
"Dia adalah seorang dokter tetapi sikapnya sungguh tidak perhatian sama sekali, cihh" dia berdecih setelah bawahannya pergi
"Kau pun sama saja, kau juga tidak melihat ketakutan gadis kecil itu. Kau bahkan tidak peduli dengannya"
"Aku berbeda paman, karena aku sangat mengkhawatirkan dirimu makanya aku tidak memperdulikan hal sekitar lagi" ujarnya cengengesan
"Dasar anak ini" ujar Tuan Besar geleng kepala
Sang dokter pun meminta maaf kepada Yuna tetapi Yuna tetap saja menangis. Melihat itu Tuan Besar berinisiatif berbicara kepada Yuna
Melihat itu, sang dokter kepala meminta bawahannya pergi
"Nak.." ucapnya perlahan
Tentu saja Yuna mengingat orang ini, dia adalah pria paruh bayah yang hampir mereka tabrak
"Syukurlah anda baik-baik saja pak." ucapnya sambil menangis
Mendengar itupun Tuan Besar begitu terkejut dan tersenyum dalam batinnya mengatakan 'anak yang sangat baik, disaat kondisi ini pun dia masih memikirkan keadaan orang lain. Dimana lagi menemukan anak baik seperti ini di jaman sekarang ini, betapa bersyukurnya aku malam ini'.
'ini sama saja dengan petaka membawa kebaikan,, hahah' tertawa senang dalam hati dan tentu saja ia punya maksud lain kepada Yuna
Sambil tersenyum menjawab "Iya syukurlah.. Itu karena kau hanya menabrak sedikit kakiku tadi, karena itulah aku tak apa-apa"
Mendengar itu Yuna langsung memegang kaki Tuan Besar "Anda benar-benar tidak apa-apa kan? Apakah kaki anda terluka parah" ujarnya sambil sesegukan
Karena perasaan Yuna sedang tidak menentu sekarang, Yuna takut jika pria paruh bayah didepannya ini kenapa-kenapa setelah Tuan Besar mengatakan jika kakinya yang ditabrak. 'mungkinkah patah' batin Yuna takut
__ADS_1
'benar-benar gadis yang sangat baik' batin dokter kepala
Tuan Besar kembali tersenyum dengan mengatakan "kau gadis yang baik nak betapa beruntungnya keluargamu memiliki dirimu"
Ucapnya sambil membuat Yuna kembali duduk disampingnya dan terus membelai pucuk kepala Yuna penuh perhatian seperti seorang ayah dan putri
"Anda sungguh baik-baik saja bukan?" Yuna bertanya karena dia takut jika terjadi sesuatu kepada pria paruh bayah yang ia dan Razka tabrak
Tuan Besar tertawa "Apakah kau begitu tak mempercayaiku nak?"
"Aku hanya takut jika anda pura-pura terlihat baik-baik saja didepanku" ujar Yuna
"Lihatlah, bukankah ini sudah menunjukkan jika aku baik-baik saja" ujarnya sambil loncat beberapa kali
Melihat itu Yuna pun berteriak "Jangan loncat-loncat pak". Dokter Kepala pun sama terkejutnya
"Iya, aku mempercayainya" ujar Yuna dengan sorot mata yang tulus
"Dimana keluargamu yang lain nak, mengapa hanya kau sendiri yang disini " Tuan Besar ingin mengetahui mengapa Yuna sendiri yang mengurusi adiknya.
'jika ada orang dewasa disini pasti akan bisa membuat keputusan terbaik' batin Tuan Besar karena dia menganggap Yuna masih begitu kecil dan belum dewasa dalam mengambil keputusan untuk adiknya sama sepertinya dulu
"Aku tidak memiliki keluarga lagi selain adikku" ucap Yuna jujur dan masih sesegukan
Tuan Besar begitu terkejut begitu pula dengan dokter kepala.
Yuna melanjutkan perkataannya entah kenapa ketika berbicara dengan Tuan Besar serasa begitu nyaman baginya, padahal Yuna bukanlah tipe yang akan berbagi cerita ke orang asing. Bahkan Yuna tak akan pernah cerita kepada keluarganya jika terjadi sesuatu kepadanya karena ia tak mau nenek dan adiknya mengetahui kesedihannya.
__ADS_1
"Ibuku meninggal dunia ketika aku dan adikku masih kecil, dan sedangkan nenek meninggal 3 tahun lalu" ucap Yuna sambil menangis sesegukan dan sekarang lebih keras lagi tangisannya dibanding yang tadi.
Melihat Yuna yang semakin menangis membuat Tuan Besar tidak jadi menanyakan ayahnya. Karena, melihat Yuna yang hanya menceritakan ibu dan neneknya membuat hatinya seakan-akan melarangnya menanyakan itu karena takut itu akan menyinggung Yuna
"Nak.. Siapa namamu"
Ujarnya sambil terus membelai kepala Yuna, ini terus mengingatkan Tuan Besar kepada putrinya. Ketika putrinya menangis maka ia akan melakukan hal yang sama
"Namaku Yuna" ucap Yuna
"Nama yang sangat bagus nak, apakah aku boleh bertanya kenapa kau bersikeras tidak mau adikmu di operasi?"
Karena perasaan nyaman yang Yuna rasakan seperti seorang ayah, Yuna pun tak canggung lagi dan dia menceritakan kenapa ia tak mau adiknya di operasi
"Dulu nenek meninggal karena di operasi, aku tidak mau jika adikku meninggal seperti nenek" Yuna masih sesegukan
Sekarang Tuan Besar tahu jika Yuna bukannya tidak dewasa dalam mengambil sikap untuk adiknya melainkan ada trauma yang membuatnya sangat ketakutan.
Karena mengerti akan ketakutan gadis kecil ini, Tuan Besar memberinya perhatian karena tidak ada cara lain selain operasi
"Nak.. Dulu nenekmu meninggal dunia itu karena takdir, bukankah kita semua nantinya juga akan meninggal dunia? Jika kau menyalahkan keadaan itu, kau pasti akan terus dirundung ketakutan. Lihatlah, adikmu membutuhkan operasi ini agar dirinya bisa seperti dulu lagi" ujar Tuan Besar memberi Yuna perhatian
"Ta..ta.. Tapi aku tidak mau kehilangan adikku" kembali menangis tak ingin berhenti
Karena merasa ini belum berhasil, Tuan Besar mencoba membujuk Yuna dengan cara lain
"Percayalah nak, percayalah bahwa adikmu akan baik-baik saja. Dulu aku juga takut jika ibuku akan di operasi, karena dulu sekali nenekku juga meninggal dunia karena operasi. Kita sama nak percayalah, aku juga pernah ada di posisimu sekarang tetapi seorang sahabat lamaku yang terus membujukku dan akhirnya aku mengizinkan operasi itu karena jika tidak maka ibuku tidak akan selamat. Percayalah nak bahwa takdir seseorang itu berbeda-beda, takdir nenekmu berbeda dengan adikkmu percayalah itu"
__ADS_1
Tuan Besar memiliki kesamaan dengan Yuna, karena ia juga pernah trauma. Tuan Besar takut jika tidak diambil tindakan ini Yuna akan kehilangan adiknya untuk selamanya