Pak Aran suamiku

Pak Aran suamiku
Menyadari dalam hening


__ADS_3

Menjelang petang,


Reno baru mengajak pulang. Baju Airin penuh dengan noda dari air buah strobery


yang ia makan.


”Sudah mau malam.


Nanti kalau ada waktu kita kembali ke kebun buah yang lain.” kata Reno berjanji.


Setelah mereka tiba di depan rumah Aran. Airin mengganguk. Sebelum benar benar


masuk ke rumah Reno, turun dari motor dan memberikan Airin 1 keranjang pennuh


buah strobery.


”Kenapa


memberikanku sebanyak ini. Aku sudah makan dengan puas tadi.” kata Airin mengembalikan


keranjang berisi buah stroberi.


”Untuk kamu aja.”


kata Reno melangkah mundur. ”Sampaikan salam ku sama tante dan om.” Reno mencap


gas motornya pergi. Airin kemudian berjalan masuk dengan melihat isi keranjang


strobery yang sangat banyak.


Di depan pintu


ada Aran yang terlihat menunggunya dengan berdiri tegap. Airin berjalan cepat


menghampirinya.


”Bapak tibanya


jam berapa.” tanya Airin kembali memasukan buah ke dalam mulutnya. Aran


membungkuk menyamakan tingginya.


”Kau pergi


denganya kenapa tidak mengabariku.” Aran menatap dalam.


”Ah itu, aku rasa


tidak perlu.” jawab Airin tanpa berfikir. Aran kembali berdiri tegap.


Memperhatikan baju Airin yang penuh bercak air stobery.


”Bapak mau.” Airin


memberikanya dengan menodorkan keranjang. Aran menggelang. Gadis itu kembali


memasukanya ke dalam mulutnya. Dirinya berjalan masuk mendahulai Aran.


Aran mencoba


menghembuskan nafasnya kasar, kemudia mengikuti Airin berjalan masuk dan


menggengam tanganya membawanya menuju kamar.


”Airin gimana


jalan jalanya.” Sean bertanya ketika melihat keduanya.


”Seru.” kata Airin


tersenyum dengan mulut penuh dan memperlihatkan ibu jarinya.


Suara Sean


kembali terdengar melihat bagaimana eksperis Aran yang tengah menatapnya.


Dengan merangkul Airin. Segera mennghilang dari pandangan Sean.


”Kamu pergi mandi


gih.” Aran mengambil keranjang stobery. ”Aku akn membersikahnya lebih dulu.” Aran

__ADS_1


keluar dengan menenteng keranjang.


”Mamah tahu kamu


kecewa. Tapi dia masih remaja.” Anna mendekat kala melihat Aran berjalan ke


dapur. Nafasnya di hembuskan kasar, dengan tetap memcuci buah stroberinya.


”Bagaimana dengan


Adinda. Kalian bertemu.” Anna terlihat penasaran. Walaupun sudah mendengar


cerita  dari Sean, namun ingin dengar


versi Aran.


”Mah, aku sama Adinda


gak ada hubungan apa apa.” meski suara Aran bernada lembut namun bisa di


rasakan kalau ada rasa risih di sana.


”Airin muntah


munta.” teriak Sean saat mendeket pada mereka. Dengan wajah cemas. Aran segera


berlari cepat menuju kamar.


“Airin mana yang


sakit.” Tanya Aran dengan panik dan khawatir. Airin menangis layaknya bocah.


”Pak apa aku akan


mati.” ucapan AAirin kembali membuat Sean tertawa kecil. Lagi lagi Anna mecubit


kulit perutnya agar diam.


”Kerumah sakit


yah.” kata Aran dengan cekatan menggendong Airin.


rumah sakit, membawa Airin. Setelah di periksa ternyata Airin mengalami gejala


bulimia. Memaksakan makan dalam porsi banyak sehingga lambungnya menjadi


terlalu penuh.


Mendengar


penjelasan dokter membuat Aran harus mengatur porsi makanya. Tak boleh makan


dalam keadan sangat lapar dan harus berhenti makan sebelum terlalu kenyang.


Aran yang akan


menjaga Airin, setelah menyuruh mamah, papah dan Sean kembali. Tinggallah Aran


dan Airin dalam kamar pasien.


Bahkan Aran


terlelap setelah beberap saat. Sementara Airin yang baru saja sadar setelah di


berikan obat waktu tibanya.


Airin membuka


matanya, menatap langit langit kamar yang terasa asing.  Mencoba bangun, tangannya berada dalam


genggaman Aran. Seketika gerakannya kaku.


Airin ingat


betapa paniknya wajah Aran ketika melihatnya muntah, bahkan sampai di rumah


sakit. Mengingat bagaimana Aran mengendongnya membuat Airin tersenyum malu.


”Huaaaahh rasanya


jantungku akan melompat keluar.” sebelah tangan Airin memegang dadanya. Matanya

__ADS_1


melirik nakal pada Aran yang terlelap.


Ingatanya


membawanya kembali di mana pertemuanya dengan Aran saat bersama Wilson. Di


tambah mereka baru pertama kali bertemu langsung menikah. Aran yang merawatnya


ketika sakit, di mana mereka memasak bersama, makan bersama, dan belajar


bersama, di mana menelfon dengan pelukan, kemudian perjalan ke Bandung dan


sampai di puncak kemarin. Hal itu membuat Airin sadar dirinya nyaman ketika


berada di samping Aran. Airin mulai menyukai lelaki yang sedang menjadi


suaminya itu.


Airin mencoba


menyingkirkan benang yang ada di rambut Aran. Gerakanya membuat laki laki itu


terbangun. Airin yang keget segera menjatuhkan tanganya dan menutup mata.


Aran mengedipkan


matanya beberapa kali. Sebelum dirinya kembali memeriksa Airin. Pengelihatan Aran


nafas Airin tak beraturan. Laki laki sedikit cemas kemudian mencoba mendekat


untuk memastikan.


Airin yang merasa


aneh dan penasaran kenapa menjadi redup mencoba membuka matanya perlahan.


Buam, tatapan


mereka bertemu untuk yang ke tiga kalinya. yang ini cukup lama, sebelum pipi Airin


merona.


”Butuh sesuatu.”


mereka hampir tak ada jarak. ”Apa merasa sesak.” Aran dengan wajah cemas dan


semakin perhatian.


”Ah, aku mau


minum.” kata Airin segera mengalihkan tatapnya. Aran mengambilkanya. Dengan


lirikkan malu malu Airin minum.


”Kapan aku bisa


keluar pak.” tanya Airin dengan suara lembut.


”Besok


pagi.”  Aran menarik botol air, di saat Airin


masih minum dengan sedotan. Sorot mata Airin menjadi kaku.


Ke esokan pagi


nya setelah kembali ke rumah, Aran membereskan barangnya dan Airin.


”Jangan sampai


ada yang tertinggal.” kata Aran selesai memasukan semua bajunya. Airin masih


mencari bonekanya.


”Apa bapak lihat


boneka ku.” Airin mendekat dengan gelisa. Aran mencoba mengingatnya.


”Nanti aku tanya


mamah.” Aran keluar mencari ibunya.

__ADS_1


__ADS_2