
Pagi ini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Seharusnya Reva sudah berangkat bekerja dari jam tujuh tadi. Namun niat tersebut terpaksa harus dia urungkan sebab tuntutan dari sang suami yang mengharuskan dirinya untuk tidak pergi alias harus tetap stay di rumah saja.
Reva masih diam menatap cermin besar di hadapannya sembari menghapus make up yang ada di wajah. Dia diam saja karena masih bingung, pikirannya kalut dan konsentrasinya buyar. Reva tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi masalah yang sedang terjadi. Semua yang sedang terjadi sekarang ini terkesan begitu mendadak dan bahkan itu semua di luar perhitungan Reva selama ini.
"Mau sampai kapan kamu di depan cermin begitu, Reva? Nggak ingat apa kalau kamu itu udah punya anak, hem?"
Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan Reva yang memang tengah melamun. Reva menatap ke arah pintu yang sudah terbuka, tempat dimana sumber suara tersebut berasal.
"Anak kamu nggak akan kenyang juga kalau melihat ibunya dandan seperti itu," ucap Rosa terdengar sinis.
Reva memandang ibunya dengan tatapan yang begitu sendu seraya berkata, "Aku nggak sedang dandan, Bu. Ibu kan bisa lihat sendiri kalau aku lagi menghapus make up."
"Menghapus make up aja sejam nggak kelar-kelar. Lama banget sih, udah tahu Ibu itu capek jagain Dara. Kamu malah duduk-duduk santai di sini sambil melakukan hal yang unfaedah kayak begitu. Saya itu suka heran ya kenapa saya bisa punya menantu seperti kamu."
Sejurus kedua mata Reva melebar tatkala sang ibu mertua menyebut Dara, anaknya. Reva baru menyadari kalau dari kemarin malam sampai pagi ini, wanita itu belum melihat anak semata wayangnya.
"Anak aku mana Bu? Dara dimana sekarang?"
"Cihh, ingat juga kamu akhirnya sama anak kamu. Kirain udah lupa sama anak. Dara lagi di kamarnya, lagi tidur. Kasihan anak sekecil harus menanggung lapar sampai ketiduran," balas Rosa sambil melipat kedua tangannya dan bersandar di pintu kamar. Tentu saja seraya menatap tak suka ke arah Reva.
__ADS_1
Reva mengernyitkan alisnya lalu berkata, "Maksud Ibu apa?"
"Maksud Ibu maksud Ibu apa, masa' iya kamu nggak paham juga sih sama maksud Ibu? Katanya lulusan sarjana, kok mikir begitu aja lemot banget. Kalah kamu sama Ibu yang sudah tua ini."
"Ibu please, jangan sangkut pautkan pendidikan aku dengan pembicaraan kita. Aku tanya Bu, Dara dimana? Dari semalam sampai hari ini aku belum sempat ketemu sama Dara. Dara pasti kangen sama aku, Mamanya."
"Cihh, apa? Kangen? Mana ada Dara kangen sama kamu! Yang ada Dara itu udah lupa sama kamu, lha wong kerjaannya tiap hari ditinggal kerja mulu." cibir Rosa dengan sinis. "Kalau bukan Ibu yang menyayangi Dara dengan sepenuh hati dan memberikan perhatian lebih, pasti Dara sudah benci sama kamu."
Secara reflek, Reva menggelengkan kepalanya. Wanita cantik itu sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rosa. Mana mungkin anak sekecil itu sudah bisa menaruh benci dengan orang tuanya sendiri apalagi ibunya.
Reva yakin seratus persen jika hal itu cuma akal-akalannya Rosa saja agar Reva terlihat buruk dan terkesan jelek.
"Masih pakai tanya lagi. Dengar ya, anak kamu itu pagi ini cuma minum susu itupun sedikit. Dia belum makan apapun pagi ini, padahal di hari biasanya jam segini dia sudah makan makanan MPASI."
"Jadi Dara belum makan apapun?"tanya Reva dengan polosnya. Rosa makin geram saja melihat tingkah Reva yang seakan tidak merasa berdosa sama sekali.
Rosa mendengus kesal lalu berkata, " Kamu ini ibu macam apa sih Va? Udah tahu anak belum makan, bukannya mikir malah bengong nggak jelas. Apa kamu mau anak kamu kelaparan seharian ini? Gerak cepat dong jadi Ibu itu!"
"Emm iya Bu maaf, baiklah kalau begitu aku mau izin keluar sebentar ya, aku mau beliin bubur tim buat Dara sekalian beliin cemilan juga. Ibu mau kan nungguin Dara sebentar aja?"
__ADS_1
"Nggak nggak, enak aja! Saya ini udah capek ya, pagi tadi udah mandiin anak kamu dan buatin dia susu. Nggak ada acara beli segala, lebih baik sekarang ini kamu pergi aja ke dapur sana dan buatin Dara makanan dan camilan. Masakan homemade itu lebih baik dan lebih sehat daripada makanan di luaran sana."
Reva tidak langsung membantah Rosa, tapi wanita itu juga tidak langsung mengiyakan dan menuruti perintah sang ibu mertua.
"Kenapa diam saja,hah? Apakah kamu pikir kalau kamu diam saja makanan sama camilannya Dara bakal matang dengan sendirinya? Memangnya kamu pesulap ya yang kalau sekali mengucap abrakadabra semua bakal ada sesuai keinginan? Hei, bangun Reva, kamu itu lagi nggak sedang dalam dunia mimpi!"
"I iya Bu, akan segera ke dapur sekarang juga untuk menyiapkan makanannya Dara. Tapi aku minta tolong ya Bu, tolong jagain Dara sebentar selama aku masak. Aku takut Dara nangis pas bangun tidur kalau nggak ada orang di dekatnya." ucap Reva sedikit memohon, walaupun wanita itu tahu jika kecil kemungkinan Rosa mau mengabulkan permintaannya.
"Nggak! Ibu sibuk, Ibu nggak ada waktu lagi buat jagain Dara. Orang yang lebih wajib jagain Dara itu kamu bukan Ibu. Jadi nggak usah nyuruh-nyuruh Ibu deh. Ibu mau me time di taman belakang rumah dan Ibu nggak mau ada gangguan apapun apalagi dengar tangisannya Dara. Kamu mengerti?"
Fuhhh
Reva nampak menghela nafas yang sangat panjang. Dia tahu jika pada akhirnya sang ibu mertua nggak akan mau membantu dia. Tapi dia jug butuh orang untuk bantu jaga Dara selagi dia memasak di dapur.
"Please Bu, aku mohon kali ini aja. Dengan siapa lagi aku memohon jika nggak sama Ibu. Di rumah ini cuma ada aku sama Ibu, jadi tolong lah kerjasamanya Bu, biar sama-sama enak jalaninnya. Apalagi Ibu kan tau gimana repot nya ngurus bayi, jadi aku harap Ibu mau ya bantu aku."
Reva tetap kekeuh, dia tetap berusaha merayu Rosa. Itu semua demi Dara, sang anak.
"Kamu itu nggak di rumah, nggak di luar rumah sukanya ngerepotin orang aja. Apa kamu pikir yang punya kesibukan itu kamu doang? Saya ini juga punya ya. Saya nggak mau tahu Reva, mulai per hari ini urus sendiri itu anak kamu, jangan lagi libatkan saya. Saya itu capek, saya juga udah tua, saya cuma pengen istirahat dengan nyaman dan tenang.
__ADS_1
"Makanya kalau nggak becus jadi ibu itu nggak usah sok sok an punya anak segala deh. Dulu kan saya udah pernah bilang, tunda aja dulu setahun apa dua tahun menikah baru punya anak, tapi kamu nya malah nggak dengerin saya. Jadi sekarang tanggung sendiri risikonya, saya nggak mau ikutan!"