
Airin hanya mengembil porsi sedikit. Dirinya sedang ingin menghindari Aran. Sebelum gadis
itu masuk ke persembuyiannya alangkah baiknya Aran segera memberitahukan maksudnya.
”Airin, besok ka Sean ke sini.” Aran membuka percakapan. Airin menatap dengan sedikit penasaran.
mengangguk
”Em, nginep bareng ka Lusi.” Mulai ke inti pembicaraan. Mengangguk tanpa suara.
”Mereka bakal tidur di kamar atas.” melihat Airin hanya mengangguk tanpa bicara, Aran
menganggap Airin paham maksud Aran. Setelah selesai makan mereka berdua kembali
ke kamar masing masing.
Aran kembali sibuk dengan leptopnya di sofa depan tv. Terlihat sibuk. Terdengar langkah
kaki. Tanpa sengaja sorot mata Aran menangkap bayangan Airin dari pantulan tv
yang mati. Aran tersenyum.
Sampai beberapa saat. Laki laki itu menutup leptopnya. Menyalakan tv. Samaar samar bayangan
Airin masih terlihat. Aran mengatur strategi. Laki laki itu berjalan ke atas
dapur, dengan membawa gelas kosong.
Karena melewati kamar Airin, pintunya tertutup dengan ujung baju yang terjepit. Ternyata
benar. Mungkin sekarang Airin tengah berada di balik pintu.
”Airin.” setelah Aran mengetuk pelan.
”Iya.” sahutan samar samar.
”Bisa bicara sebentar.” Aran kemudian melangkah kembali ke sofa. Dengan membawa roti.
Tak lama gadis itu keluar dengan pena di tangannya. Seolah terlihat tengah belajar.
”Kenapa pak.” Jarinya sibuk memainkan pena. Sengaja berdiri di balik kursi agar Aran bisa
melihat pena di jari Airin.
”Kamu belajar apa.” Aran bertanya sesuai harapan Airin.
”Aku sedang mempelajari soal, beberapa soal. Bapak kenapa memanggilku.” Dengan malu malu.
”Apa aku mengganggu mu.” Aran memainkan perannya. ” Kalau begitu kau bisa kembali
belajar.” Aran fokus pada acara di tv.
”Enggak.” Airin kalang kabut. Berjalan tanpa malu duduk di samping Aran. ”Aku emang lagi
belajar, tapi bukan yang serius, fokus gitu. Cuman latihan soal ko.” Airin menggukan kepala nya, seolah meyakinkan Aran kalau dirinya bisa di ajak bicara.
__ADS_1
Aran menatap sejenak. Airin terlihat cemas. Aran Kembali mengangguk. “Kalau begitu ambil soal latihanmu.” airin berlari cepat menuju kamarnya tanpa hitungan menit kembali dengan tasnya di dalam pelukan.
Aran bahkan tak
sempat berkedip. Menggaruk kupingnya sebentar kembali fokus pada Airin.
”Apa ada yang kurang di pahami.” Aran bertanya dengan tatapan hangat.
”Bagaimana kalau bapak ajari aku untuk persiapan tobi.” Airin menyarankan, dan bersedia.
”Tapi aku gak tahu kalau kamu lolos dalam seleksi.” Aran sedikit ragu. Airin juga baru menyadarinya.
”Tapi aku yakin lolos ko.” yakin dengan usahanya selama ini. Mengelurkan semua isi tasnya. Di
sana coklat dari Wilson yang tak lagi utuh bentuknya berada paling atas.
Aran mengambilnya. Masih terbungkus sempurna namun tidak dengan bentuknya.
”Gak aku makan ko, tahu itu ada almondnya.” wajahnya menjadi sangat cemas.
Aran diam.
Mengambil beberapa buku sains dan memberikan pada Airin.
”Pelajari ini
sebagai dasarnya.” Aran menunjjukan lembar bagian mana. Airin mengambilnya,
membacanya garis besarnya, namun detik berikutnya sorot mataya melirik pada
Aran sentak saat
tengah memakan coklatnya, pandanganya lurus ke acara di tv namun tak ada yang
lucu di sana. Airin kembali memandangi wajah Aran. Rasanya ingin sekali
membalainya, bersandar lagi pada dada bidangnya, dan kembali mencium aroma
tubuhnya yang terasa memabukan.
Uhcccc
membayangkanya Airin menggeleng kepala dengan bibir meringis.
”Kamu kenapa? Apa
karna coklatnya.” Aran memperhatikan dengan heran.
”Aaa, em bukan, bukan kok.” Airin merasa malu. Tak lama Aran memberikan roti padanya yang dia
bawa dari dapur.
”Eh ini untuk
aku.” Airin tersenyum senang. Aran membuka plastik roti dan kembali
__ADS_1
memberikanya pada Airin. Acts of service. Yah Aran memang selalu
memperhatikan hal hal kecil.
Sayangnya arah
perasaan Aran tak jelas, apaka dia memang menganggap airin istrinya atau
siswanya?
Tak henti
hentinya Airin membuat drama sebelum dia tidur. Menjadi istri Aran, dan
menyiapkan segela keperluanya. Memasak untuknya dan merawat anak mereka.
Membayangkan itu Airin tersenyum dengan rona di wajahnya.
Berniat akan membuatkan
Aran sarapan untuk besok pagi, Airin menyalakan alamram ponselnya dengan
berturut turut. Menonton youtube cara menggoreng telur.
Sekarang sudah
larut malam. Hampir jam 12. Sebelum benar benar tertidur, dirinya keluar kamar
dengan mengendap endap ke arah dapur, membuka kulkas dan melihat apa saja yang
bisa di buatnya besok pagi.
Ada telur, roti
dan beberapa naget. Ada buah buahan dan juga sayur. Cukup lama untuk
mencari tahu jenis jenis sayur di google.
Airin tetap mencobanya. Sekitar 30 menit dirinya menonton
youtube di depan pintu kulkas yang terbuka akhirnya memisahkan yang akan di
masaknya untuk besok.
”Pak Aran aku
akan menjadi istri yang berbakti.” Airin berkata dengan tegas. Menatap pintu
kamar Aran.
Membayangkan
besok adalah hari baru dan istimewa.
Terlelap setelah hampir jam 2.
__ADS_1