
Setelah berlari selama lebih dari setengah jam, Angela akhirnya terjatuh di tepi kolam.
Dia menahan napas selama beberapa menit, mencoba untuk tidak muntah, pikirannya benar-benar kacau.
Ketika dia meringkuk seperti seorang bayi kecil, air mata mengalir keluar dari matanya.
"Tidak!"
Tarikan napasnya melambat, Angela berbaring selama dua menit, dan kembali tenang.
[Ding! Napas Internal mencapai batas - kembali menghitung nilai - Napas Internal +3]
Tenang, Angela.
Binatang itu seharusnya tidak mengejarmu.
Kamu beruntung, tidak ada binatang lain di sini.
Jalan setapak ada di sana, baunya...
Menoleh ke bawah, urin di pahanya telah kering.
Dia bangkit, memasukkan kakinya ke dalam kolam kecil, dan mulai membersihkan.
"Binatang itu seharusnya cukup untuk menjadi santapan naga..."
Setelah cukup bersih, dia meninggalkan kolam.
"Mesti cari cara untuk keluar dari sini."
Angela berhati-hati untuk tidak menginjak apa pun yang bisa mengeluarkan suara kuat, dan mulai berjalan pergi.
"Gue harus waspada dengan sekelilingku. Jelas ini tempat yang aneh."
"Mungkin ini pulau yang tak dikenal... tapi sulit menjelaskan suara aneh di kepalaku itu."
"Atau ini tempat fantasi dunia lain?"
"Naga Api? Apakah binatang itu ada di dunia nyata..."
"Kenapa dia tidak memakanku?"
"Atau mungkin ini adegan dalam game virtual, tapi ini terlalu nyata."
"Gue gak mau mati di dunia game. Main ulang itu terlalu merepotkan."
Berjalan selama 15 menit, Angela berhenti di tepi lapangan terbuka.
Dia duduk di dekat pohon untuk merenungkan apa yang terjadi.
"Gue berada di tempat aneh."
"Ada naga api, dan suara aneh di kepala."
"Mungkin ini produk media terbaru, mereka melakukan semua ini pasti demi uang."
Melihat ke langit, tidak ada daun di tempat terbuka, Angela menyadari sesuatu yang berbeda.
"Ada 2 matahari, jadi ini pasti bukan di bumi."
"Kalo bukan dunia lain, pasti dunia virtual."
"Atau gue minum obat yang membuatku berhalusinasi?"
"Terlalu banyak kemungkinan..."
"Naga api sialan. Gue masih pake piyama nih!"
Mengambil napas dalam-dalam, Angela menutup matanya dan berseru, "Persetan."
"Gue pernah baca di Internet, kalo berada di hutan belantara, harus mencari tempat berlindung dulu."
"Tapi, tempat berlindung macam apa ya?"
"Setau gue, pasti ada binatang buas di dalam gua."
"Kata suara barusan, dia bilang gue dapat keterampilan?"
"Apa berkaitan dengan naga api yang gue lihat itu?"
Layar informasi muncul di benak Angela.
[Nama: Angela]
[Profesi: Tidak ada]
[Identitas: Tidak ada]
[Keterampilan umum:]
[Bahasa Standar Dunia Komprehensif Level 5]
[Wawasan Tingkat :1]
__ADS_1
[Atribut pribadi:]
[Vitalitas: 5]
[Ketahanan: 8]
[Intensitas: 5]
[Kelincahan: 5]
[Kecerdasan: 5]
[Kebijaksanaan: 5]
[Darah: 50/50]
[Napas Internal: 36/80]
[Sihir: 50/50]
"Ini seperti permainan peran, tapi semuanya terasa nyata."
"Dari informasi ini, gue akan mati tragis kalo melawan naga api itu."
"Tapi, seharusnya masih ada ruang untuk meningkatkan keterampilan."
"Lupakan saja, ayo cari tempat berlindung dulu."
"Nilai Napas Internal : 36, setelah 1 menit lihat berapa nilainya."
Satu menit berlalu.
Cek lagi informasinya, Napas Internalnya : 44.
Jadi 8 poin per menit, 10% dari Napas Internal maksimum saat ini.
Ini mungkin kebetulan.
Tapi lumayan bagus.
Angela berdiri dan mulai berjalan ke salah satu arah.
"Gue gak bakalan kembali ke kolam atau tempat naga api itu lagi."
Sepuluh menit berlalu dan tidak ada yang terjadi.
Cahaya matahari terik masuk melalui celah pepohonan.
Ini adalah tanjakan.
Di atas sana mungkin ada tempat berteduh.
Daun pepohonan melindunginya dari terik cahaya matahari, dan suhunya tampaknya tidak terlalu tinggi.
Setelah dua puluh menit berlalu, jalan mulai menjadi datar.
Setiap kali Angela mendengar suara raungan familiar di kejauhan, dia selalu menahan napas dan berhenti.
Suara itu datang dari arah yang berbeda, jadi dia yakin ada lebih dari seekor binatang besar di sini.
Satu-satunya tujuannya adalah berjalan ke atas, mungkin bisa keluar dari hutan ini tanpa dimakan.
Namun, wilayah naga itu seharusnya cukup luas, dia melihat beberapa binatang yang tampaknya tidak berbahaya dan bahkan merasa familiar.
Binatang-binatang itu sudah cukup untuk dijadikan santapan naga, dan dia seharusnya tidak begitu sial sampai menjadi santapan naga itu.
Setidaknya, itulah yang dia harapkan sekarang.
Angela menggunakan keterampilan wawasan terhadap setiap binatang yang dilihatnya, tapi tidak mendapatkan informasi yang berguna.
[Level Rusa Merah??], [Level Burung Pelatuk??], [Kaki Seribu Level 3]...
Sepertinya efektif terhadap binatang apa pun.
Tampaknya level itu sangat penting.
"Gue gak mau lawan naga api yang belum jelas levelnya..."
Angela melirik lingkungan sekitar dan terus berjalan ke atas.
Mendaki tanjakan, dia kehausan, tetapi dia benar-benar tertarik dengan pemandangan di depannya.
"Wow, itu sebuah reruntuhan... macam kuil, indah banget."
"Semoga gak ada binatang buas di sana, gue gak ada pisau buat melindungi diri!"
Setelah memeriksa lingkungan sekitar kuil dengan teliti, Angela menyadari bahwa dia telah mencapai puncak gunung.
Dia berdiri di pintu kuil yang bobrok, dan tiba-tiba mendengar suara raungan di belakangnya.
Dia berbalik dengan hati-hati dan melihat dari mana suara itu berasal.
"Kalo gue dikira penyusup..."
__ADS_1
[Serigala Merah-Level 4]]
Tiga ekor serigala merah keluar dari semak-semak dan perlahan mendekatinya.
"Kayaknya naga api itu bukan satu-satunya pemangsa di sini..."
"Jika tersesat di hutan, pasti akan mati."
"Sepertinya gue sekarang cuma bisa milih sembunyi di kuil..."
Angela tidak terkejut dengan ketenangan yang dimilikinya saat ini.
Dibandingkan dengan naga api, serigala-serigala ini tidak terlalu menakutkan.
Sebelum datang ke sini, dia pernah melihat serigala di kebun binatang, dan dia tidak merasa bahwa mereka mengerikan.
Serigala bisa membunuh manusia, begitu juga manusia.
Saat serigala mendekat, dia perlahan mundur ke pintu kuil, suara raungan menjadi semakin kuat, mereka mulai mengelilingi Angela.
Angela segera berbalik dan berlari ke kuil, diikuti oleh serigala.
Cahaya matahari masuk melalui atap bolong dan dinding yang rusak.
Semak-semak dan pepohonan kering ada di mana-mana, dia tidak punya waktu untuk melihat patung-patung di altar.
"Gue mesti cari cara untuk keluar dari sini..."
Ada pintu kayu terkunci di dinding dekat patung.
Untungnya, gembok telah lama rusak.
Angela berteriak, menendang pintu hingga terbuka, dan langsung berlari masuk.
Di dalamnya ada sebuah lorong.
Berlari melintasi lorong dan mendengar serigala mendekat di belakangnya, dia berbalik dan masuk ke ruangan lain.
Ada patung dewa di ruangan itu, tampaknya seperti Dewa Perang. Kedua tangannya terangkat tinggi, memasang kuda-kuda untuk melawan. Rongga matanya kosong, dan ada sisa api unggun di lantai.
"Ada yang pernah menghuni di sini... tapi kayaknya sudah lama banget..."
Angela melihat sekeliling ruangan dan tidak mendapatkan cara untuk melarikan diri.
Ada lubang di atap, tapi terlalu tinggi.
Ketika lagi berpikir, serigala pertama memasuki ruangan.
Angela yang awalnya tenang, mulai merasa panik.
Tidak ada jalan keluar.
Angela, dengan punggung membelakangi patung dewa, merasa sangat ketakutan.
"Sialan..."
Melihat patung di sebelahnya, dia menyeringai dan meniru gerakannya.
"Ayo terima tinjuku..." Angela menatap serigala itu, dan berkata dengan yakin.
"Hanya anjing bergigi tajam, gue gak takut sama lu..."
Dengan raungan, serigala mencoba menerkamnya.
Serigala bergerak cepat, tapi Angela masih sanggup menghadapi.
Tendangan kesamping yang kuat mengenai kepala serigala dan membuatnya jatuh ke sebelah kiri.
Pada saat yang sama, dua ekor serigala memasuki ruangan.
Angela mengabaikan tangisan serigala di sebelah kiri dan bersiap untuk menghadapi dua ekor serigala lainnya.
Serigala berlari cepat, melompat ke arahnya dari kedua sisi.
Angela menendang dagu serigala sebelah kiri, dan yang di sebelah kanan diblokir dengan lengannya.
Tapi serigala berhasil menggigit lengannya.
Angela melempar tinjuan kiri ke perut serigala itu, dan memaksanya untuk melepaskan gigitan.
Angela kembali memasang kuda-kuda, dan saat ini ada empat ekor serigala yang menatapnya, sekarang mereka lebih waspada terhadap mangsa di depannya.
Angela bersiap untuk serangan berikutnya, dan darah menetes dari lengannya.
Rasa sakit itu membuat lengannya sedikit mati rasa.
Suara dengungan yang tiba-tiba membuatnya tidak bisa berkonsentrasi.
Serigala-serigala itu terkejut, menjerit-jerit, dan bergegas melarikan diri dari ruangan.
"Hahahaha, dasar sampah!! Masih kalah sama anjing!"
Angela tidak memperhatikan cahaya di bawah kakinya, dan hanya berteriak gembira atas kemenangannya.
__ADS_1