
Dimalam hari setalah bekerja dan beraktivitas. Harum makan malam di rumah bersama ibunya. Pak rudi sedang meeting dan akan pulang terlambat. Jadi mereka memilih untuk makan malam duluan.
"Harum! " panggil ibunya.
"Gimana sama hari ini? Lancar! " Tanya ibunya pelan pelan kepada Harum.
"Alhamdulillah bu lancar! " Balas Arum santai.
"lancar, kok mukanya ditekuk gitu. Dari pulang ke rumah loh. kamu cemberut terus! " Ujar ibunya menjelaskan kekhawatirannya pada Harum.
Arum melanjutkan makannya, dengan berhati hati dia mencoba menerawang hal apa yang dipikirkan ibunya. Belakangan wanita tua itu menjadi lebih tajam. Tak pernah Aku berhasil menyembunyikan sesuatu padanya.
Saat hendak kembali bertanya Harum segera memotong omongan ibunya. "Ibu pasti mau tanya soal calon Harum, iyakan? " Ibunya tertawa mengangguk dan menyeringai.
Meski Harum merasa ragu tapi akhirnya dia meminum segelas air putih dan hendak bercerita tentang sosok yang selama ini membayangi hatinya. Tapi janji yah ibu nggak akan marah kalau harum cerita pinta harum bahkan sebelum menggambarkan seperti apa laki laki yang menjadi primadonanya saat ini.
Ibunya mengangguk tanda setuju dengan permintaan harum. Lekas harum mendekat dan bercerita soal Panji Raksa Arasta. Pemuda yang memiliki tutur kata rapih, pemuda sederhana, penakluk hati Harum khosasih.
Malam itu harum lembur karena pekerjaan sedang menumpuk. Grammy. Co jadi tempat yang nyaman kala itu, dia memilih mengerjakan beberapa tugas hingga akhirnya tanpa sadar ia ketiduran. Saat terbangun dia melihat jam yang menujukan pukul 12 tengah malam.
Betapa kagetnya Harum saat sadar dia masih berada di Grammy. Co. Suasananya kala itu benar benar sepi, tidak ada 1 orang pun pengunjung. Seharusnya Grammy. Co tutup pukul 21.00. Sudah lewat 3 jam dari waktu yang seharusnya harum pergi dari sana.
__ADS_1
Saat hendak membereskan Laptop dan barang barang yang ia bawa.Tiba tiba seseorang datang kesana, dia adalah salah satu pemuda yang bekerja disana Panji Raksa Arasta.
"Teteh sudah bangun. " Ujarnya dari arah belakang sehingga Harum meloncat kaget. Nafasnya memburu sangking khawatir dan ketakutan yang memenuhi hatinya
Tenanglah aku hanya datang untuk memastikan keadaanmu, Panji menjelaskan keadaannya pada Harum. Dia kembali mengatakan bahwa pada saat Grammy. Co ditutup mereka melewatkan 1 bagian di lantai 2 tempat dimana Harum ketiduran.
"Bodoh.. Bagaimana cara kalian bekerja, sampai sampai kejadian seperti ini terjadi. Atau kamu merencanakan hal lain padaku? " Ujar Harum sambil menudingkan tangan ke arah Panji.
"Tidak tidak begitu, kami benar benar lengah. Maafkan kami, ini sebuah kesalahan yang tidak kami sengaja." Pemuda itu kemudian menjelaskan kepada Harum. Bahwa yang terjadi benar benar sebuah kesalahan yang tidak disengaja.
"Aku ingin pulang saja. Biarkan aku lewat, tinggalkan saja aku." Ujar Harum menyuruh panji pergi.
"Siapa yang tahu kalau aku akan lebih aman jika berada disini. Siapa saja yang masih tinggal? " Ujar Harum kembali memastikan keadaan.
Hanya kita berdua panji mengatakan itu dengan sangat lancar. Dan sontak membuat Harum kembali panik, kalau sampai sesuatu benar benar terjadi tidak akan ada yang bisa menyelamatkannya.Harum lalu secara terang terangan mengancam panji dengan mengatakan jika Dia berani mendekat harum akan membunuhnya dengan sebuah pena.
Tapi panji tersenyum, aku rasa itu tidaklah buruk. Kamu bisa menulis cerita ini, lalu memberikannya kepada polisi. Lalu katakan bahwa judulnya adalah Pena tak bertuan. Harum terdiam, Panji lagi lagi tersenyum menggaruk belakang kepalanya.
"Tadi itu tidak lucu yah?! " Panji tertawa.
"Berhenti bermain main, goblok! " Balas Harum makin jengkel, karena merasa sedang dipermainkan oleh Panji.
__ADS_1
Panji kemudian duduk di samping kursi Harum. Lalu mengeluarkan 2 kotak Nasi goreng yang tadi dia beli. Aku sengaja membeli 2 kotak, salah satunya untukmu. Aku tahu kamu berada disini sejak tadi sore dan belum makan malam. Harum. Masih berdiri dan menjaga jarak dengan panji.
"Mungkin aku gagal membuat perutmu tertawa. Tapi aku tidak akan gagal membuat perutmu kenyang. " Dengan yakin dan tersenyum lebar panji mempersilahkan harum untuk memilih 1 dari 2 box nasi goreng di depan nya.
"Bagaimana aku yakin kalau kedua makanan nya bersih. Siapa tahu kamu memasukan Obat tidur atau semacamnya ke dalam sana." Harum kembali bertanya dengan hati hati. Dia terus menjaga jarak aman dengan pria yang baru saja dia kenal. Lagi dan lagi panji hanya tertawa, membuat Harum panik seolah dijadikan mainan oleh pemuda tersebut.
"Mungkin kamu benar, kita tidak bisa memastikan bahwa semua tukang nasi goreng itu baik. Bagaimana kalau diantara mereka ada orang orang yang berniat jahat. Kalau begitu mari kita bertaruh, yang mana Nasi yang bersih dan mana Nasi yang beracun. " Panji dengan sangat santai malah mengajak Harum bermain teka teki.
Dalam kepala Harum saat ini, dia merasa jika memang benar, salah satu dari box nasi goreng berisikan sesuatu yang akan membuatnya celaka, anggaplah itu sejenis Racun. Untung Harum tidak bodoh, dia segera mendapatkan ide untuk menyelesaikan masalahnya.
Sebenernya bisa bisa saja harum menolak keduanya. Tapi memilih tidak makan, disaat perut keroncongan bukanlah pilihan yang bijak.
"Baiklah, Ayo kita bermain!" Dengan penuh rasa percaya diri Harum menantang panji dalam permainan yang panji buat. Tanpa basa basi panji kemudian menyetujui permintaan Harum.
"Kalau begitu kamu duluan yang memilih! Karena kamu yang paling dekat dengan kotak rahasia tersebut. " Ujar Harum menyuruh panji untuk mememilih terlebih dahulu.
Panji berterimakasih karena dirinya diberi kesempatan pertama. Dia kemudian terlihat melakukan sesuatu hal dalam memilih Nasi goreng. Dia memutar mutarkan jarinya diatas kedua box lalu dalam hitungan ke 3 dia menghentikan jarinya yang berputar. Lalu dia memilih box yang berada tepat dibawah ujung jarinya. Aku memilih yang ini ujarnya bersemangat.
"Kalau begitu cobalah! " Ujar Harum lagi. Panji ketawa lalu dengan bersemangat dia membuka box dan segera menyantap Nasi goreng yang ada didalamnya.
Euhmmmmm panji bergumam menujukan bahwa nasi goreng yang dia santap sangatlah nikmat. Tapi kini giliran Harum yang tertawa, dia dengan semangat berkata bahwa dia menginginkan Nasi goreng itu.
__ADS_1