
Paginya , Aran
terlihat buru buru setelah mandi. Melaju menuju apartemen Lusi. Sekitar 30
menit menuju ke sana, dan 30 menitnya lagi kembali ke rumah.
Mereka sampai saat
matahaari baru akan menyapa. Suara yang terdengar dari luar membuat Airin yang
tengah mengatur makanan di meja, merasa penasaran.
Menatap sejenak
makanannya, membayangkan respon Aran yang kagum padanya kemudian memberikan
ciuman di kening membuat Airin senyum sendiri. Baru beberapa langkah akan
keluar, terlihat lusi yang tengah menarik kopernya.
Airin kaget,
berbalik badan segera masuuk ke dalam kamarnya, mencoba sembunyi di sana.
”Airin.” suara Lusi membuat langkahnya di depan pintu tertahan.
”Ka Lusi.” Airin melangkah masuk ke dalam pelukannya.
”Hy adik ipar.” Sean mengcak rambut Lusi yang sudah rapi dengan seragam sekolah.
”Nginep beberapa hari boleh kan, soalnya bolak balik apartemen jauh.” lusi mendekap Airin yang
mengangguk dalam pelukan.
”jjangan di
rusakin sean.” lusi dngan nada ketus.
”Adik ipar ini pinter masak juga.” Sean menghampiri meja makan yang memang kursinya tepat
dengan jjumblah mereka.
Aran yang baru masuk, melirk Airin yang setengah badannya berada dalam pelukan Lusi.
”Kamu udah siap.” Aran menyadari eksperi Airin.
”Iya.” Airin melepaskan diri. Melangkah masuk ke dalam kamar.
Sean melahap makanan tanpa ragu sebelum dirinya menatap Aran, dan Lusi bergantian dengan
wajah kecut.
Tangan Aran
segera mentup mulut Sean. Tak lama Airin keluar dari kamar. Dan akan ikut
__ADS_1
duduk di kursi untuk sarapan.
”Rin, kita agak
buruan yah, ada rapat jam 8.” Aran berdiri dengan terburu buru.
Airin kembali
berdiri tegap. Dengan wajah bingung dan senyuman bimbang mengikuti langkah Aran
setelah berpamitan pada Lusi dan Sean.
Di perjalanan yang hampir sampai di sekolah, Aran memberikan sepotong sandwich.
”Ternyata kamu bisa masak.” Aran dengan senyuman khasnya.
”Aku baru mencoba nya tadi. Setelah menonton di youtube tadi malam.” melihat ekspresi Aran,
membuatnya yakin kalau masakannya enak.
”Entar, kalau masak bayam nya masukin tangkainya dulu, sekitar 2 menitan abis itu daunya.”
Aran memberi arahan..
”Apa daunya
hancur pak.” Aran penasaran dengan hasil masakanya sendiri. Harusnya tadi dia memakanya
bersama.
”Enggak.” Aran
kecil.
Memasuki sekolah. Airin segera ke kelas.
Di sambut Ema.
”Surprise.”
bertepatan dengan ledakan kembang api.
Airin panik dan
gemetar karena kaget.
”kita berlima lolos.” berjalan sambil berpelukan.
”Apa kita perlu
merayakanya di club.” Ema memberi ide asal.
”Why not.” wilson hanya duduk dan memperhatikan mereka.
“What do you thingk.” Rey bertanya pada Wilson.
__ADS_1
“Its not good idea.” Airin berjjalan menuju kursinya dengan
sedikit cemas.
”Hy come on.” Ema mencoba membujuk.
“What happen.”
Anara merasa Airin tak biasanya.
”Pak Aran gak
bakal izinin aku pergi.” Airin tak mau membahasnya, dan malah membuka buku.
”Airin. My dad and my mom same. Kalau aku pamit pergi ke
clubing yah gak bakal di bolehin sekalipun nangis darah.” Anara merenggut.
“Calm down. You have
body guard.” Ema melirik Wilson dan Reynald, di ikuti Anara dan Airin.
Paham dengan
maksud Ema. Keduanya mengangguk setuju. Reynald terlihat tertekan. Tak mau
mengambil resiko.
Mereka menyusun
strategi. Setelah pulang sekolah, Airin memikirkan dengan gugup bagaimana
rencana mereka. Akhir akhir ini dirinya sering pergi dengan alasan kerja
kelompok atau sekedar main.
Airin mencoba
keluar dari kamarnya. Berjalan dengan pelan menuju kamar Aran. Di sana terlihat
tengah berberes beres.
”Pak Aran mau
kemana.” mengamati dengan jeli. Mengintip dari lubang kunci.
”Ka Lusi sama ka Sean kemana yah.” Airin masih mencoba mengintip. Dirinya berlari kecil menghindari
pintu kala Aran. melangkah ke arah pintu.
Laki laki itu
menuruni anak tangga menuju ke luar tanpa membawa apapun. Airin mengikutinya.
Sampai mereka bertemu di ruangan tamu.
__ADS_1
”Airin.” Aran melihat
tingkah anehnya.