OMG 2

OMG 2
SELEMBUT KASIH ZULFA


__ADS_3

Zulfa Khumairah adalah anak tunggal di keluarganya. Gadis manis berusia 22 tahun itu bekerja sebagai pramuniaga di sebuah toko kue di daerah Bandung. Ia sudah bekerja selama hampir tiga tahun. Ia mulai bekerja sejak lulus dari SMA.


Harun, Ayah Zulfa, sudah lama meninggal dunia. Ibunya, Alifah, sudah menikah lagi dengan seorang duda beranak dua. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.


Setelah lulus SMA, Zulfa dititipkan Alifah untuk tinggal bersama neneknya di Bandung. Karwati adalah ibu kandung dari mendiang ayah Zulfa. Kemudian di kota itulah Zulfa hidup dan mulai bekerja.


Setelah sibuk dengan keluarga barunya, hubungan Alifah dengan Zulfa mulai merenggang. Walaupun yang namanya hubungan darah tidak akan pernah ada batasnya. Saat sedang kesepian, Zulfa merasa seperti gadis yatim piatu yang terbuang dan tersisihkan dari keluarganya. Namun, ia berusaha untuk tetap tegar dan bekerja keras untuk menafkahi diri sendiri dan juga neneknya.


"Neng, sudah mau berangkat kerja?" tanya Karwati.


"Iya, Nek."


"Sudah sarapan, belum?"


"Neng enggak sarapan, Nek. Puasa."


"O ya sudah," Karwati tersenyum.


Zulfa kemudian meraih telapak tangan Karwati dan menciumnya.


"Neng berangkat, Nek. Ini ada sedikit uang buat Nenek. Takut nanti Nenek mau beli apa-apa."


Zulfa memberikan selembar uang kertas berwarna biru.


"Makasih, Neng. Tapi, uang yang kemarin juga masih ada."


Sambil menyunggingkan senyum, Zulfa kemudian beranjak meninggalkan Karwati.


"Asalamualaikum ...."

__ADS_1


Karwati ikut tersenyum dan membalas ucapan salam Zulfa. Ia kemudian mendoakan cucunya agar aktivitas hari ini diberikan kelancaran oleh Yang Maha Kuasa.


...***...


Zulfa adalah gadis muda yang berparas manis dan berperilaku anggun. Kuatnya pengetahuan agama yang sejak kecil ditanamkan oleh mendiang ayahnya, masih ia jaga hingga dewasa.


Karena kebaikan dan rasa pedulinya, Zulfa sangat disukai oleh orang-orang yang mengenalnya. Tak heran jika banyak teman-teman yang ingin dekat dengannya. Baik itu teman-teman di tempatnya bekerja, hingga kawan lama saat masih SMA.


Seringkali, teman-teman Zulfa sengaja mencarinya ntuk sekedar bercerita dan berkeluh kesah. Karena ia terkenal jujur dan pandai menjaga rahasia. Bila beruntung, Zulfa bisa membantu memberikan solusi sebuah masalah. Namun, bila tidak menemukan solusi, paling tidak, ia bisa jadi teman untuk berbagi. Ya, ia adalah pendengar yang baik dan sabar.


"Ulfa, kamu hari ini puasa, kan?" tanya Jihan, rekan kerja Zulfa.


"Iya. Insyaallah."


"Nanti buka puasa ikut aku, ya ...."


"Emang kamu mau ajak aku kemana, Jihan?" Zulfa penasaran.


"Ih, Jihan! Bikin penasaran."


...***...


Sekitar tujuh menit sebelum azan Magrib, Jihan mengajak Zulfa ke sebuah kedai di dekat toko kue tempat mereka bekerja. Kedai ini menyediakan menu mi ayam dan bakso.


Setelah semua menu yang dipesan tersaji di meja, waktu magrib pun tiba ....


"Alhamdulillah ...."


"Ayo dimakan!" titah Jihan sambil tersenyum, "Aku yang traktir," sambungnya.

__ADS_1


"Tumben banget kamu. Tapi, makasih, ya ...."


Jihan kembali tertawa. Kulit wajahnya mulai merona.


"Kamu kenapa? Lagi bahagia, ya?" tanya Zulfa.


"Ulfa, tahu, enggak? Solusi yang kamu bilang kemarin ... itu berhasil, lho!" ungkap Jihan dengan raut wajah yang ceria.


"Yang mana? Emangnya aku ngasih solusi apa?"


"Ih! Itu, lho ..." Jihan menelan makanannya, lalu melanjutkan ucapannya, "Yang tentang Kak Irwan."


"O, Kak Irwan ..." Zulfa berhasil mengingat, "Terus gimana?"


"Ya, kemarin aku udah beranikan diri bertanya sama dia ...."


"Terus?"


"Terus aku dapat undangan ke acara pengajian," jawab Jihan sambil menunjukkan sebuah gambar di layar ponselnya.


"Ini malam Minggu, kan?" tanya Zulfa setelah melihat gambar itu.


"Iya. Nanti kamu ikut aku ke sana, ya? Kita berangkat bareng ke pengajian."


"Hm ... Nanti, deh ... Aku liat jadwal dulu."


"Usahain, lah! Please ... Aku malu kalau enggak ada temen."


"Iya. Insyaallah."

__ADS_1


Tak terasa, satu porsi mi ayam bakso sudah berpindah ke dalam perut mereka.


...***...


__ADS_2