Pacar? Bukan... Temen? Bukan...

Pacar? Bukan... Temen? Bukan...
Teman


__ADS_3

Sore hari setelah jam istirahat di bagian pemasaran


Para karyawan bagian itu menjadi sangat sibuk di karena kan ulang tahun Pak Agus yang mereka baru sadari. Di dekat jendela sedang ada yang sibuk memasang hiasan dengan kata-kata Happy Birthday dan balon berwarna-warni. Beberapa sibuk memasang topi ulang tahun dan membuka kotak kue yang sudah di beli. Putri dan Ririn yang sudah kembali pun menaruh makanan dan minuman di meja meeting yang berada di tengah-tengah ruangan. Beberapa saat kemudian ada rekan mereka yang berlari masuk dengan suara kecil menuju ruangan, seakan memberi kode kalau Pak Agus sudah mendekat.


“SURPRISE!!!” Para karyawan berteriak bersama saat Pak Agus memasuki ruangan. Dia tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya. Mereka pun mulai menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil mendekat dengan membawa kue ke arah Pak Agus. Dia pun meniup lilin di penghujung lagu tersebut.


“Selamat ulang tahun Pak Agus”


“Happy Birthday dan sehat-sehat selalu Pak!”


“Semoga panjang umur Pak! Kurang-kurangin marah nya”


Mereka pun tertawa bersama saat mendengar ucapan yang satu persatu berteriakan dari ruangan itu untuk menyelamati Pak Agus. Tidak lama kemudian gerombolan datang dari arah pintu masuk bagian pemasaran. Nampak nya dari bagian lain pun datang untuk merayakan ulang tahun Pak Agus.


Putri yang menyadari itu pun langsung mencari sosok yang ingin melihatnya. Viki. Mungkin ini hari keberuntungan nya laki-laki tinggi itu benar-benar langsung terlihat di kerumunan ini. Berbeda dengan Ririn yang langsung menyerbu makanan dan minuman di meja tengah.

__ADS_1


*****


Putri pun lagi-lagi mendapati konflik batin. Haruskah dia menyapa Viki duluan? Apakah harus berpura-pura tidak tahu jika Viki ada di ruangan ini? Berjalan menghampiri nya sambil menawarkan makanan dan minuman mungkin?


“PUTRI! GUE DAPET NIH BAGIAN BUAT LO!” Ririn berteriak dari meja tengah sambil mengangkat makanan dan minuman yang sudah dipegangnya itu. Tiba-tiba makanan itu pun melayang dari tangannya. Ririn pun kaget dan segera berbalik badan.


“Sini gue bantu, udah kecil. Tenggelam nanti lo” Ternyata itu adalah Viki yang mengambil dari tangan Ririn.


“Ih ribet, bisa kali gue sendiri. Huh!” Ririn pun mengambil kembali dari tangan Viki. "Mending lo ambil jatah lo sendiri, udah mau abis tuh” Ririn berjalan menjauh dari nya dan menghampiri Putri. Ririn menyerahkan makanan dan minuman tersebut ke putri sambil duduk di meja nya untuk menghindari kerumunan


“Makasih ya Rin. Padahal kan bisa gue ambil sendiri kesana”


“Iya pas kesana sudah habis makanan nya karena lo nya ngelamun mulu ngeliatin Viki” Ririn berkomentar sambil melahap roti empuk yang berisikan potongan daging dengan saus barbeque. Terlihat mukanya sangat terkejut dengan rasa yang di dapat nya.


“Sumpah enak!!”

__ADS_1


“Apa yang enak?” Viki pun mendekati mereka dan melihat ke arah Ririn yang sedang makan. Viki pun memberikan kotak tisu.


“Rotinya lah yang enak” Ririn pun mengambil selembar tisu untuk menyeka bibirnya yang penuh dengan saus itu.


Putri yang melihat pemandangan itu merasa heran, apakah benar seperti apa yang Ririn pernah bilang kalau mereka itu hanya teman. Ririn kan sudah punya pacar. Apa mungkin pacar yang dia maksud itu Viki? Putri yang sangat penasaran pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


“Kalian pacaran ya?” Putri bertanya sambil menusukkan sedotan besinya ke kopi dingin yang dia dapat lalu melihat ke arah mereka.


“WHAT?! Kan udah gue bilang, kita nih temenan. Lo sih Vik!” Ririn pun menggeser kursinya menjauh dari Viki yang berdiri di sampingnya.


“Engga ko. Kita memang berteman saja. Gue ini baik ke semua orang, mungkin karena ini orang-orang suka mikir gue punya pacar banyak”


“Iya, bener-bener. Sifat perhatian lo kelewatan”


“Oh.. Jadi beneran enggak pacaran kalian?” Putri pun menegaskan apa yang dia pahami

__ADS_1


*****


__ADS_2