
Tiba-tiba Angela merasa benda-benda di depan matanya berputar-putar, dia tidak tahan, segera berlutut dan muntah.
"Apa yang terjadi..."
Setelah muntah, dia menyeka mulutnya.
"……Sialan."
[Kekuatan +2, Kelincahan + 3]
"Apa yang telah terjadi……"
Melihat sekeliling, dia menemukan dirinya berada di sebuah lorong panjang.
Ada lebih banyak patung dewa di sini.
Rumput tumbuh di langit-langit dan dinding, memancarkan cahaya biru redup.
"Teleportasi sihir?"
Menebak bagaimana dia datang ke sini, Angela melirik lingkungan sekitarnya.
Patung dewa-dewa ini terlihat sama seperti sebelumnya.
Apakah aku masih di kuil?
Mungkin ini ruangan tertutup di kuil?
Angela berdiri, dan mengerutkan kening.
"Sial... sakit banget!"
Lengannya masih berdarah, dan rasa sakit kembali menjalar ke seluruh tubuh.
"Ini lebih sakit daripada saat kaki patah!"
Dia memegang lengannya yang terluka dan melihat sekeliling, lalu menemukan sebuah tripod perunggu besar lebih dari sepuluh meter jauhnya, memancarkan sinar dari air di dalamnya.
"Gue harus bersihin luka dulu..."
Angela berjalan ke sana dan memasukkan tangannya ke dalam air.
"Um... lumayan, air ini lebih bersih dari air liur serigala."
Yang mengejutkannya, rasa sakitnya segera mereda, dan lukanya sembuh dalam sekejap, bahkan tanpa meninggalkan bekas.
"Apa yang terjadi... ini air suci? Keren banget!"
Penemuan ini membuatnya sangat gembira, karena merasa haus, Angela meminum beberapa terguk air itu.
"Wah, ini enak banget..."
Rasanya jauh lebih enak daripada kopi.
Setelah bersandar pada tripod perunggu dan beristirahat sebentar, Angela bangkit dan berjalan ke sisi lorong.
Sebuah pintu terbuka menyambutnya.
Dalamnya gelap gulita.
Dia mencabut beberapa rumput dari dinding lorong sebagai penerangan, dan berjalan ke dalam ruangan.
Ruangan itu kosong.
"Ruangan yang aneh... macam penjara."
Kembali ke lorong, Angela menggunakan keterampilan Wawasan untuk melihat rumput di tangannya.
[Rumput Bulan Biru]
Tidak ada banyak informasi.
Berjalan ke sisi lain lorong, dia memeriksa patung-patung dewa di lubang dinding setiap beberapa meter.
__ADS_1
Patung-patung itu memiliki postur yang berbeda dan ekspresi berlebihan.
Tapi rongga mata mereka tidak sekosong yang sebelumnya, bola mata mereka sepertinya diganti dengan batu safir biru.
Sulit untuk melihat dengan jelas, karena rerumputan yang bercahaya biru tumbuh di sekeliling patung.
Berjalan beberapa saat, Angela menemukan ruangan lain.
Ruangan itu penuh dengan rak buku.
Angela berjalan masuk, dan satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu adalah cahaya Rumput Bulan Biru yang redup di tangannya.
Aneh, ini sepertinya ruang belajar.
Dia mengambil salah satu buku, tapi buku itu langsung berubah menjadi abu.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga bisa membuat sebuah buku berubah menjadi abu?
Berjalan mendekat, Angela menemukan huruf-huruf aneh yang tertulis di beberapa rak buku.
"Ini mungkin tulisan mantra."
Dia memeriksa beberapa buku di rak, tapi kebanyakan dari buku-buku itu sama sekali tidak bisa dibaca.
Akhirnya dia menemukan buku yang bisa dibaca, dan mengeluarkan buku itu dari ruangan.
Sampulnya tertulis, "Keterampilan Master Obat Tingkat Lanjut III".
"Tulisan di sampulnya gue sih kenal, tapi karakter di dalam buku bukan alphabet!"
"Buku ini jelas tidak cocok buat pemula macam gue, pasti masih ada yang lain."
Kembali ke ruangan itu, Angela mengambil semua buku yang masih bagus.
Sayangnya, hanya beberapa buku saja yang bisa dibaca di antara ratusan buku itu.
Yang paling menarik adalah sebuah diari.
"Hari Kebangkitan"
"Aku mempertanyakan keputusanku untuk bergabung dengan Sekte Devana, tetapi tidak ada gunanya aku mempertanyakan itu."
"Aku memasuki Ruang Kebangkitan Kebebasan, berhasil ataupun tidak."
"Aku akan menjadi pengikut Master Obat, menjadi lebih kuat dari siapa pun sebelumnya ..."
Membaca beberapa halaman depan diari, Angela merasa tempat ini sepertinya milik sebuah organisasi.
Menyebut mereka sendiri sebagai “Sekte Devana”.
Mengungkit Master Trik dan Master Obat.
"Berarti gue ada di Ruang Kebangkitan sekarang, eh?"
"Dia seharusnya berada di sini sendirian, apakah dia dipenjara..."
Diari ini mencatat sihir-sihir yang dipelajarinya.
"Ada poin penting yang harus dipelajari dalam diari ini... benar-benar kutu buku..."
Angela menertawakan diri sendiri dan lanjut membaca.
Rumput Bulan Biru tampaknya sangat penting untuk meningkatkan keterampilan sihir.
Ini semua dapat dicapai melalui banyak belajar dan latihan jangka panjang, tetapi butuh kesabaran.
Sulit untuk menjadi lebih kuat dengan cara kolot.
Setelah ujian yang mengerikan, dia menemukan cara untuk meningkatkan kekuatannya dengan cepat.
Dengan makan Rumput Bulan Biru dan minum Air Suci, mereka akan maju lebih cepat, begitu juga dengan keterampilan mereka.
"Cara yang buruk, apakah tidak ada pilihan lain..."
__ADS_1
Tentu saja, metode ini memiliki kelemahan.
Di satu sisi, sekitar 35% Master Obat langsung mati setelah makan rumput.
Rumput itu mengubah struktur internal tertentu dari tubuh dan bisa sangat beracun jika tidak sesuai.
Lebih dari sepertiga anggota mati keracunan.
Banyak orang masih mengambil risiko.
Peningkatan keterampilan yang cepat akan membuat banyak anggota Sekte Devana menjadi terlalu percaya diri dan menggunakannya secara membabi buta tanpa pelatihan yang memadai.
Kecepatan peningkatan keterampilan tergantung pada berapa lama mereka dapat tinggal di dalam ruangan.
Rumput tumbuh sangat lambat, jadi anggota Sekte Devana hanya bisa menggunakan rumput dalam jumlah terbatas.
Jelas tidak mungkin untuk meningkatkan keterampilan ke tahap ketiga dengan cara ini.
Setelah mencapai tahap kedua, kebutuhan akan rumput akan meningkat tajam hingga khasiatnya tidak lagi terasa.
Karena persediaan rumput yang terbatas, kebanyakan dari mereka hanya bisa memasuki tahap awal kedua.
Penulis diari ini tampaknya meningkatkan keterampilannya ke bagian akhir dari tahap kedua, dan kemudian keluar dari sini.
Hanya orang yang makan Rumput Bulan Biru, lalu memperoleh keterampilan tertentu baru bisa keluar dari sini.
"Sialan... brarti gue harus makan rumput?"
"Jika ini seperti sebuah permainan... paling mulai dari awal lagi..."
Angela menatap rumput bercahaya dengan curiga, dan lanjut membaca buku.
“Keterampilan Dasar Master Obat I”, “Keterampilan Dasar Master Obat II”, “Keterampilan Dasar Master Obat III”, “Keterampilan Master Obat Tingkat Lanjut III”, “Sejarah Sekte Devana IV”, “Sejarah Sekte Devana XII", "Keterampilan Pengobatan Dewata", "Keterampilan Dewa Obat Tingkat Lanjut, "Keterampilan Transformasi Sihir Master Trik"
Selain itu, ada puluhan diari anggota Sekte Devana.
Jelas, menulis diari dapat meningkatkan keterampilan mereka dengan cepat.
"...Sayang banget, buku yang bisa gue baca cuma ini doang."
Angela memeriksa ruangan dan lorong untuk melihat apakah ada makanan selain rumput di dinding.
Setelah mencari selama hampir dua jam, dia duduk kembali di sebelah tripod perunggu dan menghela napas.
Melihat Rumput Bulan Biru di dinding, Angela berdiri.
"Gue kalo mau mati, juga harus mati berdiri."
Dia mencambut rumput dari dinding dan memakannya.
…………
Satu menit berlalu... lalu...hampir sepuluh menit masih tidak ada yang terjadi.
"Eh... ini..."
Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Angela mulai mengejang.
Dia meregangkan tubuhnya ke lantai dan mulai berteriak.
Rasa sakitnya lebih buruk daripada gigitan serigala.
Tidak ada yang menyebutkan ada rasa sakit seperti ini dalam diari itu. Mungkin karena pertimbangan untuk pemula.
Sepuluh menit kemudian, Angela masih menjerit kesakitan, rasa sakitnya tidak berkurang, dan setiap kali jantung berdetak akan membawa siksaan baru.
Setelah setengah jam, jeritan berhenti, tetapi masih terasa sakit.
Setiap beberapa menit, tubuhnya akan berkedut, merasakan setiap sarafnya tercabik-cabik.
Satu jam kemudian, cahaya biru mulai memancar dari tubuhnya.
Membentuk tulisan mantra yang berbeda dengan yang di rak buku.
__ADS_1
Setelah satu jam lagi, cahaya itu menghilang, dan Angela yang di lantai mengerang pelan.
"Aku benci dunia ini..."