Panji Harum Cintaku

Panji Harum Cintaku
Kronologi rasa part 2


__ADS_3

Buku Kronologi rasa menceritakan seorang Gadis yang tidak hanya lumpuh, tapi juga bisu. Dia mencintai sahabatnya yang dari dulu menemaninya sejak kecil. Amik menjadi cacat karena sebuah kecelakan yang tidak disengaja. Disaat itu terjadi Abu selalu menemaninya dalam kondisi apapun.


Karena itu Umik jatuh cinta kepada sahabatnya tersebut. Dia sangat menyesal kenapa tidak dari dulu mengatakan bahwa dia mencintai Rangga. Hingga saat ini, Dia terus berusaha menggunakan segala cara untuk bisa mengatakan perasannya. Bahkan suasananya menjadi semakin kacau saat dokter menyatakan bahwa dia juga mendapatkan gangguan syaraf karena kepalanya yang terbentur. umurnya tinggal sedikit lagi, dan perasannya belum tersampaikan.


Sementara aku sedang memandangi diriku didalam cermin. Apa mungkin aku akan menjadi seperti umik? aku tak ingin tak itu terjadi. Aku memakai riasan wajah yang sederhana. dan pakaian muslim yang terkesan minimalis.


Kalian benar jika berpikir, bahwa penampilanku berubah karena panji. Aku dapat bocoran dari teman kerjanya. Kalo dia suka pakaian yang lebih sederhana, jadi aku mengubah segalanya jadi seperti yang dia inginkan.


Sekitar pukul 07.00 Aku datang ke cafe yang sudah aku janjikan dengan panji. Kini aku tengah duduk di salah satu meja menunggu kehadirannya.


Tak lama kemudian panji datang. Dia menyapaku, "Maaf teh, nunggu lama ya! " Ujarnya santai. Kalimat sederhana darinya itu selalu bisa membuat perasaanku campur aduk.


"Ouh tidak papa, aku juga belum lama. " ujarku kembali membalasnya. Aku berniat menyampaikan perasaanku pada panji sekrang. Hanya saja aku bingung mau memulainya dari mana. Apalagi jika memikirkan perkataan bapak. Dia bilang aku harus membawa panji ke hadapannya jika ingin di restui.


"Teteh pasti mau bahas soal buku yang kemarinkan. " Ujarnya lagi oadaku.


"Iyah kamu bener, aku benci bukumu! " Dia menata p ku kaget. "kamu membohongi aku panji. " Dia tersenyum lagi dihadapanku.


"Gadis itu sangat menyedihkan, dia bukan hanya lumpuh, tapi juga bisu dan dia didiagnosa akan segera meninggal. Apa kamu tahu betapa keras perjuangannya? " Tanyaku agak menaikan nada karena terbawa suasana.


"Tentu saja, dia memang berusaha dengan sangat keras. Tapi semua itu terbayarkan bukan. Dia berhasil menyatakan cintanya." Ujar panji tersenyum.

__ADS_1


"Tidak! " spontan ku keras kepadanya.


"Dia tidak berhasil! Dia meninggal, Abi memang menerima pernyataan cinta itu. Dan dia bilang tidak masalah kalau wanita dulu yang menyatakan perasaan nya karena semua orang berhak menyatakan cinta. "


"Dia bilang itu tepat didepan makam nya umik. " Tegasku, tanpa aku sadari air mata telah berkumpul di pelupuk mata. Dadaku tiba tiba terisak, mengenang kematian umik.


"Perjuangannya sia sia, mereka nggak bisa bersama sama. " tegasku lagi. panji tersenyum.


"Teh, kalau semua cerita berakhir happy ending. Buku nggak akan jadi menarik, karena semua orang tahu endingnya kayak gimana. " ujar panji.


"Buku itu juga salah satu media hiburan teh. "


"Iyah! ya nggak cuman hiburan sih. "


"Hati aku sakit panji. aku sakit ketika membaca buku pemberianmu. " Ujarku lalu mengusap air mata yang hampir jatuh. Panji mengangkat segelas air yang aku pesan tadi dan menyuruhku untuk minum terlebih dahulu.


"Saya tahu apa yang teteh rasain. Teteh nggak mau kan jadi seperti umik, teteh juga punya perasaan sama orang lain. Teteh diam diam jatuh cinta dan nggak berani mengungkapkan nya. " Ujar Panji. Aku melihat ke arah panji yang nampak tersenyum menahan geli. Panji kamu tahukan? kamu tahu perasaanku padamu kan.


"Saya juga punya hobi yang sama. Saya juga diam diam jatuh cinta pada orang lain. hahahah.. " Dia tertawa. Saat dia mengatakan kalimat nya, tiba tiba aku merasa kalau ini adalah saat yang paling tepat untukku mengatakan perasaanku.


"Aku mencintaimu! " Entah dari mana kekuatan itu muncul. Tiba tiba sudah keluar dari mulutku. saat menyadarinya wajahku langsung menjadi panas. Mungkin sudah semerah tomat sekarang, entahlah.

__ADS_1


"Hah! " itu jawaban yang singkat, hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya. Bahkan hingga sampai mengantarkan aku pulang dia tidak menjawab pernyataan cinta dariku. Aku hanya bisa terdiam dan merenung sendiri. Di cafe pun panji mengalihkan obrolannya pada hal hal lain.


"Ini rumah teteh? Besar sekali ya! " Ujarnya saat menurunkan aku di gerbang depan rumah.


"Kamu mau masuk dulu, ketemu orang tuaku mungkin! " Dia hanya tersenyum. Sambil mencopot helm yang aku pakai dia kembali berkata.


"Saya nggak yakin tentang itu? Teteh serius bilang itu ke saya. Saya cuman orang biasa teh. " Ujarnya lagi. Aku terdiam mendengar perkataannya. Apa mungkin aku ditolak?


"Kenapa memangnya kalau kamu cuman orang biasa. Aku juga cuman orang biasa! " kataku tegas. Panji kemudian melihat ke arah rumahku yang besar.


"Itu rumah orang tuaku, bukan rumahku! aku belum punya rumah. " ucapku lagi kepadanya.


"Teteh jangan khawatir, Allah itu maha adil. InshaAllah kalau kita berjodoh, Kita akan bertemu lagi dan langsung menikah! " Panji mengatakan itu kemudian mengatakan salam lalu dia berjalan pergi dari rumahku menggunakan motornya.


Aku terduduk lemas saat melihat dia perlahan menghilang. Jantungku berpacu cepat rasanya sangat sakit sekali. Aku hanya bisa menangis kalau itu, rasanya duniaku seperti hancur. Saat hal itu terjadi Bapak tiba tiba datang dan memeluk aku yang terduduk di tanah.


"Harum, harum kamu kenapa? " Ucap Ibu yang datang bersamanya. Aku terus saja sesenggukan dan menangis. Jujur aku tidak bisa berkata kata lagi.


.


.

__ADS_1


__ADS_2