertawa. Emmi memang sangat perasa, hatinya selembut kapas sehingga ia mudah sekali menangis. “Cup, cup, sudahlah, yang terpenting kamu segera sadar sebelum melakukannya, ya, 'kan?” ujar Sylva, merangkul tubuh sahabatnya itu dan lanjut menepuk lembut punggungnya.
Emmi membalas rangkulan Sylva, menenggelamkan wajahnya di pundak Sylva. Akan tetapi, semakin lama Emmi merasakan tubuh Sylva semakin berat. Ia mulai mengguncang tubuh sahabatnya itu dan menyerukan namanya. Namun, tidak ada respon. Emmi panik dan mulai berteriak meminta tolong. “Oh, Tuhan, jangan lagi!”
***
Seorang gadis kecil tersenyum penuh harap di hadapan seorang pria. Pria yang sejak ingatan si gadis dimulai selalu ada di sisinya, memandangnya dengan galak dan terkadang membentaknya. Namun, si gadis tahu jika pria itu sangat menyayanginya.
Gadis kecil itu tidak tahu siapa nama pria itu, ia hanya menyebutnya dengan julukan kakak. Julukan yang sering ia dengar dari anak-anak kecil yang tinggal di tepi hutan untuk anak-anak yang tubuhnya lebih besar.
Wajah pria itu tampan, walau selalu terlihat masam. Si gadis kecil tidak pernah melihat si pria tersenyum. Hal itu membuat si gadis kecil senang mengerjainya hingga wajah pria itu terlihat semakin masam.
Seandainnya saja si gadis kecil tidak pernah bertemu dengan manusia lain, mungkin ia akan menganggap bahwa memang seperti itulah pengaturan mimik wajah pada orang dewasa. Namun, saat sempat keluar dari hutan dan melihat beberapa anak sebayanya dan juga orang dewasa yang saling tersenyum satu sama lain, membuatnya ingin melihat ekspresi seperti itu juga di wajah si pria tampan. Akan tetapi, ia tahu itu semua tidak akan pernah terjadi.
“Ambil ini dan makanlah. Cepatlah tumbuh tinggi agar aku dapat segera pergi. Merepotkan sekali!” pria itu meletakkan segenggam buah berry hutan di telapak tangan gadis kecil yang langsung dilahap tanpa menunggu perintah selanjutnya.
“Kakak mau pergi? Ke mana?” tanya si gadis kecil.
“Bukan urusanmu!”
Sylva terbangun. Guncangan pada tubuhnya membuat kilasan-kilasan di dalam kepalanya lenyap seketika. Seperti biasa, saat dirinya hilang kesadaran, kilasan-kilasan tentang masa kecilnya—mungkin, ia tidak terlalu yakin—selalu menghampiri. Sylva tidak tahu apa semua itu hanya mimpi atau memang pernah terjadi di dalam hidupnya. Jika memang semua itu benar, kenapa kedua orang tuanya dan juga Anna mengatakan bahwa tidak ada saudara laki-laki yang ia miliki. Lalu siapa pria itu? Pria tampan yang memiliki tatapan mata tajam, wajah masam, tapi selalu dirindukannya.
Bersambung ....
__ADS_1