
Setelah Aran
masuk kekamar dari mengambil berkas di mobil, dirinya memilih untuk di simpan di
kamar Airin. Sebab Sean, dan Lusi, akan menginap jadi Aran, kemungkinan akan tidur
di kamar Airin tanpa maksud apa apa.
Aran terlihat sinuk memindahkan beberapa barang barangnya dari kamar sebelumnya ke kamar istrinya
Memanggil Airin dari luar pintu namun tak ada jawaban.
Tak lama Sean, dan Lusi kembali dari urusan mereka. Melihat jendela kamar yang terbuka, Lusi memberitahukan pada Aran.
Aran segera mengeceknya, memastikan kalau Airin baik baik saja. Namun ada kejanggalan di sana.
Saat memesuki rumah, wajah Aran terlihat berbeda, Lusi menanyakanya.
Aran berbohong dengan mengatakan kalau Airin pergi bersama kawan kawannya.
Dugaan Aran memang benar, akan tetapi Airin tak pamit padanya. Dan itu keterlaluan.
Ada rasa marah di sana. Namun Aran sangat pandai menyembunyikanya.
Setelah ketahuan, bagaimana Airin menghadapinya? Menjelaskanya? Memikirkanya saja membuatnya bingung harus mulai dari mana?
”Pak." Suara kecil memanggil disana, seluruh tubuhnya bergetar.
Aran berjalan, keluar dari kamar. Niat hati ingin mengabaikan istrinya.
Aran kembali
mengingat hubungan Lusi dan Adinda. Hal itu memunculkan frustasi.
Aran kembali masuk ke dalam kamar.
”Aku anggap ini tak pernah terjadi. Jangan di ulangi yah." Kalimat, dan nada suara Aran semua terdengar sangat lembut.
Airin merasa sangat bersalah.
Berjalan mendekat pada Aran. Menggoyangkan tanganya perlahan.
Benar kalau Aran sudah terlelap. Hah secepat itu.
Karena merasa yakin, sampai suaranya menggema ketika pergelanganya di pegang Aran.
”Kamu minum.”
Aran setengah berbaring. Airin langsung membekap mulutnya.
Airin hanya bisa tersenyum kecut. Lagi lagi ketahuan melakukan hal bodoh.
Aran menarik Airin sampai ke kamar mandi. Bergegas menampung air hangat di betup. Setelah itu meninggalkanya.
__ADS_1
Tahu sebesar apa
kesalahanya saat ini, tahu bagaimana kecewa Aran sekarang. Airin kembali
teringat dengan ayahnya. Bagaimana kalau Aran, memberi tahukan Bakrie tentang
ini. Apa yang akan terjadi.
Bercerai kah?
Atau ayahnya akan sangat marah dan tak mau bertemu denganya lagi. Di dalam air
yang hangat, dirinya merenung atas apa yang terjadi hari ini. Menyesal sudah
pasti namun semua sudah terlanjut terjadi.
Setelah beberapa
saat, Aran mengetuk pintu kamar mandi.
”Kau bisa demam,
kalau sampai semalaman. Pakai bajumu, aku tunggu di meja makan.” suara Aran
terdengar dengan nada yang sama.
”Wah, bagaimana
mungkin dia bisa sesabar ini menghadapiku.” Airin tak berfikir kalau Aran
Aran telah
menunggu di sana dengan semangkok sup wortel.
”Segarkan
dirimu.” Aran mendorong mangkok supnya ke hadapan Airin. Gadis itu berjalan
menuju kursi. Ada perasaan curiga di sana.
”Ini tidak ada
racunnya kan.” guman dengan rasa was was.
Tak lama Aran
menyeduh sup nya dan memasukanya ke dalam mulut tanpa ragu. Kemudian tatapanya
seolah menyuruh Airin untuk segera duduk dan habiskan sup nya.
”Apa dia bisa
baca pikiranku.” Apa apaan Airin ini, menuduh suaminya sendiri.
__ADS_1
Dengan cepat,
menghabiskan supnya. Padahal asap nya masih mengempul.
Aran bahkan kaget
melihatnya. Segera menarik mangkok supnya.
”Ini masih
panas.” meletakan mangkok di meja dan berjalan menuju dapur.
Aran kembali
dengan handuk yang di tempelkan di bagian bibir Airin yang telah setengah
basah.
”Besok pagi aku
akan menyuruh Sean, dan lusi, untuk pergi.” Aran bicara tanpa mengalihkan
pandanganya pada Airin.
”Kenapa pak.”
Airin bertanya dengan memutar otak. Dirinya terfikir kalau Aran mungkin tak enak padanya karena merasa
terganggu dengan kehadiran mereka.
Airin tertawa dengan wajah cemas. “Apa bapak berfikir aku begini karena kedatangan
mereka.” Airin bicara dengan suara kaget yang keras.
Aran bahkan ikut
khawatir karena suara Airin.
”Aku sama sekali
gak risih.” Airin mengecilkan suaranya. ”Beneran pak.” dengan memperlihatkan
dua jari.
Aran terdiam.
”Bapak pikirin
apa sih.” Airin dengan sorot mata tajam setelahnya menunduk dengan rasa
bersalah.
’Apa aku harus
__ADS_1
bilang, betapa senangnya aku karena bakal tidur dengan satu ranjang. Wah apa
yang bakal terjadi yah.” Airin dengan pikiran nakalnya.