
"Assalamuโalaikum Warahmatullah
Assalamu'alaikum Warahmatullah"
Salam Dita sambil memalingkan wajah kekanan dan kekirih menutup sholat subuh yang kemudian diikuti mak Lili beserta PRT lainnya.
Dita lebih memilih sholat berjamaah dibandingkan sholat seorang diri, selain berharap pahala yang Inshaa Allah lebih besar, memang sudah menjadi kebiasaan dimana waktu kedua almarhumah masih hidup sering memanggil Dita untuk sholat bersama-sama dengan PRT lain disatu ruangan yang dijadikan musholah kecil oleh keluarga Gurmantio.
Walau umur Dita yang baru menginjak angka dua puluh tahun tapi oleh mak Lili dan yang lainnya, Dita memang sudah dipercayakan untuk mengambil posisi imam dalam sholat berjamaah wanita, terlebih setelah meninggalnya kedua almarhumah diantara yang lain Dita lah yang memang lebih baik pengucapannya akan surah-surah dan hafalan tentang doa-doa, sehingga itu Dita yang selalu ditunjuk untuk menjadi imam ketika mereka akan melaksanakan sholat berjama'ah.
Sehabis berdzikir dan menutup dengan doa mereka kemudian saling bersalaman yang lalu bergegas untuk melanjutkan kegiatannya masing-masing, ada yang masih melanjutkan dengan mengaji membaca kitab suci Al-Qur'an ada juga yang langsung beranjak untuk melaksanakan pekerjaan mereka dirumah itu.
Begitulah para pekerja dikediaman Gurmantio, walau tidak diajukan secara gamblang sebagai salah satu persyaratan ketika akan menerima seorang asisten rumah tangga, tapi dalam rumah tersebut para penghuninya selalu diajarkan untuk tetap melaksanakan ibadah sholat ketika waktunya telah tiba, itulah yang jadi binaan kedua almarhumah nyonya Gurmantio terutama alma. Uzaima Grace Khaliq yang kemungkinan akan diteruskan oleh Dita mulai sekarang.
"Mak tolong temani Dita bantuin pindahin barang-barang yah kegudang"
Dita yang baru berniat akan membaca kitab suci Al-Qur'an mengurungkan niatnya karna teringat akan perintah Arya.
"Oh ia non mak juga hampir lupa"
Setelah melepaskan mukenah Dita dan mak Lili langsung menuju kelantai dua, kekamar yang sudah tidak akan lagi menjadi kamar tidur milik Dita.
Pintu telah dibuka Dita dan mak Lili kemudian masuk kedalam kamar tersebut, kamar yang dicat nuansa biru abu-abu ini banyak menyimpan kenangan untuk Dita, dan kenangan tentang kedua almarhumahlah yang paling banyak terbayang diingiatan Dita sehingga tanpa disadari air mata sudah mulai menggenangi kedua kelopak matanya.
"Mak sebenarnya Dita tidak mau meninggalkan kamar ini mak kenangan ibu dan nenek terlalu banyak disini hikssss" Dita sudah tidak bisa lagi menahan rasa sedih dihatinya, ketika kenangan-kenangan itu terus-terusan berputar dalam pikirannya yang seperti sudah tersetting sendiri dengan otomatis tanpa mau berhenti.
__ADS_1
"Sabar yah non, non Dita harus kuat"
"Mak coba lihat, dikasur ini nenek dan ibu pernah menemani Dita tidur mak hiks hikss" Ucap Dita.
"Meja itu mak" Menunjuk ke arah meja belajar dikamarnya.
"Dimeja itu Dita selalu mengerjakan tugas ditemani Ibu dan kalau sudah sangat malam kadang nenek masih suka bangun untuk mengantarkan cemilan kepada Dita hikss hikssss" Kali ini kembali Dita kalah dengan emosinya, sekuat tenaga Dita mencoba menerima dan berdamai dengan garis takdir Sang Khalik, tetapi kehilangan orang yang sangat kita sayangi memang tidaklah mudah dan itulah yang Dita rasakan sekarang.
"Non harus ikhlas non, non Dita harus tabah, ibu dan nyonya pasti tidak akan tenang disana kalau non Dita masih belum mengikhlaskan mereka" Mak Lili yang akan selalu berada disisi Dita untuk memberinya kekuatan, kali ini mak Lili sekuat tenaga menahan air matannya walau merasakan juga apa yang Dita rasakan tapi mak Lili juga tidak ingin kalau Dita berlarut-larut dalam kesedihannya.
"Dita sudah mengikhlaskan ibu dan nenek mak, insha Allah Dita sudah ikhlas.. Tapi Dita tidak bisa membohongi perasaan Dita, bila teringat akan ibu dan nenek perasaan Dita masih terasa sangat sakit mak hikss hikss"
"Sabar non, mak yakin pelan-pelan non Dita akan bisa menerima dengan lapang kenyataan ini, mak juga yakin kalau ibu dan nyonya pasti sudah bahagia sekarang disisi Allah, non Dita yang harus kuat yah"
"Kalau non Dita rindu dengan kedua almarhumah, non Dita tinggal memanjatkan doa untuk mereka, inshaa Allah bisa sampai kepada nyonya dan ibu"
"Aamiin ia mak, benar kata mak"
"Ia non.. Yasudah ayo hapus air mata non Dita, kita mulai beres-beresin barang non Dita yah"
"Baik mak" Dita kembali tegar mendengar perkataan mak Lili, dengan mengusap air matanya kini Dita dan mak Lili sudah mulai bekerja mengepak barang-barang kedalam kardus yang akan dibawa kegudang dilantai satu.
Tanpa disadari oleh Dita dan mak Lili ternyata sejak tadi Arya sudah berada dibalik pintu kamar yang memang tidak tertutup sepenuhnya itu, dari awal Arya bisa melihat dan mendengar bagaimana Dita sangat bersedih ketika menyangkut tentang kedua almarhumah.
"Andai kau tau Dita mereka berdua pergi karna dirimu, andai kau tau mereka mengalami kecelakaan itu karna ingin mempertahankan mu, andai kau mengetahui kenyataannya" Gumam Arya pelan dengan mata yang masih tertuju pada Dita.
__ADS_1
Tak ingin berlama-lama lagi Arya lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju kamarnya yang terletak di ujung lorong yang berlawanan sisi dengan kamar Dita.
"Brukk" Dengan sedikit kasar Arya menutup pintu kamarnya, mengingat dimana Arya melihat Dita menangis tadi membuat perasaan Arya menjadi lebih tersiksa.
.
.
.
.
.
.
Author ๐ฎ๐ธ๐บ
Holla pembaca Paman Kasar Ku tersayang..
Makasih yah udah mau sempetin baca tulisan perdana author yang masih banyak kekurangnya ini, kalau ada kritik dan sarannya tinggal tulis dikomentar yahh ๐๐๐
Jangan lupa Like nya juga all dan tetap setia yah nunggu part-part Paman Kasar Ku selanjutnya... โค๏ธโค๏ธ
Love u dan jangan lupa pakai maskernya pas mau keluar rumah untuk menjaga kesehatan ditengah pandemi Covid-19 ini, sehat selalu untuk semua ๐ท๐๐๐
__ADS_1