Paman Kasar Ku

Paman Kasar Ku
Rasa Aneh Dan Canggung


__ADS_3

Di kamar Arya sedang mandi didalam kamar mandinya, hanya terdengar suara dari gemercik air shower yang menjadi asal bunyi suara pemecah kesunyian didalam kamar tersebut.


Dengan posisi badan yang masih mematung dibawah guyuran air shower Arya masih juga berperang dengan pemikirannya sendiri.


"Kenapa aku masih memikirkannya lupakan dia.. Lupakan dia Arya dia penyebab kematian ibu dan kaka apa kau lupa hahhh biarkan saja dia menderita"


Ucap Arya frustasi dengan perasaan yang tengah dia rasakan, sejujurnya apa yang sudah dia lakukan terhadap Dita beberapa hari terakhir sangat bertentangan dengan kata hatinya, hanya saja ketika melihat Dita rasa amarah langsung bisa menutupi perkataan hatinya terlebih mengingat fakta bahwa meninggalnya alma. Grace dan alma. Ana tidak lepas dari sosok Dita yang masih bersangkut paut didalamnya.


"Dia yang menyebabkan ibu dan kaka meninggal, dia yang menyebabkan mereka berdua kecelakaan, andai saja ibu dan kaka mengikhlaskan dia andai saja ibu dan kaka membiarkan dia yang pergi, pasti kalian berdua masih disini pasti kalian akan baik-baik saja dan tidak akan pergi meninggalkan ku seperti ini" ucap Arya pilu air mata masih deras berjatuhan keluar dari kelopak matanya, walau terguyung air shower tidak bisa menutupi keadaan dimana Arya sedang menangis karna kondisi matanya yang sudah sangat bengkak dan merah.


Rasa duka yang Arya rasakan sangatlah dalam walau sudah memasuki kesembilan malam meninggalnya kedua almarhuma tidak membuat malam-malam Arya menjadi lebih baik yang ada hanyalah slalu dihiasi dengan air mata dan suara tangisan yang sangat pilu bila sampai terdengar orang lain. Hanya saja Arya tidak pernah menunjukan raut wajah dukanya kepada orang lain, baginya didunia ini tidak ada lagi yang bisa menjadi tempat bersandar perasaanya terlebih rasa dukanya.


Bagi Arya ibu dan kakanya adalah orang yang sangat bernilai dan berarti bagi dirinya, semenjak meninggalnya almarhum bapak Arya banyak menghabiskan waktu hanya dengan ibu Grace dan kaka Ana sehingga itu kenyataan bahwa kedua almarhuma meninggal secepat ini dengan cara yang tidak bisa diterima membuat Arya menjadi sangat berduka, bahkan secara tidak sadar merubah sifat Arya yang dulu pendiam tapi hangat sekarang menjadi sangat kasar dan tidak bisa mengendalikan emosi.


Arya yang sudah selesai membasuh badan, keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi langsung mengambil piyama dan mengenakannya.

__ADS_1


Matanya yang sembab dan merah karna menangis tadi sudah sedikit lebih membaik, mungkin karna matanya sudah terbiasa dengan kondisi Arya yang tiap malam slalu tidak melewatkan tangisan, sehingga sudah tidak memerlukan waktu lama lagi matanya untuk kembali tampak seperti normal.


Hari ini menjadi hari yang panjang dan melelahkan kembali buat Arya, hari yang malamnya terasa sama dengan malam kemarin dalam perasaan sedih, kacau dan duka Arya mencoba memejamkan matanya dalam doa Arya slalu berharap agar bisa dipertemukan dengan Ibu Garce dan kaka Ana walau hanya pertemuan yang sebatas mimpi.


Dengan mata yang sudah terpejam lagi-lagi fikiran Arya tertuju kepada Dita, mengingat bahwa Arya mengurung Dita dalam keadaan basah dan juga kondisi dalam gudang yang belum diberi lampu penerang membuat Arya secara tidak sadar menjadi gelisah, sekuat tenaga Arya mencoba menepis rasa gelisah itu, dengan mata yang dipaksa tetap tertutup Arya berharap agar dirinya cepat terlelap dan sudah berada dialam mimpi.


Satu menit, lima menit, lima belas menit bahkan sudah hampir setengah jam Arya masih belum bisa tertidur, akhirnya dia mengalah dan mencoba untuk bangun. Dengan langka yang seperti enggan tapi juga seperti paksaan dari dalam dirinya sendiri, Arya menuruni tangga ke kelantai satu untuk pergi kekamar para PRT yang berkerja dirumah kel. Gurmantio.


Arya bertujuan pergi kekamar mak Lili karna dibandingkan dengan asisten yang lain mak Lili yang paling senior dan sudah bekerja lama di keluarga Gurmantio, sehingga Arya tidak terlalu kaku kalau harus berkomunikasi dengan mak Lili.


Ketika mak Lili membuka pintu bisa Arya lihat dengan jelas ada sedikit ekspresi keterkejutan diwajah mak Lili.


"Ehh tuan Arya.. Ada hal yang bisa mak bantu tuan" tanya mak Lili seketika untuk menutupi rasa aneh dan canggung.


Tidak salah mak Lili merasa seperti itu karna dasarnya Arya memang tidak terlalu sering berkomunikasi dengan para PRT dirumah Gurmantio, bahkan dengan mak Lili sendiri yang sudah bekerja sangat lama bisa terhitung ketika Arya memanggil atau meminta tolong mak Lili untuk melakukan sesuatu, terlebih sampai mengetuk pintu kamar tengah malam seperti ini sangatlah tidak biasa bukan hanya untuk mak Lili tapi untuk Arya sendiri.

__ADS_1


"Mak lili... Pergilah bawakan makanan untuk Dita digudang bawakan juga pakaian ganti untuknya, jangan lupa selimut juga" Arya mencoba berbicara dengan nada biasa walaupun sebenarnya dia tau kalau mak Lili juga sama seperti dirinya merasa canggung.


"Baik tuan" Balas mak Lili


"Ingat untuk slalu mengunci kembali pintu itu kalau mak sudah selesai atau mau meninggalkan Dita seorang diri" ucap Arya lagi yang langsung dibalas anggukan oleh mak Lili


Arya sudah setengah memutarkan badannya tapi kembali lagi memanggil mak Lili karna teringat masih ada hal yang Arya lupa.


"Mak" Panggil Arya kembali.


"Ia ada apa lagi tuan" Mak Lili juga kembali menatap Arya.


"Digudang kalau tidak salah ada lilin atau lampu charge, mak Lili cari saja didalam kardus berwarna merah gunakan itu untuk penerang di gudang" Ketika Arya selesai mengucap itu Arya langsung berjalan pergi meninggalkan mak Lili, dia merasa harus cepat-cepat meninggalkan tempat itu.


"Entah apa yang mak Lili fikirkan tentang ku sekarang" Gumam Arya yang sudah berada di anak tangga.

__ADS_1


Ketika sampai didalam kamarnya Arya langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur king size miliknya, tidak seperti sebelumnya Arya sudah mulai merasakan rasa ngantuk menghampirinya sehingga tidak lama dari itu Arya sudah terlelap tak sadarkan diri.


__ADS_2