Panduan Bertahan Hidup Loli, Aku Tak Ingin Mati

Panduan Bertahan Hidup Loli, Aku Tak Ingin Mati
Lintas Dimensi?


__ADS_3

Di Gedung Taekwondo.


Latihan tanding di atas ring masih berlanjut, baju taekwondo Angela penuh keringat, menendang target kicking di tangan lawan.


Hp di atas kursi berdering, latihan dihentikan.


Angela turun dari arena, mengambil hp dan handuk, berjalan ke ruang ganti.


"Bye, Lian!"


Keluar dari ruang ganti, Angela berteriak kepada pria botak yang sedang fokus berbicara di dekat meja depan.


Pria itu menunjuk pria di sampingnya dan tersenyum pada Angela.


“Cepat sekali balik, gak nemanin gue latihan?”


Angela berhenti dan menatapnya, sambil menyeka keringat di wajah.


“Makasih, tapi gak deh, minggu depan udah masuk kuliah, kedepannya mungkin gak ada waktu buat latihan bareng lagi.”


Pria muda di samping Lian mengernyit.


Angela terus menatap mata genitnya, hingga pria itu menyingkirkan tatapannya karena malu.


"Lian, kamu ini! Angela masuk kuliah minggu depan, kok gak kasih tau gue!"


Pria itu jelas sangat kesal, tetapi Lian hanya tersenyum padanya.


"Angela gak mau gue kasi tau yang lain. Paling gue yang nemanin lu aja nanti.”


Dia mengangguk ke Angela dan tersenyum.


Angela yang berusia 17 tahun baru saja lulus dari SMA. Selain bermain game dan membaca novel, hobi yang paling digemarinya adalah taekwondo.


Meski kebanyakan orang yang datang ke gedung taekwondo ini adalah orang dewasa, namun demi hobinya, gadis kecil ini sama sekali tidak merasa takut.


Menurutnya, dia sepenuhnya mampu melindungi keselamatannya sendiri.


Berjalan keluar dari gedung taekwondo, yang menyambutnya adalah cahaya matahari sore yang berkilau keemasan.


Latar belakang keluarganya lumayan baik, Angela tinggal sendirian sejak SMA.


Perjalanan kembali ke apartemen tempat tinggalnya sangat dekat. Setelah memasuki pintu, dia melemparkan handuk ke tumpukan pakaian yang belum dicuci di dekat pintu.


Aku bersumpah besok mencucinya.


Tapi melihat kondisi ruangan di depan, Angela merasa sedikit malu.


Sinar matahari bersinar melalui daun jendela yang setengah terbuka, menerangi ruangan yang hampir tidak pernah dibersihkan dalam beberapa minggu terakhir.


Mangkuk kotor, kantong makanan, dan botol minuman berserakan di atas meja, masih ada setumpuk makanan ringan yang sudah terbuka di depan komputer.


Lantai ditutupi oleh pakaian, buku dan berbagai macam barang.


Angela menutup matanya dan tersenyum.


Rumahnya tidak besar, tapi sangat kotor.


Berjalan ke kamar mandi sambil melepas baju, Angela menikmati air dingin dan kemudian mencari baju kerjanya.


"Ternyata disini."


Dia mengerutkan kening begitu melihat bajunya yang kusut, lalu melemparkannya ke tumpukan barang di depan pintu.


Untungnya, dia punya tiga buah baju, salah satunya ada di lemari, yang masih baru.


…………


Angela bernyanyi sambil menyiapkan minuman untuk para tamu.


Meskipun keluarganya memiliki uang, tapi dia memanfaatkan liburan semester untuk melatih diri.


"Kopi 1."


Ketika Angela menulis pesanan, pria itu mengedipkan mata padanya.


"Ada yang lain?"


Pria itu menggelengkan kepala.


"Kopi saja."


Pria itu tersenyum padanya.


Setelah mengemas minuman dan menyerahkannya kepada pelanggan, Angela mengalihkan perhatiannya ke pelanggan berikutnya...


"Angela, besok lu gak datang lagi, kan?"


Beberapa jam kemudian, seorang rekan pria datang untuk berganti shift.


"Ya, besok hari pertama masuk kampus."


Pria itu tersenyum dan berkata, "Sayang banget, gue gak bisa ketemu Dewiku lagi!"


Dia mendengus dan menjawab: "Huss, sana pergi!"


“Jangan gitu dong.” Pria itu berkata sambil mengangkat alisnya.


Jurusan yang dia pilih adalah keperawatan.


Meskipun dia lebih suka kedokteran klinis, tapi karena merasa tidak mampu, akhirnya tidak jadi pilih.

__ADS_1


Dia merasa semester pertama pasti lumayan berat.


"Gue dengar semester 1 banyak mata kuliah!"


Pria itu masih tersenyum seperti biasa.


"Pokoknya, good luck deh!"


…………


Selesai ganti shift, Angela tidur selama 10 jam, matahari sudah lama terbit.


Alarm berbunyi kuat.


Gadis yang masih dalam mimpi itu mengerang, mengulurkan tangan dan dengan cepat mematikan jam alarm.


"Ehem, masih pagi banget."


Dia terus tidur dan berbaring selama 15 menit, sampai alarm kelima berbunyi. Angela baru mengerang dan bangkit untuk duduk di ranjang.


"Kayaknya udah sampai waktu tidur siang nih."


Angela belum sepenuhnya bangun, dia dengan enggan meninggalkan ranjang yang hangat dan berjalan ke kamar mandi.


Setelah berdiri di kamar mandi selama sepuluh menit, matanya perlahan terbuka.


Dia hampir terpeleset dan jatuh saat keluar dari kamar mandi, untung berhasil meraih kusen pintu pada detik terakhir.


"Brengsek, hampir saja mati..."


Mulutnya masih menggigit sikat gigi, bergumam pada diri sendiri dan meninggalkan kamar mandi.


Dia memakai kaos kakinya dengan susah payah, mencium-cium pakaiannya, dan kembali ke kamar mandi tanpa memakai baju.


Dia sudah terbiasa begitu sejak SMA.


Setelah berganti pakaian dan naik bus, Angela meminum kopi di tangannya dan melihat rumah dan jalan yang bergerak lewat jendela.


Angela sesekali menatap diri sendiri melalui kaca jendela, dan sepertinya dia sudah siap untuk memulai hari pertamanya di kampus.


"Perhentian selanjutnya, Universitas Gajah Mada."


Mendengar suara pemberitahuan, dia segera bangkit dan turun dari bus.


Sebuah gedung tinggi dan tanaman hijau yang mengelilingi, kampusnya sudah tiba.


Berjalan menuju gedung, dia memasuki aula yang didekorasi dengan indah.


Banyak sekali gadis seusianya yang berdiri dan duduk di sana, ada yang sedang berbicara, ada juga yang sedang main hp.


"Angela!"


Seseorang memeluknya dari belakang, suara panggilan itu menarik kembali pikirannya.


Temannya itu mengabaikan perkataannya dan memeluknya sampai Angela tersipu malu, dan baru melepaskannya.


Dia menghela napas panjang dan menatap temannya.


"Mina, jangan gitu ah!" Dia berkata dengan suara lemah.


"Ya ya, gue kan senang! Kita berhasil masuk perguruan tinggi! Emang lu gak senang?"


Melihat ini, beberapa orang di sekitar tidak bisa menahan tawa, tetapi segera tenggelam dalam aktivitas mereka masing-masing.


"Tentu senang dong, lu kan Mina."


Mina hanya mengerutkan kening padanya: "Gak semangat sama sekali!"


Ah, ini akan menjadi hari yang panjang...


Pikiran Angela ditarik kembali oleh suara pemberitahuan yang meminta semua siswa untuk berkumpul di aula utama.


Satu hari telah berlalu, tapi tidak ada kejutan besar.


Angela kembali ke rumah dengan jadwal pelajaran yang penuh, termasuk setumpuk kertas yang tidak jelas.


Sudah tidak ada tempat di lantai, dia hanya bisa meletakkan di kursi.


"Kok gak lewat email aja?"


Kertas benar-benar susah dibawa.


Angela berbaring di ranjang sambil menonton video di YouTube.


Setelah beberapa waktu berlalu, perutnya mulai berteriak.


Dia memaksa dirinya untuk bangun dan mencari makanan di kulkas.


Sebuah panci berisi kari yang dia coba dua hari lalu.


Tambahkan cabai dan merica, lalu hangatkan makanan, setelah itu nyalakan komputer untuk melihat blogger favoritnya sudah upload video baru atau belum.


Ternyata belum ada...


Setelah itu, dia terpaksa menonton siaran langsung pertandingan game sambil makan malam.


Saat akan tidur, Angela menatap langit-langit, dan mengerutkan kening.


Kehidupan universitas akan dimulai besok.


Sudah berjuang selama bertahun-tahun, dan kedepannya masih harus terus berjuang.

__ADS_1


Mungkin aku harus bergabung dengan Klub Taekwondo.


Tetapi aku mendengar bahwa komunitas di universitas tampaknya sangat membosankan.


Setelah beberapa saat, Angela tertidur lelap, memimpikan dunia dalam game, dengan banyak pria ganteng.


Bagaimanapun, ini adalah malam yang indah.


…………


Mata Angela perlahan terbuka di tengah suara kicau burung dan sinar matahari yang menyinari wajahnya.


"Wow, apa yang terjadi?"


Dia berkata dengan kuat sambil melihat sekeliling.


Ada pepohonan di sekelilingnya, dan matahari bersinar melalui celah-celah pepohonan.


Dia bisa mendengar suara aliran sungai di kejauhan.


Apa sebenarnya yang sedang terjadi?


Kejadian yang tiba-tiba, membuat dia bangun lebih cepat dari sebelumnya.


Apakah seseorang menculikku?


Atau ini prank?


Hanya ada pepohonan di sekeliling, tidak ada satu orangpun sama sekali.


Aku harus tinggal di sini?


Setelah menunggu selama sepuluh menit, tidak ada yang terjadi, dia menjadi tidak sabar, kebingungan dan ketakutan menyebar di benaknya, dan naluri mengatakan kepadanya bahwa ini mungkin bukan prank.


Sambil berpikir, dia mulai berjalan ke arah suara aliran sungai.


Di mana ada air, di situ ada kehidupan, dan pasti ada desa dan kota.


Jadi pasti ada orang di sana.


Mungkin penculik yang menculikku merasa tidak puas padaku?


Sialan! Apakah aku tidak cantik!?


Dia mencoba menenangkan diri dan berjalan menuju sungai.


Tidak ada suara aneh disini.


Ini tidak mengherankan, lagi pula, aku jauh dari sana.


Setidaknya aku punya piyama.


Angela berjalan menuju sungai, memeluk lengannya erat-erat.


Sebuah suara raungan memecah kesunyian, suara yang belum pernah dia dengar sebelumnya.


Dia membeku di tempat, mencari sumber datangnya suara.


Tidak ada apa pun.


Dia berdiri di tempat selama satu menit penuh, pikirannya kosong.


Apa itu!?


Beruang?


Tidak, suaranya terdengar berbeda, aku pernah menonton di video...


Dia akhirnya mengambil keputusan dan bersembunyi di balik pohon.


Tidak peduli apa situasinya, aku harus tetap diam dan tidak bergerak. Tendangan Taekwondo mungkin hanya sebuah gelitik bagi beruang.


Raungan lain yang lebih dekat membuatnya membeku lagi, seluruh tubuhnya gemetaran, Angela bisa merasakan jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya.


Langkah kaki yang berlari tiba-tiba terdengar.


Ketika suara dua hewan itu berlari semakin dekat, satu-satunya hal yang ada di pikirannya adalah ‘besar’.


Sebuah raungan tajam memecah keheningan, dan kemudian sebuah raungan lain yang memekakkan telinga, menutup semua suara di sekitarnya.


‘Dar’, sebuah langkah kaki yang kuat tiba-tiba berhenti.


Suara retak yang membuat mual memenuhi telinga Angela, lalu menjadi hening dalam sekejap.


Apa... ini... sialan apa ini..., mengintip pepohonan di sekitarnya, Angela membeku sepenuhnya.


Bola matanya yang berkilau menatap adegan di depannya.


Dia bahkan tidak memperhatikan bau urin dan kehangatan di antara kedua kakinya, dia hanya fokus melihat naga di depannya sedang menggigit seekor binatang tak dikenal.


Panjang 3 meter, seekor naga yang tidak bersayap, dengan mulut berdarah, menatap ke arahnya.


Mata mereka saling bertatapan.


[Naga Api-Level??]


[Ding! Selamat! Anda telah mempelajari keterampilan umum [Wawasan]]


Tidak tertarik, naga api lanjut menyantap mangsanya, tulang-tulang binatang itu retak karena kekuatan rahangnya yang besar.


Hidung Angela dipenuhi bau amis darah dan urin, indranya menjadi lebih sensitif.

__ADS_1


Pikiran untuk melarikan diri muncul di benaknya.


Dia berjalan perlahan, setiap langkahnya lebih stabil dan lebih cepat dari langkah sebelumnya.


__ADS_2