
"Selamat pagi! " Harum menyapa tim kerjanya, saat sampai di kantor. Hari ini dengan perasaan bercampur aduk. Dia tetap datang untuk bekerja dan memenuhi tuntutan perusahaan.
"Bos hari ini ada 11 lagi unit rumah yang kita jual. Bagaimana menurutmu? " Tanya seorang pegawai.
"Itu adalah hal yang bagus. Lakukanlah dengan giat, jika seperti ini setiap hari. Perusahaan akan semakin untung dan itu artinya tambahan juga untuk kalian. " Balas Harum tersenyum.
"Uang! Uang! Uang! " Ujar semua pegawai bersamaan, serta tangannya yang bergerak menari secara liar. Hahahaha.. Mereka semua tertawa bersama.
"Sepertinya kalian sangat bersemangat. Ada apa hari ini? Apa ada yang tidak aku ketahui. " Tanya Harum lagi kepada tim marketingnya.
"Semua ini karena Bos muda Harum. Penjualan jadi terasa sangat mudah, sangat berbanding terbalik sebelum anda datang kesini. " Saut seorang dari mereka.
"Iyah itu benar, keberadaannya membuat semua hal jadi lancar. Kita bisa menjual unit secepat ini. Biasanya butuh waktu 1 - 2 minggu untuk menjual 11 unit." Saut seorang lagi dari mereka.
"Tidak! Itu semua juga berkat kalian yang selalu rajin dan tidak pernah absen. Aku sangat bersyukur bisa memiliki tim kerja seperti kalian. " Puji harum. Semua anggota Tim nya tersenyum.
"A.. Ah......! " Ujar mereka bersamaan.
"Jangan menggodaku seperti ini. Aku tidak menyukainya, kalian membuat aku malu. Baiklah sekarang lanjutkan pekerjaan kita." Harum mengakhiri pembicaraan lalu segera berlalu ke ruang kantornya.
"Siap Bos, semuanya akan aman terkendali. "
__ADS_1
"Yah, berjuanglah semuanya. " Harum mengukir senyum manis lalu beralih pergi. Saat duduk di meja kerjanya dia tersenyum sendiri. Ada apa dengan semua orang di hari ini, mereka seperti bekerja sama untuk membuat aku salah tingkah. Dasar!
Bapak dan ibu bisa tahu perasaanku, meski aku tidak pernah mengatakannya secara langsung. Mereka orang tua yang terbaik, tapi bagaimana selanjutnya. Apa sebaiknya aku jujur saja. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakan semuanya. Lagi pula aku tidak tahu apakah dia mencintai aku juga atau tidak.
-------------------------------------------------------------
"Harum, kamu datang kesini? " Tanya Jimmy.
"Iyah, aku ingin tahu sudah sampai mana pembangunannya. " Ujar Harum melangkah menghampirinya. Lalu bersalaman dengan pria tersebut.
Jimmy adalah pemimpin proyek, dia selalu dipercaya oleh pak Rudi untuk pembangunan properti. Menjadi karyawan senior dia adalah orang paling setia yang terus mengikuti pak Rudi hingga kesuksesannya. Sulit di percaya dia masih lajang di usianya yang hampir menginjak kepala 4.
"Pekerjaan kami berjalan mulus. Setiap pekerjaan sedang dalam kondisi prima sekarang, aku yakin proyek akan selesai pada waktu yang sudah di rencanakan. " Ujar Jimmy meyakinkan.
"Akhir bulan ini? " Tanya Jimmy. Harum mengangguk.
"Kamu sangat hebat. Kepala marketing sebelumnya tidak ada yang sebaik dirimu saat bekerja. "
"Anda berlebihan, jika dibandingkan denganmu aku hanya anak kemarin sore." Harum merendah di hadapan Jimmy. Sambil tersenyum puas dia berbicara dengan sangat baik di depan seniornya.
"Tidak aku tidak berlebihan, aku rasa kamu sangat sempurna. Kamu memiliki paras yang sangat yang cantik, selain itu kamu cerdas, berpendidikan dan memiliki karir yang bagus. semua pria pasti jatuh hati padamu" Ujar Jimmy memuji harum. Harum tersenyum.
__ADS_1
"Termasuk kamu! " Ujar Harum menatap sayu. Jimmy hening sesaat.
"Aku ingin melihatnya lebih dekat, dimana helmku. " Ujar harum kembali menatap Jimmy dengan rasa percaya diri yang tinggi. Jimmy menyeringai, dia tertawa melihat tingkah harum yang baginya terlihat menggemaskan. Dia kemudian mengambil 1 helm dan memasangkannya pada Harum.
"Aku rasa pendapatku yang barusan itu keliru. Kamu bocah nakal yang suka mempermainkan perasaan orang. Kamu ini harimau betina yang ganas! " Ujarnya lagi sembilan mencubit hidung harum.
Harum tanpa ragu mengayunkan tangannya. " Ayahkupun tidak berani melakukan itu kepadaku. " Ujar harum mengerucutkan bibir.
"Bagus, kalau begitu aku jadi yang pertama untukmu. Dengar yah nona, ini bukan tempat bermain untuk anak anak. Jadi aku akan menemanimu untuk berkeliling. Aku tidak mau kau berulah ditempat ini." Ujar Jimmy lagi. Harum membelalakan mata, dan mulutnya menganga tidak percaya.
"Aku bukan anak kecil, jangan memperlakukan aku seperti itu. Aku membencinya, lagipula aku tau tujuanmu yang sebenarnya. Kamu hanya ingin jalan berduaan denganku saja. Iyakan! Dasar om om tukang genit. " Balas harum dengan percaya dirinya. Dia menuding balik bahwa Jimmy mencari cara untuk berduaan dengan dirinya.
Jimmy tertawa lalu dia melangkah duluan kedepan. " Aku tak perduli apa yang akan kamu katakan. Aku tidak akan melepaskanmu dari cengkeramanku." Ujar Jimmy sambil berbalik ke arah Arum yang ada dibelakangnya.
"Hey tunggu aku! Apa kamu ingin meninggalkanku begitu saja. Jimint! "Harum buru buru mengikuti Jimmy yang ada didepan.
" Hah! Nama macam apa itu? "
" Kau tahu, itu bagus seperti permen MintZ. Meski sudah lama rasa dan aromanya tetap segar. Seperti dirimu!" Balas harum meledek Jimmy.
"Sudahlah, aku tidak mau mendengarkanmu lagi! " Ujarnya.
__ADS_1
"Hoh... Aku membuatmu marah, maaf ya om! Lanjut Harum cengengesan. "