PELAKOR Lima Langkah

PELAKOR Lima Langkah
Pertemuan


__ADS_3

Tidak terasa waktu telah menunjukkan hampir pukul setengah satu siang. Sesuai harapan dari sang ibu mertua, Reva sanggup menyelesaikan tantangan memasak untuk suami tepat pada waktunya.


"Reva, mana makanan buat Devan?" tanya Rosa pada sang menantu yang kini tengah menggendong cucunya di ruang tengah.


"Makanannya aku taruh di atas meja makan, Bu. Sudah aku tata dan aku masukkan juga di dalam kotak makanan." jawab Reva sekenanya.


Tanpa bertanya untuk yang kedua kali, Rosa segera berjalan menuju ruang makan untuk melihat hasil pekerjaan Reva hari ini.


Benar saja, makanan untuk Devan memang sudah siap bahkan Reva juga telah menyiapkan sebotol minuman untuk pria tampan tersebut.


Rosa pun mengambil tas yang ada di laci dapur kemudian memasukkan makanan dan minuman tersebut ke dalam tas biar mudah untuk dibawa.


"Reva, Ibu mau jalan dulu ke toko mau antar makanan ini buat Devan. Kamu jaga rumah baik-baik. Jangan biarin ada orang lain atau terutama orang yang nggak dikenal untuk masuk ke rumah ini. Kamu paham, kan?"


"Eemm Bu, apa nggak sebaiknya aku saja ya yang pergi antar makanan itu untuk Mas Devan?" tanya Reva berniat menawarkan diri.


Sejenak Rosa menatap tak suka ke arah Reva lalu berkata, "Maksud kamu apa Reva? Maksudnya kamu ingin Ibu repot menjaga Dara di rumah sementara kamu keluar rumah antar makanan ini begitu? Nggak ada ya!"


"Nggak begitu Bu, cuaca hari ini kan lagi sangat panas. Lebih baik Ibu berdiam diri saja di rumah, biar aku aja yang pergi ya."


"Nggak, biar Ibu aja yang pergi. Sebenarnya yang harus ada di rumah terus itu kamu bukannya Ibu, jadi nggak usah sok melarang Ibu seperti itu deh. Urus aja itu anak kamu."


"Tapi Bu .... "


"Tapi apalagi, hah? Banyak alasan kamu ya, dibilangin biar Ibu aja yang pergi kok masih ngeyel. Oh tunggu sebentar, iya iya ibu tahu, ibu jadi curiga pasti selain mau mengantar makanan ini ke Devan kamu sudah punya rencana lain bukan? Pasti sepulangnya kamu dari toko kamu bakalan pergi jalan-jalan dulu di luar sana, nyenengin diri kamu, ninggalin Ibu sendirian di rumah jaga Dara. Iya, kan? Ngaku kamu!" jelas Rosa semakin ngelantur kemana-mana.

__ADS_1


Raut muka Reva nampak bingung, dia tidak mengerti mengapa Rosa sampai bisa berpikir sejauh itu tentang dirinya. Padahal apa yang dikatakan oleh Rosa jauh dengan apa yang hendak Reva lakukan.


"Kok Ibu bicaranya seperti itu sih?"


"Iya lah, wanita seperti kamu ini mana mungkin sih betah lama-lama berada di rumah. Pasti kamu sudah jenuh kan di rumah? Pasti kamu ingin jalan-jalan buat me time, kan? Udah deh ngaku aja! Ibu itu udah tua, jadi Ibu sudah paham sama wanita yang modelnya kayak kamu begini." lanjut Rosa memandang sinis ke arah Reva.


Fuhh


Reva menghela nafas cukup panjang. Memang butuh ekstra kesabaran dalam menghadapi orang tua seperti Rosa ini. Didiamkan makin nggak tahu diri,tapi jika dibalas dia malah akan semakin mengganas.


"Nggak Bu, Ibu salah. Aku pengen antar makanan itu karena ada beberapa hal penting yang ingin aku sampaikan sama Mas Devan." terang Reva dengan nada super halus, berharap sang mertua mau mengerti dan memahami.


Sejurus Rosa mengernyitkan alisnya lalu berkata, "Hal penting apaan sih yang ingin kamu bahas sama Devan? Sok penting banget, apa nggak bisa ya dibicarain di rumah aja? Lagipula suami kamu itu di luar lagi kerja bukannya main-main, kalau kamu ajak Devan ngobrol nggak jelas bagaimana anak saya bisa fokus kerjanya? Nurut sama Ibu, kamu itu baiknya di rumah aja. Biar Ibu yang antar makanan ini, titik nggak pakai koma!"


Kalau Rosa berbicara seperti itu siapapun sudah tidak bisa lagi memaksa tidak terkecuali Reva. Reva bahkan tidak bisa lagi berbuat banyak saat melihat sang ibu mertua melangkahkan kakinya keluar rumah.


*****


Rosa setidaknya butuh waktu setengah jam dari rumahnya untuk menuju ke toko sang anak. Untuk sampai ke sana Rosa menggunakan kendaraan yang dia pesan lewat aplikasi.


Benar saja, tepat setengah jam di perjalanan kini Rosa akhirnya sampai juga di tempat tujuan yaitu sebuah toko yang berada tempat di pinggir jalan.


Toko yang kini dikelola oleh Devan merupakan toko yang menjual berbagai jenis merk ponsel dengan harga yang bervariasi, tidak hanya menjual ponsel. Devan juga menjual aksesoris ponsel, kuota, pulsa dan semua hal yang berbau ponsel. Selain itu Devan juga menerima service ponsel.


Selama ini toko Devan selalu ramai sehingga dia bisa meraup untung yang besar setiap bulannya. Namun kejayaan Devan tak lepas juga dari peran dari kedua orang tuanya terutama peran sang mendiang ayah Devan yang telah mempercayakan toko tersebut pada Devan tak lama sebelum beliau berpulang.

__ADS_1


"Ibu, Ibu kok kesini ada apa?"


Devan nampak dibuat heran dengan kehadiran Rosa siang ini. Pasalnya wanita tersebut jarang sekali datang ke toko.


"Selamat siang anak Ibu yang paling ganteng dan baik hatinya. Ibu sengaja datang kemari karena Ibu mau antar makanan ini untuk kamu," jawab Rosa sembari menyerahkan tas yang dia bawa.


Sedetik Rosa melirik seorang wanita cantik yang kini sedang duduk tepat di sampingnya. Wanita cantik itu juga menatap Rosa sambil tersenyum manis sekali.


"Sepertinya kamu sedang repot ya, Van. Maaf ya Ibu nggak tahu kalau kamu lagi sibuk, ya sudah kalau begitu Ibu langsung pulang ya. Jangan lupa makanannya dimakan, Ibu sendiri lho yang buat khusus untu kamu." tutur Rosa sambil tersenyum sopan pada wanita yang saat ini masih duduk di sampingnya, lalu diapun membalikkan badannya dan segera melangkah pergi.


"Ehh tunggu, Bu." Devan mencoba mencegah Rosa untuk pulang dari tempat tersebut.


"Tante sudah lupa ya sama aku?" tanya sebuah suara yang pada akhirnya berhasil membuat Rosa berhenti melangkah. Wanita paruh baya itu pun membalikkan badannya ke arah wanita tadi sembari mengernyitkan keningnya.


"Tante lupa ya sama aku?" ulang wanita itu yang lagi-lagi tersenyum ke arah Rosa.


Rosa nampak masih bingung, diapun berjalan mendekati wanita cantik tersebut.


"Memangnya kamu siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Rosa makin penasaran.


Wanita cantik itu menatap Devan kemudian kembali menatap Rosa sembari tersenyum.


"Ternyata Tante sudah beneran lupa ya sama aku? Aku pikir Tante masih ingat sama aku. Tapi wajar sih kalau Tante sudah lupa sama aku, soalnya kan kita udah lama banget ya nggak ketemu." tutur wanita cantik itu terdengar begitu lembut dan sopan.


"Devan, si siapa wanita ini?" ucap Rosa yang kali ini menuntut jawaban dari Devan karena sedari tadi Rosa belum juga mendapatkan jawaban dari wanita yang ada di sampingnya.

__ADS_1


"Masa' iya ibu nggak ingat sama dia? Coba deh Bu ingat-ingat lagi," pinta Deva seraya tersenyum penuh arti.


__ADS_2