
Aku membaca setiap kata setiap bait setiap kalimat yang ada di buku pemberian panji. Lelaki misterius yang sudah berani mencuri hati dari pemilik asalnya.
Hampir 3 hari aku menghabiskan waktu untuk membaca novel yang dia sarankan. Pada akhirnya usaha itu aku bantingkan ke lantai sekeras mungkin. Buku itu sangat menyakitkan kenapa panji memberiku setiap kalimat sedih dan penyesalan yang begitu dalam di akhir.
Keesokan harinya sebelum menuju kantor aku menyempatkan diri mampir ke Grammy. co. ku tanyakan pada Dara dimana Batang hidungnya lelaki kurang ajar itu. Berani sekali dia mematahkan harapanku, kepercayaan yang aku beri diawal tiba tiba dia patahkan begitu saja. Panji harus bertanggung jawab!
"Panji tidak ada, dia libur hari ini. " kenapa harus libur, apa kamu sudah tahu aku akan datang. sehingga kamu lari dariku, dasar penakut.
"Apa ada masalah mba? katakan saja pada Dara mba. Biar aku sampaikan nanti pada panji saat dia datang." Dara tersenyum. Aku menolaknya halus dengan mengatakan bahwa aku hanya ingin berbicara langsung pada panji.
"Kalau gitu, mba mau contact dia langsung aja. saya punya nomornya. " Jackpot, kenapa aku tidak memikirkan itu sebelumnya. langsung saja aku terima nomer panji dan mengiriminya pesan singkat.
Harum : Panji ini Harum, Aku mau bertemu!
__ADS_1
Sumpah aku tidak tahu kenapa aku mengetik kalimat itu, mungkin sangking kesalnya. Tapi ini terkesan jadi seperti aku wanita yang tidak baik. Kira kira tanggapan panji akan bagaimana ya?
Hampir 3 jam lamanya, tapi panji belum juga membalas pesan dari ku. Ku usap wajah gusar, jujur aku takut jika dia tidak membalas pesanku apalagi jika dia memberikan respond negatif.
Panji : oh teh Harum. Boleh, mau kapan?
Aku menjingkrak kegirangan saat pesan itu datang. Rasanya seperti aku baru menemui cinta pertamaku dulu di saat SMP. Bukan hanya membalas pesan dia memberikan respond yang sangat baik.
Harum : Nanti malam pukul 07.00 wib malam di cafe.
Yes! Aku tersenyum bahagia dan tertawa lepas sampai semuanya berakhir ketika tiba tiba pintu ruangan ku terbuka. "Kamu kenapa? " Bapak datang dengan membawa beberapa kotak kue di tangannya.
"Bapak, ko bapak gitu sih? nggak ketok pintu dulu. "
__ADS_1
"Terserah saya dong, saya kan atasan disini. " Bapak duduk dihadapanku, tampak matanya menatap penuh curiga. Seakan akan aku buronan yang telah melarikan diri selama berbulan bulan lamanya. Bibirnya saja bergerak gerak seolah sudah gatak ingin menerka aku dengan kalimat kalimat jahatnya.
"Pasti Panji! " Aku terperangah mendengar kalimat singkat yang keluar dari bibir gatal bapak. mungkin ibu sudah cerita soal panji kemarin. Aku mengangguk, tidak berani bohong kalau sama bapak.
"Kamu seriuskan suka sama laki laki itu? " Tanya dia. Aku terdiam sejenak,tiba tiba seluruh tubuhku seperti tersengat listrik bertegangan tinggi. Perasaan ini lebih buruk daripada, saat interview sebelum bekerja. Pipis aku mau pipis...
"Kenapa diem? Jawab! " aku lagi lagi hanya mengangguk. Bapak sudah berbicara dengan Nada yang meninggi. Bagaimana bisa aku melawannya kalau sudah seperti itu?
"Okeh, kalau itu yang kamu mau. Oh Iyah ini kue dari ibu kamu, dimakan yah. Bapak sama ibu gak mau kalau sampai kamu kelaperan." Bapak berdiri, melambaikan tangan kecil lalu beranjak pergi dari kantorku.
"Pak! " Aku berlari mengejar bapak yang hampir keluar dari ruanganku.
"Bapak setuju kan, kalau Harum sama panji. " Entah darimana kekuatan itu datang. Aku biasanya takut jika membicarakan soal jodoh dan calon suamiku dengan bapak. Apalagi panji jauh dari Kriteria yang bapak inginkan.
__ADS_1
"Harum tahu, kenapa bapak selalu bilang kalo kamu itu harus cari calon suami seorang ahli agama atau pengusaha?" Aku menggelang
"Kalau dia seorang ahli agama, Bapak yakin dia pasti bisa menuntun Harum ke jalan yang lebih baik. Yang lebih di ridhoi oleh Allah SWT. Sedang kalau dia pengusaha, Bapak yakin Dia pasti nggak akan pernah biarin Harum kelaperan. Masa depan kamu pasti akan terjamin. Semuanya ingin bapak lakukan semata mata hanya untuk melihat Harum bahagia. "