Pacar? Bukan... Temen? Bukan...

Pacar? Bukan... Temen? Bukan...
Nongkrong


__ADS_3

Beberapa jam setelah acara ulang tahun Pak Agus


Ririn dan Putri pun ikut membantu karyawan lainnya untuk membersihkan ruangan mereka. Satu persatu karyawan dari bidang lain pun kembali ke tempat mereka, dikarenakan ini sudah mendekati waktu nya untuk pulang. Viki pun masih terlihat ikut membersihkan ruangan bagian pemasaran ini. Viki yang melihat Ririn dan Putri bersama berjalan mendekati mereka.


“Kalian mau kemana habis ini?”


“Pulang lah, emang mau kemana lagi? Ririn menjawab sambil menyapu lantai


“Ikut nongkrong dulu aja”


“Boleh!” Putri menjawab dengan cepat sambil menoleh ke arah Ririn dan memegang lengan nya.


“ Kita ikut! Ya kan Rin?”


“He??? Pengen istirahat aja ah gue!”


“Ayolah.. Masa gue berdua aja sama Viki? Lebih seru kan kalau Ririn juga ikut”


Dengan anggukan malas Ririn pun akhirnya setuju dengan rayuan Putri untuk ikut nongkrong bersama Viki. Mungkin lebih tepatnya pemaksaan, karena Ririn yakin Putri ingin ikut dan langsung berkata iya itu semua karena Viki.


“Kalau begitu nanti ketemu depan pintu perusahan ya” Viki pun memberikan kantong plastik berisikan sampah ke tangan Ririn dan segera berjalan pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


“Heh! Laki-laki macam apa nih yang enggak buang sampah dulu!” Jawab Ririn dengan nada marah sambil mengangkat plastik itu ke arah Viki.


“Sekalian. See you”


Viki melambaikan tangan kanan nya, sementara tangan kirinya berada di dalam saku celana nya dengan membelakangi mereka berdua. Lagi-lagi putri merasa dia itu memang selayaknya seorang model.


*****


Jam pulang pun tiba


Dari kejauhan tampak seorang laki-laki yang memakai jas biru dengan memegang tas kulit jenis briefcase. Sesekali dia melihat jam tangan nya. Kerumunan perempuan pun berjalan melewatinya, dia pun mengangguk kan kepala nya lalu melambaikan tangan pada mereka seakan sudah kenal dekat.


“Plak..!” bunyi pukulan tangan ke pundaknya membuat dia melihat ke arah tersebut.


“Engga bisa apa diem kayak Putri gitu? Hai Putri” Viki melihat ke arah Putri sambil melambaikan tangannya dengan senyuman.


“TOS!” Ririn menepuk tangannya ke tangan Viki. “Ayo, jalan deh. Lama nih” Ririn pun berjalan mendahului Viki dan Putri.


Berjalan berdampingan berdua dengan Viki membuat Putri merasakan jantung nya berdegup lebih kencang. Dia pun memegang kedua pipi nya dengan harapan mereka tidak memerah. Namun, saat ini sudah malam barangkali tidak terlihat kalau itu berubah seperti warna tomat.


*****

__ADS_1


Sesampainya di sebuah café kecil


Sepanjang perjalanan menuju café Putri dan Ririn banyak bercerita tentang pekerjaan dan kehidupan mereka. Sesekali Viki ikut dalam percakapan itu di saat dia meraka topiknya memang bisa di pahami. Tidak terasa sudah 15 menit mereka berjalan kaki, akhirnya sampai lah di sebuah gedung dengan cat berwarna putih. Lampu yang terang dari dalam gedung itu membuat terlihat jelas ramainya tempat itu. Senyawa adalah nama café yang mempunyai 3 area untuk para tamu yaitu indoor, outdoor dan rooftop.


“Gimana kalau di rooftop saja? Kayanya di atas kosong.” Putri menyarankan sambil berjalan mendekati karyawan café yang berdiri di depan pintu masuk itu.


“Oke” Viki dan Ririn pun menjawab bersama.


Viki mengangkat jari nya menunjukan untuk bertiga dan memilih untuk di rooftop saat karyawan itu bertanya untuk dimana mereka hendak duduk. Karyawan itu mempersilahkan mereka masuk setelah mengambil 3 buah menu dari meja nya lalu mengantar ke lantai 2. Dikelilingi dengan tumbuhan hijau, mereka memilih duduk di meja tengah dengan payung bundar besar berkapasitas untuk 4 orang.


Karyawan tersebut menyerahkan 3 menu yang di pegang nya dan berdiri di samping Ririn sambil menunggu orderan. Mereka menganggukan kepala nya satu per satu setelah itu tanda berterima kasih. Setelah melihat menu selama beberapa menit, akhir nya mereka sudah siap untuk memesan.


“Mbak, saya pesan cheesecake sama green tea dingin ya” Ririn berkata sambil mengembalikan menunya.


“Saya campuran coklat dingin” Giliran Putri untuk memesan.


“Coffee Latte dingin dan potongan kue espresso” Viki pun memesan terakhir.


Setelah mengambil orderan mereka bertiga, karyawan itu pun pergi untuk memesan ke dapur.


“Jadi… Gimana lo sekarang Vik? Udah punya pacar? Ririn membuka pembicaran.

__ADS_1


*****


__ADS_2