Pak Aran suamiku

Pak Aran suamiku
Feel on


__ADS_3

Airin masih


terbayang, bagaimana tanggapan Aran terhadapnya.


”Apa bapak gak


suka musik yah.” kesal bagaimana mengingat jawabanya kala itu.


Dari kejauhan Airin


melirik nakal pada Aran, yang terlihat termenung. Di ruangan yang sudah 7 kali


mereka datangi dengan hari berbeda jawabannya tetap sama.


”Kamu hebat


mainya.” tersenyum dan mengangguk.


”Wah kamu jago


mainya.” tersenyum dan memberikan dua jempol.


”Hebat banget


ternyata.”menganggukan kepala.


”Keren


.”menganggukan kepala dan memberikan 2 jempol.


”Hebat.” tak lupa


dengan anggukan kepala.


”Bagus .”


tersenyum.


”Makin jago


mainya.” memberikan 2 jempolnya.


Mengingat semua


ucapan Aran membuat Airin kesal setenagah mati. Melintas senyuman Aran yang sama


saja dan sorot mata yang terlihat biasa.


”Apa apaan, sih


pak tua sialan.” Airin menggerutu kesal. Rasanya ingin berhenti bermain musik.


Tiba tiba Airin kepikiran bagaimana kalau dirinya ikut dalam lomba TOBI.


Masih


memakirkanya.


Airin masih


menginta jelas ketika dia bersama dengan Reynald dan Reno saat menjadi


perwakilan o2sn tingkat SMP. Waktu mereka menjadi perwakilan terkuat yang akan


bertanding, namun karena kesalahannya yang salah dalam perhitungan cairan


membuat kelompok mereka  tereliminasi.


O2sn tingkat SMP,


membuat cairan yang bereaksi terhadap obat, perhituangan Airin keliru yang


berujung fatal. Akibatnya Reno, yang bertanggung jawab sebagai ketua kelompok

__ADS_1


di eliminasi, dan sekolah pihak sekolah tak mau mengakui nya maka dengan harus


memindahkan nya ke sekolah lain agar tidak mencemari nama baik sekolah. Hal itu


adalah kesalahan Airin.


Mengingat


kejadian itu dirinya ragu, dan akan mengorbankan orang lain lagi. Lagi lagi Airin


menangis, untung saja ini sudah larut malam. Jadi tak akan di ketahui oleh Aran.


Mata yang sembab


dan bengkak membuatnya merasa haus setelah menangis dalam diam. Dirinya


berjalan keluar dari kamar menuju dapur.


”Airin.” suara


pangggilan itu membuatnya berdiri kaku. Tak menjawab nya dan segera mengambil


air.


Menunggu gelasnya


penuh, agar bisa segera kembali masuk kedalam kamar.


”Kamu lapar.” Aran


bertanya tepat di hadapan Airin. Gadis itu menunduk sambil menggeleng.


Aran merasa aneh.


Sedikit menunduk, melihat wajah Airin. Kaget melihat matanya yang sembab. Gadis


itu berlari, Aran menahan menarik pergelangan tangan Airin, membawanya masuk ke


dalam pelukan.


menangis, suaranya terdengar. Tangan lebar Aran mengelus kepala gadis itu


perlahan. Membiarkanya sampai tangisnya reda.


”Maaf Airin.” Aran


kecewa pada dirinya sendiri. Suara gadis itu semakin kuat.


Ini pelukan


layaknya pasangan sungguhan mereka yang pertama  kali. Sentuhan fisik yang keduanya sadar. Aran memeluk karena merasa


kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga Airin, sementara gadis itu


merasa bersalah karena ulahnya Reno, sampai di keluarkan dari sekolah.


Malam itu membuat


pasangan ini sedikit terbuka. Airin lebih dulu menceritakan masalahnya. Aran


mendengarkanya, mengamati. Keduanya bercerita di sofa depan tv. Mereka saling


memberi solusi, namun aran bukanya menceritakan kisah pilu nya terhadap Airin.


”Tapi hubungan


kamu sama Reno, baik baik aja kan.” Aran sangat mengamati. Airin mengangguk.


”kita boleh


menyesali perbuatan tapi gak ada hak untuk membatasi diri. Kamu termasuk clinge


dengan diri kamu sendiri.” Aran mulai bicara dengan nada serius. ” Airin kamu

__ADS_1


enggak menindas dia, mau sampai kapan kamu mengubur kemampuanmu, dia tidak di


berhentikan tapi di pindahkan. Kehidupanya masih berlanjut.” Dengan tatapan


hangat yang memberi tahu, Airin berfikir secara rasional.


Kalimat Aran tadi


malam membuat Airin memutuskan apa yang harus di capainya. Jika harus


menyamakan poisisnya dengan Aran, maka dirinya harus bisa berdiri dengan bangga


dan menjadi paling menonjol.


Kali ini Airin


memasang alaram dobble. Bangun tepat jam 05:40. Lekas berbenah dan segera


bersiap. Setelahnya keluar dari kamar dan membuat sarapan sebisanya.


Aran turun dari


tangga ketika, Airin tengah menyeduh susu.


”Pagi sayang.” Aran


menyapa tanpa sadar. Airin mengengbungkan pipinya menahan senyuman.


”Kamu ada


rencana.” berjalan mendekat dan duduk di kursi untuk sarapan. Airin mengangguk


mengolesi roti Aran dengan selai kacang.


”Mau berangkat


sekarang.” Aran bertanya dengan sedikit bingung.


”Ini makan dulu


pak.” meletakan roti di piring Aran. Laki laki itu memakannya segera. Terlihat bagaimana


Aran khawatir, saat gadis  yang laergi


itu mengoleskan selai kacang.


Senyuman Airin


tak pudar bahkan saat keduanya sampai di sekolah.


Aran masih merasa


heran dengan sikap Airin. Gadis remaja itu turun dari mobil dengan rona di


wajahnya.


Aran ketika


memasuk ruangannya bertemu dengan Ghana.


”Pak Aran, nanti


sebagai panitia olahraga ambil baju sama bu Shena.” Aran mengangguk. Dirinya


kemudian teringat dengan siswa yang akan mengikuti lomba TOBI.


Aran


mempersiapkan berkasnya segera. Tanpa menunggu lama memanggil semua para siswa


yang sudah di tunjuk.


10 siswa

__ADS_1


berprestasi, diantaranya Anara, Emma, Wilson, Reynal , dan Airin. Dan 5 siswa


lainya dari kelas 1 dan 2.


__ADS_2