
Akibat pertengkaran semalam di antara Devan Reva dan Rosa, membuat suasana sarapan pagi ini terasa sedikit aneh dan nampak terlihat canggung. Masing-masing anggota keluarga lebih memilih untuk diam tanpa bersuara saat menikmati makanan mereka. Tentu saja tanpa menghiraukan satu sama lain meskipun jarak kursi di antara mereka berdekatan.
Di tengah ketidaknyamanan suasana tersebut, tanpa diduga dan secara tiba-tiba Rosa malah terlihat meletakkan alat makannya dengan cukup keras ke atas piring lalu mengambil segelas air yang tidak jauh dari jangkauan tangannya. Air tersebut diteguknya hingga menyisakan sedikit saja di gelas.
Tentu saja sikap Rosa yang tidak biasa itu berhasil memecah keheningan suasana pagi dan juga berhasil menarik perhatian tiga pasang mata yang memang sedang berada di satu meja yang sama.
"Ada apa Bu? Kenapa nggak dihabisin makanannya?" tanya Devan dengan lembut pada ibunya sesaat setelah pria tampan tersebut melirik piring milik sang Ibu yang masih terdapat cukup makanan. Bahkan ada lauk yang belum tersentuh juga.
"Ibu males sarapan, hari ini makanannya nggak enak sama sekali. Udah ayamnya keasinan, gosong lagi," jawab Rosa sembari melirik sinis ke arah Reva.
"Masa' sih Bu ayamnya asin? Punyaku kok ayamnya enak ya?" celetuk Devi dengan polosnya. Gadis cantik itu agaknya belum mengetahui mengenai peristiwa semalam.
Sejurus Rosa langsung beralih menatap tajam ke arah Devi sambil berkata, "Kamu itu tahu apa sih soal makanan? Makanan hambar aja kamu juga pasti bilang enak!"
Dengan cepat Devi menggelengkan kepalanya. "Enggak kok Bu, memang ayam buatan Mbak Reva ini enak. Kalau Ibu nggak percaya coba aja deh punya aku."
Alih-alih takut dengan tatapan maut sang Ibu, Devi malah seakan menantang ibunya. Tanpa rasa berdosa sama sekali dan tanpa rasa segan Devi menyodorkan ayam miliknya pada Rosa, berharap wanita tersebut mau menyicipi makanan itu kemudian berubah pikiran dan menarik ucapannya.
Namun apa yang menjadi harapan Devi tidaklah jadi kenyataan, sebab nyatanya Rosa tetap pada pendirian.
"Kalau Ibu bilang nggak enak ya nggak enak! Kamu itu tahu apa sih soal masak memasak, hah? Ibu itu lebih tahu dan lebih berpengalaman dari kamu ya, Dev. Jadi jangan membantah kalau orang tua lagi ngomong!"
"Iya deh iya." jawab Devi sembari menunduk pasrah.
Fuhhh
__ADS_1
Devi pun mengembalikan ayam tersebut ke atas piringnya lagi, tentu saja dengan perasaan yang tidak enak.
Gadis cantik tersebut benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa ibunya berkesimpulan jika ayam yang dia makan itu tidak enak, padahal Devi malah merasakan yang sebaliknya.
Devi merasa ayam itu sangatlah lezat dan gurih. Bahkan kalau boleh jujur, rasa ayam tersebut lebih lezat ketimbang ayam yang di masak oleh Rosa di setiap harinya.
"Iya udah, Ibu maunya makan apa pagi ini? Biar aku buatkan." tutur Reva yang akhirnya buka suara.
Sebenarnya masih berat rasanya untuk Reva berbaik hati pada mertuanya itu, tapi apa boleh buat, di rumah tersebut yang bisa melakukan semua pekerjaan rumah hanya dia dan mertuanya. Apalagi soal urusan memasak sang adik ipar sudah jelas tidak akan bisa diandalkan.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Reva, Rosa malah terlihat diam saja dan cuek bebek. Sungguh, hati Reva rasanya sangat kesal namun sebisa mungkin dia harus tahan. Reva tidak ingin merusak suasana makan bersama keluarga suaminya. Selain itu, Reva juga ingin menjaga moodnya agar tetap bagus sepanjang hari.
"Bu, Reva sedang bertanya. Ibu jawab dong," pinta Devan kali ini. "Ibu mau sarapan dengan apa, biar Reva siapkan."
"Devan, Ibu ini ada hak untuk tidak menjawab pertanyaan dari siapapun ya. Tapi baiklah Ibu akan jawab kali ini. Dengar ya, mulai hari ini Ibu tidak butuh lagi makanan yang di masak oleh istrimu. Sekarang ya Devan, lebih baik kamu belikan saja Ibu bubur ayam yang penjualnya suka mangkal di ujung gang sana. Sepertinya bubur ayam jauh lebih enak dan lezat daripada makanan yang ada di atas meja ini."
Jantung menantu mana yang nggak akan copot mendengar ucapan seekstrim itu dari mulut mertua.
Walaupun Reva masih dalam mode marah karena perselisihan kemarin malam, tidak membuat Reva lupa akan kewajibannya memasak makanan untuk anggota keluarga suami.
Bahkan Reva rela menyempatkan diri bangun pagi-pagi buta untuk sekedar menyiapkan semua makanan tersebut, padahal malamnya Reva selalu tidur larut karena sering telat pulang kerja.
Tapi apa yang Reva dapatkan setelah usaha yang dia lakukan?
Rosa bahkan memandang sebelah mata usaha Reva. Wanita paruh baya tersebut juga tega menghina serta membandingkan hasil masakan Reva di depan kedua anaknya.
__ADS_1
Sungguh, amarah Reva semakin memuncak. Tapi dia sadar ini masih pagi. Kata orang bijak tidak boleh emosi apalagi marah-marah di pagi hari karena bisa merusak mood seharian.
"Ibu kok ngomongnya begitu sih? Mbak Reva kan sudah susah payah masak makanan untuk sarapan pagi kita. Masa' iya Ibu mau beli makanan dari luar. Nggak kasihan apa sama Mbak Reva?" tegur Devi menatap tak suka ke arah Rosa.
Reva tersenyum tipis, hatinya cukup lega mendengar pembelaan tanpa di minta yang terlontar dari mulut sang adik ipar.
Selama ini Devi memang sudah menjadi garda terdepan bagi Reva jika ada anggota keluarganya yang hendak berbuat macam-macam pada Reva. Devi selalu memperlakukan Reva dengan amat baik layaknya saudara kandung sendiri.
Image ipar perempuan adalah maut sama sekali tidak ada dalam diri Devi. Entahlah, apa mungkin karena Devi masih SMA jadi dia belum paham dan mengerti dengan alur kehidupan sesudah rumah tangga. Atau mungkin apa pada dasarnya gadis itu memang punya watak yang baik? Bisa jadi.
"Devi yang sopan kalau bicara sama Ibu. Jangan seperti itu! Mas tidak suka!" seru Devan sedikit meninggikan suaranya. Seperti biasa Devan tidak akan tinggal diam saat ada orang yang berlaku tidak sopan terhadap Rosa.
Rosa menatap sinis ke arah Devan kemudian berkata, "Biarin aja Van, adik kamu itu memang sudah dicuci otaknya sama kakak iparnya. Makanya dia nggak bela ibu yang sudah susah payah melahirkannya. Lihat sekarang, dia malah lebih memilih untuk membela orang lain. Kalau orang waras nggak akan seperti kelakuannya!"
Seketika kedua mata Reva membulat sempurna mendengar ucapan sang mertua. Apa maksud ucapan Rosa itu? Reva benar-benar tidak tahu apa maksudnya. Reva bingung sekaligus juga kesal dengan drama sang mertua pagi ini.
Reva tidak habis pikir kenapa Rosa harus mengatakan hal tersebut di depan Devi yang pada dasarnya tidak tahu menahu tentang perkara yang sebenarnya terjadi.
"Kalau Ibu mau benci sama aku benci aja Bu, tapi nggak usah merendahkan aku seperti itu apalagi sampai menghasut orang lain untuk benci sama aku. Aku nggak suka ya Bu," ucap Reva. Bibirnya terlihat bergetar karena menahan amarah.
"Reva, jangan mulai lagi ya! Kamu nggak tahu apa, kita ini sedang makan bersama. Jangan di rusak dong momennya."
"Bukan aku Mas yang mulai tapi Ibu kamu!" seru Reva sampai membuat Devi melongo kaget.
Selama menjadi kakak ipar, Devi memang belum pernah melihat Reva berbicara dengan nada tinggi ataupun marah pada siapapun. Baru pagi ini dia melihat hal tersebut.
__ADS_1
"Kamu nggak usah drama ya, Va. Ibu itu cuma lagi bosen sama masakan kamu. Ibu cuma minta dibelikan bubur ayam yang ada di ujung gang sana. Seharusnya kamu sebagai menantu itu introspeksi diri bukannya malah ikutan marah ke Ibu. Aneh ya kamu, kok bisa-bisanya ngomong kasar sama orang tua. Mana tata krama kamu sebagai wanita berpendidikan!"