Panduan Bertahan Hidup Loli, Aku Tak Ingin Mati

Panduan Bertahan Hidup Loli, Aku Tak Ingin Mati
Koin Dan Harga Barang


__ADS_3

Dia tidak cocok dengan pakaiannya sama sekali, dan rambutnya sangat berantakan.


Darah kering menodai tubuh dan pakaiannya.


"Gue pasti bau banget..."


Dia mengambil baju biasa dan segera keluar.


Prajurit yang bertugas saling berpandangan. Angela membawa seember air dan berjalan ke gudang di dekat sumur.


Dia melepas pakaiannya dan mandi dengan bersih.


Setelah setengah jam mandi air dingin, dia mengenakan pakaian baru dan kembali ke kamar.


Melihat ke cermin dan memperhatikan baik-baik.


Akhirnya jadi bersih.


Ia pun membuka bajunya, naik ranjang tidur, lalu tidur.


Malam ini adalah malam yang paling nyaman dalam beberapa bulan ini.


Meskipun pengalaman hari ini tidak begitu baik, tetapi dia masih tidur dengan nyenyak.


Dia tidak bermimpi malam itu.


Tidak tahu jam berapa, ketukan di pintu membangunkannya.


"Ini aku, Daniel, maaf mengganggumu, tapi aku akan pergi satu jam lagi. Aku mau membayar imbalanmu dulu sebelum pergi."


Daniel berdiri di luar.


Dalam waktu kurang dari satu menit, Angela berpakaian.


Mengenakan jubah, rambut hitamnya tergerai, lalu ia membawa ranselnya.


Angela membuka pintu. Daniel membuka matanya lebar-lebar dan tertegun selama dua detik sebelum dia kembali sadar.


"Oh, maaf, kamu terlihat... berbeda."


Dia tersenyum dan menggaruk kepalanya.


Angela mengikutinya.


"Jangan buat masalah di kota, ya."


Mereka berbelok.


Pusat Keamanan sebagian besar adalah bangunan beton.


"Um......"


Memasuki sebuah ruangan, Daniel membuka laci, mengeluarkan beberapa koin perak dan menyerahkannya pada Angel.


"Biaya standar menyewa Master Obat di kota adalah tiga koin perak."


Angela mengambil koin perak itu.


"Bagaimana dengan atributnya?" Angela bertanya.


Daniel terlihat bingung.


"Atribut apa? Apa yang kamu bicarakan?"


"Semua itu milikmu."


Angela hanya mengangguk pelan.


"Daniel, makasih ya. Kamu benar-benar sudah membantuku."


Angela mengulurkan tangan dan menjabat tangan Daniel.


"Jangan khawatir. Meskipun kota ini tidak terlalu aman, tapi Master Obat paling disukai di sini."


Daniel mengedipkan mata padanya dan mengarahkannya ke pintu.


"Kamu punya rencana kedepannya?"

__ADS_1


Daniel berjalan keluar dan mengunci pintu. Angela menjawab, "Aku mau keliling kota dulu, lalu pergi beberapa bulan."


"Tapi aku akan kembali mengikuti festival. Tiga bulan lagi, kan?"


Daniel mengangguk: "Hati-hati jangan sampai terbunuh."


"Festival Kuten akan dimulai tiga setengah bulan lagi."


"Semoga bisa bertemu denganmu lagi."


Angela tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal padanya dan meninggalkan Pusat Keamanan.


Begitu hari mulai terang, seisi kota kembali menjadi ramai.


Lonceng dapat terdengar di kejauhan, begitu juga dengan suara beberapa anjing yang sedang menggonggong.


Angela berbalik dan berjalan ke seorang prajurit yang berdiri di pintu.


Dia mengangguk padanya dan bertanya di mana bisa membeli buku tentang geografi dan satwa liar.


Penjaga memberitahu dengan detail lokasi perpustakaan terbesar di kota.


Sepertinya di pusat Kota Kuten.


Bangunan di sini cukup kuno.


Tidak ada landmark atau pemandangan yang aneh dan berlebihan.


Anak-anak bermain di gang, dan orang-orang mulai menyiapkan kios untuk menjual barang-barang dagangan.


Semakin dekat ke pusat kota, semakin ramai dan banyak kios.


Akhirnya sampai di perpustakaan.


Begitu memasuki pintu, udara tiba-tiba menjadi jauh lebih dingin.


Rak buku di perpustakaan penuh dengan buku.


Seorang pustakawan sedang duduk sendirian di meja menulis sesuatu.


Pria itu tidak melihat ke atas, "Ada yang perlu dibantu?"


"Aku baru saja datang ke sini, aku ingin mencari buku tentang geografi dan satwa liar."


Angela sengaja mengubah logat bicaranya untuk membuat dirinya terdengar seperti orang asing.


"Kurasa buku semacam itu tidak akan banyak membantumu..."


Pria itu bergumam, dan masih menulis.


Selesai menulis, dia membunyikan bel di atas meja.


"Staf akan membantumu..., 5 koin perunggu per jam."


Angela menunggu beberapa saat.


Sepuluh detik kemudian, seorang gadis berusia sekitar 16 tahun muncul. Ia menatap pustakawan dengan tatapan penuh pengharapan.


Pustakawan itu hanya menunjuk Angela.


Gadis itu berjalan dan mengulurkan tangannya.


"Halo, namaku Christina. Ada yang bisa kubantu?"


"Senang bertemu denganmu, namaku Angela."


"Aku ingin tahu sesuatu tentang geografi dan satwa liar."


Christina mengangguk dan memberi isyarat agar Angela mengikutinya.


Keduanya datang ke ruangan terpisah.


Baru saja duduk, Angela sudah tidak sabar.


"Aku baru saja tiba di kota ini."


"Sejak kecil, aku tinggal di pedesaan, jadi banyak yang gak paham."

__ADS_1


"Pernah baca buku sih, tapi masih banyak yang gak ngerti."


Gadis itu hanya duduk di sana dan mengangguk.


"Aku ingin tahu informasi-informasi dasar di kota ini."


"Jika ada yang menyinggungmu, mohon maaf ya."


Angela mencoba berpura-pura kasihan.


Meskipun mereka seumuran, Angela tidak tahu apa-apa tentang dunia ini.


"Tentu saja, tanyakan saja padaku."


"Jika aku tidak tahu, aku akan mencari buku terkait untuk membantumu."


Dia menjawab sambil tersenyum.


Mengambil napas dalam-dalam, Angela mulai bertanya.


"Bagaimana cara kerja sistem mata uang disini?"


"Aku mendapatkan uang di desa, tapi tidak tahu nilai koin perak dan perunggu."


Setelah mendengar pertanyaan ini, gadis itu menghela napas dan mengangkat alisnya.


"Pertanyaan dasar seperti itu... um..."


Dia terus bergumam dengan suara rendah, Angela tahu bahwa pertanyaan ini sangat konyol.


Gadis itu menjawab pertanyaan itu dengan suara lantang.


"100 koin perunggu sama nilainya dengan 1 koin perak, dan 100 perak sama dengan 1 koin emas."


"Bisakah kamu menjelaskan lebih detail?"


Christina memaksakan diri untuk tetap tersenyum.


"Misalnya, berapa harga pedang, dan harga sepotong roti?"


Christina tampak lega dan melanjutkan.


"Tentu saja, setiap tempat berbeda."


"Dan kualitas pedangnya juga berbeda, jadi harganya juga berbeda."


"Dibutuhkan sekitar 2 hingga 10 koin perunggu untuk sekali makan."


"Kalau makan enak, mungkin harganya beberapa koin perak."


"Pakaian... satu set sekitar 10 perak."


"Darah dan obat dalam jumlah dikit sekitar 1 atau 2 koin emas."


"Kalau dipakai untuk beli armor macam prajurit kota, setidaknya bisa beli beberapa set.."


"Tentu saja, itu tergantung pada kualitasnya."


"Jika kamu gak ingin ditipu di kota ini, itu sangat sulit. Setidaknya kamu harus paham semua produk, nilai pasar saat ini, masalah dan aturan perdagangan di kota lain, dan..."


Angela menghentikannya.


"Aku mengerti, trima kasih."


"Negara-negara apa saja yang ada di sekitar daratan sekarang? Ngomong-ngomong, bagaimana kamu menyebut daratan?"


Christina mengedipkan mata.


"Kamu sangat aneh... maaf! Aku tidak bermaksud menghina pelanggan... Hanya saja..."


Angela tersenyum padanya.


"Gak apa, aku benar-benar gak tahu."


"Makanya aku ke sini."


"Jika kamu dapat membantuku menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, aku janji akan bayar kamu lebih banyak."

__ADS_1


__ADS_2