
Harumi khosasih adalah salah satu putri dari seorang pengusaha properti. Sebagai orang yang berkecukupan Harum sangat beruntung mendapat pendidikan yang cukup mumpuni. Dia seorang lulusan fakultas Bisnis dan ekonomi, meski begitu pada kenyataannya dia anak yang cukup rewel.
Bahkan pada usianya yang masih belasan tahun. Dia memanjat tembok, untuk melarikan diri dari pesantren. Saat Bapaknya bertanya kenapa, Arum menjawab. "Ustadz Ustadz disana galak. Arum mau belajar di rumah aja sama bapak. " Jelas Arum.
Pak Rudi tertawa, dia sungguh tidak menyangka putri semata wayangnya sanggup melakukan hal seperti itu. Tak ada pilihan lain bagi pak Rudi, Kecuali mendatangi pondok dan mengucapkan permintaan maaf. Pak Rudi berbicara pada pimpinan pondok yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Mereka juga dulu santri di pondok yang sama.
"Biarkan sajalah Rud, Lagi pula Aku yakin anakmu juga tahu. Kalau ayahnya lebih hebat daripada ustadz Ustadz disini. " Pak Kiyai tertawa.
"Kamu berlebihan Bi, ilmu agamaku tak setinggi kamu. Aku hanya tahu sedikit, makanya aku ingin menyekolahkan dia di pondok pesantren mu ini. "
"Rudi! Jangan paksakan kehendakmu kepada anakmu. Aku juga tahu, dia sangat dekat denganmu, mungkin dia tak mau ditinggal jauh oleh kedua orang tuanya. Lagipula Aku yakin kamu mampu mendidiknya sendiri. Hahahah... " Kiyai Habibi kembali tertawa, dia memang sangat dekat dengan keluarga sahabatnya itu. Bahkan dia tahu semuanya tentang Harum.
"Biar masalah Harum ini, jadi pembelajaran bagi Harum, dan kenangan untuk kita berdua. Hahaha... " Dia kembali tertawa, pak Rudi juga menyusul tertawa saat melihat sahabatnya yang begitu santai menanggapi masalah Harum.
Harum sendiri diam diam menguping pembicaraan mereka berdua dari balik pintu. Sebelum akhirnya dia ketahuan oleh sang ibu dan akhirnya menyuruh dia menemui kiyai Habibie.
"Harum kamu sedang apa? " Tanya ibunya dari belakang.
"Anu itu bu.. harum sedang duduk dan memperhatikan pintu ini, bagus banget ya bu ini dari pohon jati . " Balas Arum terbata saat ditanyai ibunya.
"Bohong! Pasti kamu lagi menguping pembicaraan bapak sama pak kiyaikan. " Ujar ibunya menuding Harum. Harum tersenyum.
"Ayok cepat sekarang kamu ikut bu, minta maaf sama pak kiyai habiebie. " Ibunya langsung menarik tangan Harum dan membanya kehadapan sang Bapak dan Kiyai.
"Lihat nih, ada yang menguping dari balik pintu. " Ujar ibunya pada kedua lelaki yang sedang asyik mengobrol. "Hihihihi... " harum ketawa.
"Harum, Gimana kabar kamu? Sehat!?" Tanya kiyai Habiebie. Harum mendekatinya lalu bersalaman dan mencium tangan pak kiyai.
"Alhamdulillah pak Kiyai, harum sehat sehat saja. Tapi maaf ya pak, Harum tidak sanggup berada di pondok pesantren pak kiyai lagi. Bukannya kenapa kenapa pak, tapi Harum ingin menimba ilmu dari Bapak." Ujar harum tulus kepada pak kiyai. "Tolong bilangin ya pak ke Bapak. Kemarin Bapak marah marah gara gara harum kabur. Pedahal kan Harum rindu sama Ayah. " Lanjut Arum berbisik pada lak kiyai.
"Sudah pintar kamu ya Rum. Ngomongin orang didepan orangnya langsung. " Ujar pak Rudi tegas.
"Aduh kedengeran ya! " Sontak hal itu membuat tawa disana kembali pecah. "Habisnya kalau dibelakang Bapak. Takut di jewer lagi sama ibu. " Lanjut Harum cekikikan sambil melihat ibunya yang memang sedang berdiri dibelakang ayahnya.
"Kamu lihat sendirikan, Harum berani sekali kalau denganku. Usil!" Ujar Pak Rudi pada sahabatnya.
"Harum begitu, karena memang kamu itu ayahnya. Hahaha...! " Pak kiyai lagi lagi tertawa karena tingkah Harum yang selalu usil dan jahil. Tapi dia tidak marah sedikitpun, karena dia menganggap bahwa di masa masa remaja seperti Harum. Setiap orang pasti akan mencoba melawan dan memberontak pada orangtuanya. Makanya harus mendapat pendidikan extra supaya mereka tidak berpaling kearah yang salah.
__ADS_1
Untuk kasus Harum sendiri, pak kiyai juga menganggap bahwa Harum lebih baik belajar di rumah bersama Ayahnya. Selain karena Ayahnya juga sanggup dan mampu.
Dia paham bahwa Jarum adalah tipe remaja yang tidak bisa dikontrol oleh orang lain,kecuali kedua orang tuanya. Baginya, Harum adalah putri kandungnya sendiri. Dia sadar dan tahu mana yang lebih baik untuk Harum.
10 tahun berlalu, sekarang Harum tumbuh menjadi wanita cantik, mandiri, dan ulet. Selain itu dia juga seorang wanita karir, bekerja di perusahaan Ayahnya dan membantu bisnis keluarga. Dia menjabat sebagai kepala marketing. Prestasinya selama 4 tahun sudah tidak diragukan lagi. Dia pernah menjual 100 unit rumah hanya dalam waktu 3 bulan. Diakui sebagai karyawan terbaik oleh rekan rekannya. Harum mendapatkan Gelar karyawan teladan.
"Harum, sarapan Nak! " Ibunya memanggil dari arah dapur. "Iya bu sebentar! " Balas Harum kembali membalasnya.
Dikamar, Harum sedang berias dan memakai hijab segi empat. Ditambah celana kulot dengan warna senada, dan blouse warna putih kontras. Serta High Heels yang berwarna putih senada baju. Setelah selesai bersiap, Harum keluar kamar dan menemui ibunya.
"Selamat pagi pak bos. " Harum menyapa ayahnya yang sedang duduk di meja makan.
"Hari ini ibu masak apa? " Lanjut Harum, kemudian duduk di meja makan.
"Nasi goreng ayam, spesial buat mbak harum! " Ujar ibunya lalu meletakan piring berisi nasi goreng didepan putri dan suaminya.
"Thank you my mommy " Balas Arum lalu segera menyantap sarapannya.
"Harum! " Panggil ibunya, Saat Harum melihat ke arah sang ibu. Tiba tiba ibunya mencolek bagian dagu harum dengan cepat.
"Ih ibu..! " Spontan Harum. Ibunya ketawa
"Mau ke kantor lah bu, kemana lagi? " Jelas Harum kepada ibunya.
"Bareng sama bapak!?"
"Nggak, Harum bawa mobil sendiri. Bapak kayaknya mau langsung meeting sama koleganya. " Ujar Arum menatap ke arah pabos lalu kembali tersenyum lebar.
"Terus kamu dandan kayak gitu buat siapa? " Tanya ibunya lagi. "Hah? " Harum kaget dengan perkataan ibunya yang aneh.
"Maksud ibu apa? Harum dandan kayak gini ya buat diri harum sendiri lah bu. Biar keliatan fresh." Ujar Harum lalu berpose dengan 2 jari diatas kepalanya. Ibunya malah tertawa.
"Lihat tuh kelakuan anakmu, sekarang sukanya bohong terus. " Ujar ayahnya, lalu menyantap sarapan di depannya.
"Maksud bapak apa, ngomong kayak gitu." Ujar harum menanggapi.
"Maksud bapak, kamu lagi suka sama siapa? " Tanya ayahnya jelas.
__ADS_1
"Huah..! " Harum kembali terkejut, karena pertanyaan ayahnya. "
plek...
Pak rudi kemudian didipukul oleh istrinya. Karena langsung bertanya dengan sangat jelas. "Ya jangan main tembak gitu dong mas! " Ujar istrinya.
"Iyakan biar cepet bu! " Balas pak Rudi.
"Kalian pasti merencanakan sesuatu dibelakang Arum. " Ujar Arum melihat ke dua orang tuanya." Keduanya kemudian tertawa, lalu langsung saling melirik satu sama lain.
"Harum, kami ini orang tuamu, ibu sama bapak yang mendidik kamu sejak kecil. Ibu hapal betul bagaimana sifat kamu. " Jelas ibunya lembut sambil mengusap tangan Harum.
"Belakangan ini sikap kamu berubah Rum. Kamu nggak bantu ibu lagi didapur. Telat pulang ke rumah, banyak beli baju, sepatu, dandan di kamar. Penampilan kamu juga berubah, biasanyakan kalau ke kantor suka pake blazer, pakai sneakers dan pakaian pakaian formal gitu. Eh.. Sekarang kamu lebih suka pake blush, pake high heels, casual gitu. Lebih feminim dari biasanya. " Lanjut ibunya menjelaskan.
"Ya terus, apa masalahnya bu? " Jawab Harum Risih.
"Dari situ ajakan udah ketebak, kamu lagi jatuh cintakan sama cowo! " Saut Ayahnya sambil tersenyum mengejek Harum. Ibunya juga ikut ketawa mengikuti suaminya.
Harum sendiri terdiam lalu memalingkan wajah. Tapi lama lama dia tidak bisa memanahn senyumnya karena bapak dan ibu yang terus meledek harum.
"Iyah ngaku aja deh Rum. " Ibunya
"Ish manis banget senyumnya. " Bapaknya.
"Akh... Ibu, bapak!" Harum menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Karena merasa sangat malu dan terus dipojokkan oleh orang tuanya.
"Gatau ah, Harum mau berangkat aja! " Harus tersenyum lebar, lalu pergi mencari tas dan berangkat ke kantor.
"Nasi gorengnya nggak dihabisin! " Ujar ibunya.
"Buat bapak! " Teriak Harum.
"Anakmu udah dewasa mas! " Ujarnya pada sang suami sambil tersenyum.
"Semoga aja Harum cepet kenalin, calonnya ke kita bu. Biar bapak juga bisa cepet nikahin dia. " Ujarnya membalas.
"Bapak udah gak sabar ya, lihat dia duduk di pelaminan. ibu juga nggak sabar pengin punya cucu." Balas ibunya.
__ADS_1
"Bapak pengin Harum cepet pergi. Kalau dia nggak adakan, kita bisa bikin yang baru! " Ujarnya tersenyum.
"Udah tua, masih aja Gatal! " Ujarnya kembali Membalas.