
Paginya Aran, bangun
dan bersiap akan berangkat sekolah. Tak lupa membangunkan Airin kala dirinya
menyiapkan bekal.
Hanya sarapan
dengan beberapa potong daging dan roti untuk Airin. Sementara Aran roti dengan
selai kacang.
Airin keluar dari
kamar dengan seragam siap berangkat. Aran memperhatikanya dengan lirikan.
”Entar bakal ada
kegiatan camping, aku sarankan gak usah ikut.” Aran memberikan sarapan di depan
Airin yang sudah duduk manis.
”Kenapa pak.” Airin
mulai memakanya dan bertanya.
”Bahaya, bukan
termasuk kegiatan murni sekolah. Cuman pengalihan dana aja.” Aran ikut melahap
sarapanya.
”Aku mewakili lomba
celo di SMA nusa ambara.” menunggu respon Aran.
”Kenapa gak
ngambil fisika. Padahal nilai kamu masuk.” Aran sedikit kecewa.
”Tahun ke tahun,
kalau soal fisika, atau kimia, dan biologi pasti yang wakilin hanya Wilson, Ema,
atau Anara. Jadi aku gak selalu ke bagian. Hanya bisa ngambil kelas musik, atau
teather.” Airin dengan malas mengunyah.
”Tapi mau.” Aran
memberi pilihan. Airin menggeleng dengan ragu.
“Kali ini yang
ngadain TOBI. Jadi kemungkinan berkelompok tiap perwakilan sekolah ada 5
orang.” Aran menjelaska.
”Soal TOBI aku
belum dengar sih? Emang pengadaanya kapan.” Airin terlihat penasaran.
”3 minggu dari
sekarang, kamu ikutan aja nanti aku yang latih.” Aran menyarankan.
”Kayaknya di Cello
aja pak, lagian aku ambil tiga lomba. Musik, drama, sama olahraga lempar bola.”
Aran cukup terkejut dengan penuturan Airin.
”kenapa
ngambilnya banyak.” tak menyangka kalau gadis yang masih terlihat remaja labil
dengan banyak kemampuan.
”soal prestasi
begitu emang aku paling banyak ngambil. Papa nyimpan pialanya di kamar kerjanya.”
__ADS_1
Airin melahap habis makanannya.
Aran masih
terkejut bahkan ketika sampai di sekolah dirinya segera mencari berkas Airin
melalui computer sekolah.
Setelah melihat
tanpa pamit, Aran bahkan tak menyangka kalau Airin ternyata punya banyak
prestasi di bidang lainya.
Setelah
melihatnya, Aran kembali melakukan pertemuan dengan beberapa guru, di mana Aran
menyarankan untuk menjadi panitia di beberapa cabang. Ada rasa khawatir di
sana.
Mendapatkan izin
dari guru yang bertugas seleksi Aran, kini hanya harus memilih yang nilainya
paling tinggi dalam bidang biologi untuk melaju ke cabang TOBI.
Ada beberapa
siswa yang di kumpulkan dalam ruangan, dari kelas 1 dan 2. Dengan memilih yang
terbaik dan paling menguasai.
”Maaf menggangu
jam istrirahatnya, di ruangan ini saya mengumpulkan kalian karena ada beberapa
dari kalian yang akan mewakili sekolah di TOBI.” Aran terlihat begitu senang.
”Apa ada yang tahu apa itu tobi.” Arah mata Aran melirk pada Airin asik
berbicara dengan Reynald.
olompiade biology indonesia adalah organisasi yang didirikan untuk seleksi
perwakilan Indonesia ke internasional.” Jelas Anara dengan senyuman yang
mengambang penuh.
”yup benar, jadi
saya berharap kalian menyiapkan waktu belajar agar bisa menjadi perwakilan dari
sekolah ini di ajang bergengsi.” Aran masih berusaha menyemangi. Antusias
terlihat dari anak kelas 1.
”Apa perwakilanya
hanya 1 orang pak.” Emma bertanya untuk memastikan. Jika di lihat juara umum
pemenangnya adalah Wilson.
”Enggak! Kali ini
berkelompok yang terdiri dari 5 orang. Maka dari itu bapak harap kalian belajar
agar dengan serius dan bersunguh sungguh, agar terpilih menjadi perwakilan.”
sedikit kesal melihat Airin yang tak terlalu menanggapi.
”Kita akan
kembali ke sini dalam 7 hari ke depan di ruangan ini.” ucapan terakhir yang di
ucapkan Aran adalah sebuah kata pemberitahuan.
Siswa yang semua
di kumpulkan adalah nilai terbaik dari keseluruhan siswa. Tentu saja yang
__ADS_1
paling banyak di beri kesempatan adalah anak kelas 2 karena ini adalah tahun
terakhir mereka untuk ikut.
Aran masih
berharap kalau Airin, berniat untuk ikut dalam lomba TOBI, namun gadis itu
telihat engan. Bahkan Aran, masih berusaha meyakinkan nya lagi.
Karena ini adalah
ajang bergengsi, maka peserta yang ikut di berikan tolerasi untuk lebih aktif
dalam lomba. Sepulang sekolah Aran yang berada di rumah mencoba laggi untuk
bicara dengan Airin.
”Airin.” Aran
mengetuk pintu kamarnya.
Membukanya dengan
tahu maksud Aran. ”Kapan kamu mulai latilah celonya.” Astaga tak sanggup
rasanya memaksa gadis itu ketika melihat wajahnya. Aran mengurungkan niatnya.
”Ini mau ke kuil
musik.” Airin bersiap dengan cello nya.
“Aku antar.” Aran
naik ke kamarnya kemudian bersiap. Airin menunggu.
Perjalan ke sana
tak begitu lama. Mereka sampai Aran, membawakan celo yang berukuran badan Airin.
Melihat gadis itu latihan membuat Aran kagum pada sosok gadis manja seperti Airin.
Aran teringat
dengan sosok Afan. Terlihat ada kesedihan di matanya, hidup dengan penuh bayang
bayang. Aran merasa kesepian. Membayangkanya kejadian 20 tahunan itu membuatnya
kecewa pada diri sendiri.
Bagaimana bisa
berlaku kejam pada saudara nya sendiri. Aran memiliki luka masa kecilnya.
Hingga membuatnya tak bisa lepas dari bayang bayang Afan. Mengingat hal itu,
membuatnya takut di jauhi lagi. Aran
selalu mencoba untuk menjadi menyenangkan, tersenyum dan selalu menolong.
Siapa sangka,
lagi lagi dengan bekas luka di bahu belangkang nya ini menyimpan luka di
baliknya. Alasan Aran yang selalu tersenyum.
Akhir akhir ini
dirinya selalu merasa bahagia, namun apakah itu akan membekas. Lalu bagimana
kalau Airin mendengar kisah ini. Mengingat hanya keluarganya tempatnya
berlindung selama ini.
Melintas nama Airin,
dirinya kembali sadar ketika gadis itu telah selesai bermain celo. Airin
menghampirinya.
”Gimana pak.”
__ADS_1
tanya dengan menunggu pendapat.