Panduan Bertahan Hidup Loli, Aku Tak Ingin Mati

Panduan Bertahan Hidup Loli, Aku Tak Ingin Mati
Kota Kuten


__ADS_3

Sebuah tangan memegang bahunya, Angela terbangun dari keadaan linglung.


"Pertama kali bertemu pertempuran seperti ini, kan?"


"Master Obat kami terluka minggu lalu, jadi aku harap kamu bisa bantu kami."


"Kamu bisa keterampilan Master Obat?"


Angela mengangkat kepalanya dan melihat prajurit di sebelahnya.


Setelah menutup matanya selama beberapa detik, dia segera mengangguk.


"Bisa berjalan sendiri?"


Angela mengangguk lagi.


Prajurit itu memberi isyarat agar Angela mengikutinya.


Mencoba untuk tidak melihat mayat di sekitarnya, Angela berlutut di samping seorang prajurit yang pahanya terluka..


Prajurit itu mengertakkan gigi untuk menahan rasa sakit dan mengangguk kepada Angela.


Dengan begitu, Angela pun memulai pemulihan. Telapak tangannya mengeluarkan cahaya biru.


Ia menekannya pada kaki sang prajurit dan menyaksikan lukanya sembuh sedikit demi sedikit.


Sebelum selesai, sebuah tangan menghentikannya.


"Ini sudah cukup, gunakan sihirmu pada yang lain."


Prajurit itu mengangguk padanya lagi, lalu memejamkan mata dan beristirahat.


Angela pun melanjutkan pengobatannya dan berhasil mengobati tiga orang lainnya yang sekarat.


Tidak ada prajurit yang meninggal.


[Ding! Pemulihan mencapai level 3]


"Terima kasih atas bantuanmu."


Prajurit pertama yang berbicara dengannya mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri.


"Namaku Daniel. Kamu telah membantu kami menghemat obat mahal."


"Sihir biru di tanganmu sangat menarik."


"Aku belum pernah melihat yang seperti itu."


Angela berjabat tangan dan memperkenalkan diri.


"Namaku Angela, gak usah sungkan."


"Senang bisa membantu kalian."


"Jika kamu mau, aku bisa menyembuhkan semua orang yang terluka parah."


Daniel menggelengkan kepalanya.


"Mereka akan pulih perlahan."


"Biarkan mereka menderita."


"Meskipun hampir saja mati, tapi biar mereka ingat dan lebih hati-hati kedepannya.."


Sebagai tanggapan, Angela mengangguk, lalu melihat ke sekeliling.


"Kamu boleh ikut kami kembali ke Sungai Harapan."


"Mungkin kami bisa membelikanmu baju yang cocok."


Daniel berkata dengan senyum tulus.


"Kami harus membersihkan tempat ini terlebih dahulu, sebelum  mengangkut semuanya kembali."


"Jika kamu mau datang, tempat kami tidak terlalu jauh dari sini."


"Aku akan membayar uang imbalan kepadamu."


Angela mengangguk padanya, berbalik dan berjalan menuju medan perang dengan mayat di mana-mana.


Mayat masih tergeletak di jalan, menodai tempat tersebut dengan darah.


Usus keluar dari perut yang terbuka dan ada juga mayat yang tak berbahu.


Untuk mencegah dirinya tidak muntah, Angela berusaha untuk tidak melihat mayat-mayat itu.


Dia berdiri di sana untuk waktu yang lama.


Prajurit di sampingnya menanggalkan atribut dari perampok, membawa mayat dan atribut ke atas kereta.


Yang rusak dibakar.


Tiba-tiba, seseorang mendorong bahu Angela.


Seorang prajurit telah berjalan ke arahnya dan memberi isyarat ke mayat di lantai.


"Apakah kamu ingin menyimpan ini?"


Angela menggelengkan kepalanya dan berbalik.


Butuh waktu untuk membiasakan diri...


Jika ada pertempuran, pasti ada orang yang mati, ini tidak bisa dihindari.


Tidak terjadi kemacetan di jalan, jelas mereka sangat berpengalaman.


Angela juga tahu bahwa mereka semua adalah prajurit berpengalaman.


Sebuah teriakan membuatnya mendongak.

__ADS_1


"Pindahkan mayatnya!"


Daniel berteriak, dan yang lain mendengar perintahnya.


Berjalan di samping beberapa prajurit, Angela tetap diam.


Mereka berbicara dan tertawa, dan sepertinya sedang merayakan kemenangan.


“Kenapa kamu melakukan perjalanan sendirian?” Daniel muncul di sampingnya.


"Aku sudah lama sendirian, tapi aku bisa berlari dengan sangat cepat," Angela berkata sambil tersenyum.


Daniel tersenyum dan melanjutkan.


"Ya, aku tahu. Kamu berlari dengan cepat saat pertempuran dimulai."


"Jangan khawatir, aku tidak akan bertanya mengapa kamu bisa melakukan itu."


"Hanya saja, jangan bertindak ceroboh seperti itu, kamu bisa mati."


Angela mengangguk setuju.


"...jika kamu adalah Master Obat kami, kamu akan dihukum mengerjakan tugas pembersihan selama 1 bulan."


Angela sedikit malu, dan hanya mengangguk padanya.


"Aku gak tahu harus berbuat apa saat itu. Kalau dipikir kembali, seorang Master Obat bergabung dalam pertempuran jarak dekat... itu benar-benar hal yang bodoh."


"Jangan berkata begitu."


Daniel tidak bertanya lebih jauh, dan hanya terus berjalan maju.


“Boleh bawa aku ke tempat jualan baju, tidak?” Mendengar pertanyaannya, Daniel mengangguk.


"Aku akan memberimu beberapa koin perak sebagai imbalan."


"Jika kamu ingin membeli barang lain, ada beberapa toko di kota."


“Makasih, aku memang kekurangan uang sekarang.” Angela tersenyum, dan kemudian berpikir dalam hati.


"Kelihatannya, mereka semua orang baik."


"Ikuti mereka dulu ah, nanti lihat lagi."


Setelah berjalan selama dua jam, suara aliran sungai terdengar jelas di telinga.


Perlahan-lahan, suara itu semakin keras, sampai akhirnya terlihat sungai di kejauhan.


Hari sudah malam. Langit semakin gelap dan hutan berubah menjadi jingga gelap.


Setelah setengah jam, Angela akhirnya melihat Sungai Harapan.


Sebuah kota dibangun di kaki gunung.


Sungai mengalir melalui kota dan kemudian berbelok tajam ke kanan.


Angela tidak banyak bicara dengan para prajurit. Dia masih memikirkan pertempuran tadi, terutama para perampok yang tewas.


Mereka lewat dengan cepat. Setelah melalui daerah perkotaan yang ramai, mereka memasuki sebuah kota yang terpisah.


Daniel berjalan di sampingnya lagi.


"Kurasa kamu pasti belum pernah ke kota Kuten."


Angela tidak meresponnya. Daniel melanjutkan.


"Ini adalah Pusat Keamanan Bagian Selatan."


"Kamu bisa tinggal di sini dulu."


"Ini sudah mau festival, diperkirakan sebagian besar hotel juga penuh."


Angela mengangguk.


"Makasih, kalau baju..."


Daniel kembali melihat piyamanya yang compang-camping.


"Kupikir kamu ingin tidur dulu."


"Tentu saja, kamu bisa mengambil atribut yang kamu butuhkan terlebih dulu."


"Tapi, sisakan beberapa untuk yang lain."


Daniel tersenyum dan berjalan pergi.


"Aku akan istirahat di ruang istrihat umum selama beberapa jam."


"Segera cari aku kalau sudah mendapatkan barang."


"Ikuti kereta!"


Angela berbalik dan mengikuti di belakang kereta.


Melihat sekeliling, dia menemukan bahwa kereta mayat itu tidak ada lagi di sana.


Apakah akan ada zombie atau sesuatu di sini?


Di tempat tujuan, dua prajurit yang membawa kereta turun dari kereta dan mulai memindahkan barang-barang ke ruang penyimpanan.


Angela mulai membantu.


"Makasih, barang-barang ini harus disimpan setidaknya sampai besok."


"Aku akan menunggu kamu di luar."


"Tunjukkan padaku apa yang kamu pilih nanti."


"Jika terlalu berharga, kami mungkin perlu memotong uang imbalanmu."

__ADS_1


"Semoga kamu bisa mengerti."


Angela hanya mengangguk.


"Semoga bisa mendapatkan barang yang berguna disini."


"Jadi gue gak perlu beli di toko lagi."


Ada banyak atribut.


Setidaknya ada 12 perampok yang tewas.


Butuh satu jam untuk memilih.


Angela menemukan armor kulit yang cukup bagus dan beberapa pakaian bepergian berwarna cokelat.


Pakaiannya pas dan armornya bisa disesuaikan, bagus sekalli.


Selain itu, dia mengambil ransel kecil, termos air, beberapa selimut, tali, dan pisau yang tampak bagus.


Dia masih menyukai sepatu bot lamanya.


Keluar dari ruangan, Angela memperlihatkan barang-barang yang dia pilih kepada penjaga yang menunggu di luar.


"Yah, aku harus melaporkan armor itu. Kualitasnya cukup bagus."


"Yang lainnya bisa kamu ambil," Katanya sambil tersenyum.


"Apakah ada tempat untuk mencuci ini?"


Prajurit itu menunjuk ke suatu arah.


"Hanya ada sumur. Seharusnya ada alat pembersih di kamar sebelah."


"Kamu bisa menggunakannya sesukamu."


"Jika ada yang tanya apa yang kamu lakukan, bilang aja nama Daniel."


Angela mengucapkan terima kasih dan berjalan ke sumur.


Butuh waktu lama untuk mencuci pakaian.


Ada banyak noda darah di atasnya.


"Repot banget gak ada mesin cuci..."


Setelah berbicara, dia mengambil barang-barangnya dan pergi ke ruang istirahat umum.


Tidak banyak orang di dalam.


Daniel sedang minum bir dan berbicara dengan dua prajurit lainnya.


Daniel mengangguk padanya begitu melihatnya.


"Mau minum atau ke kamar dulu?"


Angela mengangguk dan duduk.


"Minum dulu."


"Roger! Ambil 1 gelas untuk Master Obat!"


Terdengar tanggapan dari balik bar, dan segelas mead segera disajikan.


"Anggur adalah barang bagus."


Setelah meminum setengah gelas dalam satu tarikan napas, prajurit itu menatapnya, dan kemudian mulai tertawa.


"Sudah capek seharian, ya?" Tanya gadis di depannya.


Angela mengangguk: "Ini pertama kalinya aku melihat pembunuhan..."


Setelah berbicara, mereka terdiam sejenak.


"Demi bertahan hidup." Pria di sebelahnya mengangkat gelasnya dan berkata.


"Ya." Daniel setuju, dan kembali minum bir.


Angela mendengarkan mereka berbicara tentang pertempuran hari ini dan hal-hal lainnya.


Tampaknya mereka masih mencari pria yang menjual narkoba di kota.


Sebagian besar percakapan mereka adalah tentang festival tiga bulan yang akan datang.


Bagi para prajurit, mereka akan semakin sibuk.


Angela menjemur pakaiannya di dekat perapian di ruang istirahat.


Daniel memperhatikan Angela mendapat barang-barang bagus, dan tentu saja dia pasti tidak akan memotong imbalannya.


Mereka tinggal di sana selama beberapa jam.


Setelah itu, Daniel mengatur kamar untuknya.


"Makasih."


Daniel hanya mengangguk.


"Kamu banyak membantu hari ini. Istirahatlah lebih awal."


Menutup pintu, Angela melihat sekeliling ruangan.


Ada tempat tidur sederhana, cermin, dan peti kosong.


"Ranjangnya lebih baik daripada yang ada di kuil."


Dia meletakkan barang-barangnya, melihat ke cermin, dan terkejut.


"Apa-apaan ini?!"

__ADS_1


Dia sangat ketakutan sehingga tidak berani menatap ke cermin, dan hampir menangis.


"Sialan! Kacau banget ini!"


__ADS_2