Paman Kasar Ku

Paman Kasar Ku
Apa Kesalahan Ku


__ADS_3

Kenapa kehidupan ku berubah menjadi memilukan seperti ini, semenjak kejadian yang merenggut nyawa ibu dan nenek lima hari silam sifat paman langsung berubah 180°, dia menjadi pribadi yang sangat kasar dan bahkan tidak bisa mengontrol emosinya


"Kenapa kau masih berdiam diri disitu cepat pergi, ku muak melihat muka sok polos yang sengaja kau buat-buat itu" suara bentakan paman sangat nyaring bahkan sampai memenuhi seisi ruang tamu rumah ini


"Paman dari kemarin belum makan ku mohon habiskan lah dulu makanan paman ini" aku masih mencoba membujuk paman agar dia mau menyentuh makanannya


"Hahhh apa kau tuli, ku bilang cepat pergi dari sini kau pikir aku bakal tertipu dengan sifat muka dua mu ini tidak akan" untuk kesekian kalinya paman mengeluarkan kata-kata yang menusuk perasaan ku, mulut ini hanya bisa membisu mendengar setiap kalimat yang sangat menyakitkan hati


Apa sebenarnya kesalahan ku paman ku tau paman sangat terpukul dengan kejadian ini, tapi aku juga tidak pernah mau di tinggal pergi ibu dan nenek secepat ini ku juga sangat berduka paman malah tiada hari ku lalui tanpa merindukan sosok ibu dan nenek, mereka berdua merupakan orang yang sangat ku sayangi andai saja ada pilihan ku akan sangat rela menggantikan posisi mereka berdua sekarang


"Tapi paman sudah 3 hari ini belum makan, paman harus mencoba makan sedikit kalau tidak ku takut paman bakalan jatuh sakit" walau bibir sudah bergetar hebat ku tetap memaksa melanjutkan ucapan ku, yang ada dipikiran sekarang paman mau memakan makanannya, ku takut kalau paman sampai betul jatuh sakit sedang di dunia ini keluarga ku yang tersisa hanyalah tinggal paman Arya, walau bagaimanapun sikapnya ku sudah tidak mampu lagi kalau harus merasakan kembali kehilangan sosok keluarga


"Dita-dita akting mu sungguh sangat hebat dita, kau seharusnya menjadi artis saja, ku yakin kau pasti akan banyak memenangkan penghargaan berkat akting mu" sengit paman sambil berjalan ke arah ku

__ADS_1


"Kau pikir ku bakal tertipu dengan kata-kata mu hee percuma Dita kau soksoan buat suara mu bergetar seperti tadi, aku bukan seperti kaka ku yang bisa dengan mudah kau tipu dan peralat dengan sifat baik yang kau buat-buat ini" bentaknya


Ya Allah paman kenapa kau bisa menilai diri ku sampai sebegitu buruknya, sampai saat ini ku benar-benar tidak tau apa kesalahan ku sampai kau tega memperlalukan keponakan mu sendiri seperti ini, kali ini air mata ku sudah tidak mampu lagi dibendung butiran-butiran air yang sedari tadi ku tahan tanpa ku sadari bergerak jatuh sendiri dari pelupuk mata, ku hanya bisa menangis tanpa bersuara seperti yang sering aku lakukan kemarin-kemarin


"Kenapa kau diam coba bicara lagi ku ingin melihat sampai sejauh mana akting mu sekarang... atau jangan-jangan kau sudah mencampurkan sesuatu kedalam makanan ini yaa, kau ingin meracuniku kan" tuduhan paman sontak membuat ku kaget, tanpa aba-aba paman langsung menyendok makanan yang posisinya masih ku pegang di atas nampan dan langsung menyuap paksa masuk kedalam mulut ku


"Hmmm.. uhuk uhuk uhukk" tanpa memperdulikan batuk ku paman masih terus menyuapi paksa makanan tersebut sampai dia merasa puas yang kemudian langsung berbalik meninggalkan ku sambil membanting keras sendok yang dia pegang tadi


Badan ku langsung ambruk seketika hampir saja nampan yang kupegang terlepas, untung saja tangan ku masih bisa memegangnya erat yang langsung saja ku lepaskan di atas lantai


Tenggorokan ku terasa sakit belum lagi mulut dan bibir ku terasa sangat perih karna dipaksa menerima makanan yang masih bersuhu panas tadi, cukup lama ku terduduk dilantai sambil menangis lalu datang Mak Lili sambil berlari kecil mak Lili berteriak pelan memanggil-manggil namaku dan langsung memeluk tubuhku ketika jarak ku dan dia cukup dekat


"Non apa yang terjadi.. apa tuan Arya berlaku kasar lagi" ku masih diam tidak membuka suara, ku masih terus menangis sesegukan didalam dekapan mak Lili

__ADS_1


Untung saja dirumah ini masih ada sosok mak Lili PRT yang sudah lama berbakti dikeluarga Gurmantio, mak Lili juga sudah ku anggap seperti orang tua ku sendiri yang mungkin sekarang akan menjadi satu-satunya tempat ku melepaskan dan bersandar ketika ku butuh dorongan dan kehangatan kasih sayang orang tua


"Mak Lili mulut ku perih mak hiks hiks hikss" ku mengadu ke mak Lili


"Astagfirullah non mulut non kenapa merah seperti ini" mak Lili kaget ketika melihat penampakan bibir ku, langsung saja ku dibopong duduk di kursi diambilnya nampan berisi makanan dilantai lalu diserahkan minuman milik paman yang tidak tersentuh untuk aku minum


"Apa yang sebenarnya terjadi non" bertanya mak Lili sambil mengusap pelan kepala ku


"Mak kenapa paman membenci Dila, apa kesalahan Dila mak apa yang sebenarnya Dila lakukan sampai-sampai paman sangat kasar kepada Dila" ku bertanya kepada mak Lili dengan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan ku kemarin-kemarin, kali ini tangisan ku semakin kuat memecah ruang tamu bukan hanya sakit badan yang ku rasa tapi sakit akan perasaan ku juga melihat sosok paman Arya yang ku kenal berubah menjadi orang yang sangat beringas seperti sekarang dan sungguh ini yang lebih menyakitkan


Karna tak kuasa melihat ku menangis mak Lili juga ikut mengeluarkan air mata, kembali lagi mak Lili mendekap tubuh ku bahkan lebih erat seakan menyalurkan kekuatan batin untuk diri ku


"Mak mohon non.. Mak sudah bilang jauhi dulu tuan Arya, kondisi tuan sekarang sedang terguncang tuan sedang tidak bisa berfikir jernih.. Non Dita harus kuat yah non tidak usah berpikiran macam-macam dulu, suatu saat pasti tuan Arya akan kembali menjadi tuan Arya seperti sedia kala kita hanya harus bersabar menunggu hari itu" kata-kata penyemangat yang slalu mak Lili berikan kepada ku

__ADS_1


__ADS_2