
"Reva, tidak bisakah kamu resign saja dari pekerjaan kamu itu? Aku lihat akhir-akhir ini kamu malah sering lembur sampai nggak ada waktu buat Dara. Dara itu masih kecil Va, dia butuh sosok ibunya selalu ada di rumah."
Reva yang tadinya sudah siap-siap untuk tidur tiba-tiba terbangun dan duduk di atas kasur. Sejurus wanita tersebut menatap sang suami yang sedang duduk di kursi dengan tatapan yang sangat serius.
"Apa Mas Devan bilang? Resign? Mas nyuruh aku untuk resign? Mas Devan yakin?" tanya Reva terheran-heran saat mendengar keinginan Devan. Sungguh tak habis pikir Reva dengan ucapan sang suami malam ini. Terkesan mendadak dan terdengar tidak masuk akal.
"Bukankah jauh hari sebelum kita nikah, hal ini sudah kita bicarakan ya Mas? Bukankah dulu Mas nggak keberatan kalau aku kerja? Mas Devan malah dukung aku lho buat kerja. Kenapa sekarang jadi beda cerita ya?"
"Ya itu karena kamu masih sok sibuk dengan dunia kamu sendiri, Reva. Selamanya kamu nggak akan bisa jadi ibu yang baik buat Dara, kalau kamu masih sering meninggalkan Dara seperti ini. Asal kamu tahu, Dara itu butuh kasih sayang dari ibunya bukan dari ayahnya saja."
Seketika kedua mata Reva langsung membulat sempurna saat mendengar penuturan Devan malam ini.
"Mas, aku itu nggak meninggalkan Dara. Aku keluar rumah itu untuk kerja bukan buat having fun aja. Lagipula aku kerja juga selama ini buat memenuhi semua keperluannya Dara. Kalau aku nggak kerja terus gimana nanti kebutuhannya Dara kalau udah habis? Semua kebutuhan Dara itu nggak murah lho, Mas!"
Reva yang sudah lelah bekerja seharian sebenarnya ingin segera beristirahat. Namun keinginan tersebut nampaknya harus dia tunda terlebih dahulu mengingat sang suami tercinta sedang mengajaknya membicarakan hal yang bagi dia tidak perlu dibahas berulang kali.
"Aku tahu kebutuhan Dara itu nggak murah. Itu masalah gampang, bisa kita bicarakan nanti. Setelah kamu resign kan nanti kamu juga masih bisa kerja. Kamu bisa buka usaha catering atau usaha apapun itu yang bisa dikerjakan di rumah. Kamu kan bisa masak, bisa make up dan bisa keahlian lainnya."
Fuhh
Reva menghela nafas panjang sembari menatap lekat sang suami. Sebenarnya bukan kalimat itu yang ingin Reva dengar dari mulut Devan, melainkan kalimat lain. Beberapa kalimat manis yang bisa menyejukkan hati Reva.
"Sebenarnya ada masalah apa sih Mas sampai Mas Devan tiba-tiba minta aku buat resign mendadak seperti ini? Padahal bukannya kamu kan yang dulu ngotot ingin aku kerja dengan alasan sayang ijazah S1 ku kalau nggak dipakai. Aku udah kerja Mas, menuruti kamu lho ini. Kenapa sekarang malah berubah pikiran?"
Reva tahu betul karakter suaminya itu. Tidak mungkin Devan sanggup memutuskan sesuatu hal yang cukup penting dan sulit, kalau tidak ada orang yang berhasil mempengaruhinya.
Tiba-tiba saja Reva tahu siapa dalangnya.
__ADS_1
"Ibu."
Iya, tiba-tiba saja di pikiran Reva terlintas sosok wanita yang telah melahirkan suaminya. Wanita yang selalu membela anaknya sekalipun sang anak jelas nyata bersalah.
"Apa ini semua ada kaitannya sama Ibu ya, Mas?" tanya Reva sembari menatap Devan penuh arti. Tanpa berkedip barang satu detik pun.
Devan yang ditatap seperti itupun mendadak jadi salah tingkah.
"Jawab Mas, kenapa diam saja? Apakah ini semua gara-gara Ibu? Iya kah?" tanya Reva sekali.
"Gara-gara Ibu gimana sih kamu ini? Seharusnya kamu itu berterima kasih sama Ibu, karena dia selalu memikirkan kesehatan mental anak kita. Ibu itu sayang sama Dara. Ibu tidak ingin cucu kesayangannya kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya."
Benar saja, dugaan Reva tepat sasaran. Reva sudah menduga jika perlakuan aneh sang suami adalah berasal dari sang ibu mertua.
"Aku sungguh nggak habis pikir deh, Mas. Kenapa sih ibu kamu selalu mencampuri urusan rumah tangga kita? Sampai kapan sih Ibu begini terus sama kita? Aku-"
"CUKUP REVA!" bentak Devan tiba-tiba. Kedua bola mata pria tampan itu melotot tajam. Ada kilatan-kilatan amarah yang tergambar jelas di sana.
Lagi, Devan lebih membela sang ibu daripada memahami perasaan istrinya sendiri.
"Mas aku ha-"
Tok tok tok
Belum juga Reva menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba pintu kamar terdengar diketuk oleh seseorang dan tak lama kemudian pintu itupun dibuka.
Devan dan Reva hanya bisa diam seribu bahasa saat mengetahui siapa yang sedang masuk ke kamar mereka.
__ADS_1
"I-Ibu, Ibu ngapain masuk ke sini?" tanya Devan setelah beberapa saat terdiam. "Sebaiknya sekarang Ibu kembali masuk ke kamar Ibu dan istirahat. Ini sudah malam lho, Bu."
"Hem, bagaimana Ibu bisa tidur dengan tenang kalau sedari tadi Ibu dengar kalian berantem terus. Kalian sadar nggak? Suara kalian itu bahkan sampai terdengar lho ke ruangan lain di rumah ini. Berisik!" protes Rosa seraya melirik tak suka ke arah Reva.
Reva yang peka pun langsung berkata, "Maaf Bu sudah mengganggu waktu istirahatnya. Ini semua hanya salah paham kok."
"Kalau mau berantem itu jangan malam hari seperti ini. Ganggu orang istirahat aja. Untung Dara udah tidur, coba kalau belum? Pasti dia bakal syok, takut bahkan trauma melihat orang tuanya ribut nggak jelas seperti sekarang ini. Belum lagi Devi yang pasti terganggu juga karena ulah kalian." Ucap Rosa tanpa mempedulikan kata maaf yang telah terlontar dari bibir Reva.
"Bu, maaf kita cu-"
"Devan, stop!" titah Rosa tiba-tiba menyuruh sang anak untuk diam. "Kamu nggak perlu menjelaskan apapun apalagi harus minta maaf segala sama Ibu. Ibu sudah dengar semua perkataan kalian tadi."
Rosa berjalan semakin mendekat ke arah Reva kemudian berhenti lalu melipat kedua tangannya. Tentu sembari menatap lurus ke arah menantunya itu.
"Jangan salahkan Ibu ya Reva kalau Ibu jadi ikut campur masalah kalian. Sebab, salah siapa pada ribut nggak kenal waktu, nggak tahu tempat. Sekalian Ibu mau mengatakan beberapa hal sama kamu ya, Va. Semoga tidak menjadikan kamu jadi berkecil hati nantinya."
Setelah mengatakan hal tersebut Rosa nampak tersenyum aneh.
"Jadi Ibu sudah mendengar semuanya tadi?" tanya Devan memastikan.
Rosa mengalihkan pandangannya ke arah Devan lalu mengangguk mantap kemudian berkata, "Iya benar sekali. Bahkan Ibu juga dengar kamu membentak Reva dengan cukup keras. Walaupun tadi Ibu sempat terganggu dengan keributan ini. Tapi sejujurnya Ibu setuju dengan sikap yang sudah kamu ambil Devan. Istri kamu ini memang sekali-kali harus di kasih pelajaran biar dia mau nurut dan tidak jadi istri yang membangkang sama suami. Itu adalah tugas kamu sebagai suami. Harus bisa mendidik dan mengarahkan istri kamu ke jalan yang benar."
"Bu, ini semua nggak seperti yang Ibu bayangkan kok. Semua yang terjadi malam hanya salah paham saja. Lagipula apa salahnya kalau aku membela diri, Bu? Seharusnya sesama wanita Ibu mengerti dong perasaan aku. Bukannya malah bersikap begini!" tolak Reva mentah-mentah.
"Devan, sepertinya kamu kurang keras dalam mendidik istri kamu. Lihat saja sekarang, beraninya istri kamu memotong pembicaraan Ibu. Bukankah itu namanya nggak sopan ya?"
Aarggghhh!!!
__ADS_1
Kepala Reva mendadak terasa sangat pening karena melihat peringai suami dan sang ibu mertua yang benar-benar di luar nalar. Rasa kantuk yang awalnya menyerang kini mendadak hilang dan lenyap begitu saja.
"Ibu ini maksudnya apa sih? Kenapa malah tambah bikin kacau urusan rumah tangga anaknya?"