
Menjelang petang,
Reno baru mengajak pulang. Baju Airin penuh dengan noda dari air buah strobery
yang ia makan.
”Sudah mau malam.
Nanti kalau ada waktu kita kembali ke kebun buah yang lain.” kata Reno berjanji.
Setelah mereka tiba di depan rumah Aran. Airin mengganguk. Sebelum benar benar
masuk ke rumah Reno, turun dari motor dan memberikan Airin 1 keranjang pennuh
buah strobery.
”Kenapa
memberikanku sebanyak ini. Aku sudah makan dengan puas tadi.” kata Airin mengembalikan
keranjang berisi buah stroberi.
”Untuk kamu aja.”
kata Reno melangkah mundur. ”Sampaikan salam ku sama tante dan om.” Reno mencap
gas motornya pergi. Airin kemudian berjalan masuk dengan melihat isi keranjang
strobery yang sangat banyak.
Di depan pintu
ada Aran yang terlihat menunggunya dengan berdiri tegap. Airin berjalan cepat
menghampirinya.
”Bapak tibanya
jam berapa.” tanya Airin kembali memasukan buah ke dalam mulutnya. Aran
membungkuk menyamakan tingginya.
”Kau pergi
denganya kenapa tidak mengabariku.” Aran menatap dalam.
”Ah itu, aku rasa
tidak perlu.” jawab Airin tanpa berfikir. Aran kembali berdiri tegap.
Memperhatikan baju Airin yang penuh bercak air stobery.
”Bapak mau.” Airin
memberikanya dengan menodorkan keranjang. Aran menggelang. Gadis itu kembali
memasukanya ke dalam mulutnya. Dirinya berjalan masuk mendahulai Aran.
Aran mencoba
menghembuskan nafasnya kasar, kemudia mengikuti Airin berjalan masuk dan
menggengam tanganya membawanya menuju kamar.
”Airin gimana
jalan jalanya.” Sean bertanya ketika melihat keduanya.
”Seru.” kata Airin
tersenyum dengan mulut penuh dan memperlihatkan ibu jarinya.
Suara Sean
kembali terdengar melihat bagaimana eksperis Aran yang tengah menatapnya.
Dengan merangkul Airin. Segera mennghilang dari pandangan Sean.
”Kamu pergi mandi
gih.” Aran mengambil keranjang stobery. ”Aku akn membersikahnya lebih dulu.” Aran
__ADS_1
keluar dengan menenteng keranjang.
”Mamah tahu kamu
kecewa. Tapi dia masih remaja.” Anna mendekat kala melihat Aran berjalan ke
dapur. Nafasnya di hembuskan kasar, dengan tetap memcuci buah stroberinya.
”Bagaimana dengan
Adinda. Kalian bertemu.” Anna terlihat penasaran. Walaupun sudah mendengar
cerita dari Sean, namun ingin dengar
versi Aran.
”Mah, aku sama Adinda
gak ada hubungan apa apa.” meski suara Aran bernada lembut namun bisa di
rasakan kalau ada rasa risih di sana.
”Airin muntah
munta.” teriak Sean saat mendeket pada mereka. Dengan wajah cemas. Aran segera
berlari cepat menuju kamar.
“Airin mana yang
sakit.” Tanya Aran dengan panik dan khawatir. Airin menangis layaknya bocah.
”Pak apa aku akan
mati.” ucapan AAirin kembali membuat Sean tertawa kecil. Lagi lagi Anna mecubit
kulit perutnya agar diam.
”Kerumah sakit
yah.” kata Aran dengan cekatan menggendong Airin.
rumah sakit, membawa Airin. Setelah di periksa ternyata Airin mengalami gejala
bulimia. Memaksakan makan dalam porsi banyak sehingga lambungnya menjadi
terlalu penuh.
Mendengar
penjelasan dokter membuat Aran harus mengatur porsi makanya. Tak boleh makan
dalam keadan sangat lapar dan harus berhenti makan sebelum terlalu kenyang.
Aran yang akan
menjaga Airin, setelah menyuruh mamah, papah dan Sean kembali. Tinggallah Aran
dan Airin dalam kamar pasien.
Bahkan Aran
terlelap setelah beberap saat. Sementara Airin yang baru saja sadar setelah di
berikan obat waktu tibanya.
Airin membuka
matanya, menatap langit langit kamar yang terasa asing. Mencoba bangun, tangannya berada dalam
genggaman Aran. Seketika gerakannya kaku.
Airin ingat
betapa paniknya wajah Aran ketika melihatnya muntah, bahkan sampai di rumah
sakit. Mengingat bagaimana Aran mengendongnya membuat Airin tersenyum malu.
”Huaaaahh rasanya
jantungku akan melompat keluar.” sebelah tangan Airin memegang dadanya. Matanya
__ADS_1
melirik nakal pada Aran yang terlelap.
Ingatanya
membawanya kembali di mana pertemuanya dengan Aran saat bersama Wilson. Di
tambah mereka baru pertama kali bertemu langsung menikah. Aran yang merawatnya
ketika sakit, di mana mereka memasak bersama, makan bersama, dan belajar
bersama, di mana menelfon dengan pelukan, kemudian perjalan ke Bandung dan
sampai di puncak kemarin. Hal itu membuat Airin sadar dirinya nyaman ketika
berada di samping Aran. Airin mulai menyukai lelaki yang sedang menjadi
suaminya itu.
Airin mencoba
menyingkirkan benang yang ada di rambut Aran. Gerakanya membuat laki laki itu
terbangun. Airin yang keget segera menjatuhkan tanganya dan menutup mata.
Aran mengedipkan
matanya beberapa kali. Sebelum dirinya kembali memeriksa Airin. Pengelihatan Aran
nafas Airin tak beraturan. Laki laki sedikit cemas kemudian mencoba mendekat
untuk memastikan.
Airin yang merasa
aneh dan penasaran kenapa menjadi redup mencoba membuka matanya perlahan.
Buam, tatapan
mereka bertemu untuk yang ke tiga kalinya. yang ini cukup lama, sebelum pipi Airin
merona.
”Butuh sesuatu.”
mereka hampir tak ada jarak. ”Apa merasa sesak.” Aran dengan wajah cemas dan
semakin perhatian.
”Ah, aku mau
minum.” kata Airin segera mengalihkan tatapnya. Aran mengambilkanya. Dengan
lirikkan malu malu Airin minum.
”Kapan aku bisa
keluar pak.” tanya Airin dengan suara lembut.
”Besok
pagi.” Aran menarik botol air, di saat Airin
masih minum dengan sedotan. Sorot mata Airin menjadi kaku.
Ke esokan pagi
nya setelah kembali ke rumah, Aran membereskan barangnya dan Airin.
”Jangan sampai
ada yang tertinggal.” kata Aran selesai memasukan semua bajunya. Airin masih
mencari bonekanya.
”Apa bapak lihat
boneka ku.” Airin mendekat dengan gelisa. Aran mencoba mengingatnya.
”Nanti aku tanya
mamah.” Aran keluar mencari ibunya.
__ADS_1