PELAKOR Lima Langkah

PELAKOR Lima Langkah
Tidak Boleh Pergi


__ADS_3

Reva menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi yang ada di depan meja rias. Hati dan pikiran wanita cantik itu benar-benar sangat kacau akibat drama yang ditimbulkan oleh sang ibu mertua pagi ini.


Sia-sia sudah usaha Reva untuk menjaga moodnya hari ini. Pada kenyataannya Reva sudah tidak mampu lagi meredam segala amarah yang ada. Apalagi amarah tersebut memang telah dipendamnya dalam kurun waktu yang cukup lama.


Jadi seolah seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja dan dimana saja.


Dari awal tinggal di rumah orang tua Devan, entah mengapa Reva memang sudah merasa tidak nyaman. Seolah ada sesuatu yang aneh dan janggal yang selalu dirasakan oleh Reva, padahal waktu awal itu sikap Rosa amat baik dan sangat manis kepadanya.


Namun ternyata sikap baik itu tidak berlangsung lama. Benar apa yang dirasakan oleh Reva tentang perasaan anehnya selama ini. Rosa, si ibu mertua itu hanya baik di awal saja kepada Reva, sisanya sampai hari ini sikap Rosa jadi berubah sekali. Rosa tidak pernah segan memperlakukan Reva dengan tidak baik atau bahkan buruk jika wanita cantik tersebut tidak mau tunduk dan patuh pada setiap perintah Rosa.


Iya benar, memang tidak ada namanya dua ratu di dalam satu istana, pasti ujungnya akan tidak baik. Namun Reva tidak bisa berbuat banyak, apalagi selama dua tahun menikah ini Devan belum pernah sedikitpun membicarakan tentang masalah pindah rumah pada Reva.


Selama ini Reva tahu dan mencoba mengerti. Mungkin berat bagi Devan untuk meninggalkan ibunya, mengingat sang ibu sudah lama menjanda. Devan mungkin tidak tega membiarkan sang ibu hanya hidup berdua dengan adiknya Devi di rumah yang tergolong cukup besar itu.


Reva juga paham mungkin Devan takut Rosa kesepian ketika Devi pergi sekolah atau pergi bersama temannya.


Setelah beberapa detik lamanya merenung, kini Reva memperbaiki sikap duduknya. Wanita cantik itu terlihat duduk tegak lalu menatap lurus ke arah cermin.


Sambil mengatur nafasnya secara perlahan Reva berkata, "Tenang, santai, kuasai. Kamu nggak boleh larut dalam amarah Reva. Ingat, hari ini kamu masih harus kerja, kamu harus jaga mood kamu. Semangat!"


Begitulah Reva, setiap kali ada masalah dia akan menatap cermin dengan serius sambil memberikan kata-kata penyemangat untuk dirinya sendiri. Paling tidak kegiatan semacam itu sedikit bisa membuatnya lebih tenang dan bisa membuatnya bersemangat lagi dalam menjalani hari.


Reva melirik jam dinding yang ada di kamarnya. Waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


"Sebaiknya aku segera dandan dan bersiap-siap untuk pergi bekerja. Aku harus semangat hari ini! Aku nggak boleh sedih hanya karena perkataan dari Ibunya Mas Devan. Aku harus kuat demi Dara, anakku." ucap Reva kemudian tersenyum tipis.


Setelah berkata demikian, dengan penuh semangat empat lima Reva mulai menghias wajahnya dengan berbagai macam jenis make up dari berbagai brand.

__ADS_1


Tidak butuh waktu yang lama bagi Reva melakukan kegiatan tersebut, karena Reva lebih suka make up yang simple namun elegan dan terlihat fresh.


Benar saja, kurang dari waktu sepuluh menit Reva sudah selesai berdandan, tinggal bibirnya saja yang belum dipoles.


Ketika Reva sedang bingung memilih lipstik yang mana yang hendak dia pakai, tiba-tiba saja Devan masuk ke kamar. Raut mukanya masam dan terlihat sangat tidak bersahabat sama sekali.


"Mau pergi kemana kamu pagi-pagi begini sudah dandan semenor itu?" tanya Devan menatap sinis istrinya. Padahal pada kenyataannya dandanan Reva pagi ini sangatlah tipis. Nggak ada yang namanya menor. "Kamu bahkan belum mandiin Dara dan kasih sarapan Dara pagi ini. Apa kamu lupa dengan tugas kamu sebagai seorang ibu di rumah ini, hem?"


Sejurus Reva menoleh heran ke arah sang suami lalu berkata, "Lho bukannya sudah ada Mbak Santi ya Mas yang urus Dara? Apa Mbak Santi belum datang? Tumben sekali, seharusnya jam segini dia udah datang lho. Bentar ya Mas, biar aku telepon dulu Mbak Santi."


Selama ini, Reva memang menyewa jasa seorang wanita bernama Santi untuk membantunya menjaga Dara selama dia bekerja. Santi sendiri sistem kerjanya nggak menginap, alias datang pukul setengah tujuh pagi dan pulang maksimal pukul setengah lima sore.


Kemarin Reva pulang kerja sangat larut malam. Biasanya pukul empat sore wanita itu sudah ada di rumah, tetapi karena ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari itu juga, jadi dia pulang pukul sepuluh malam lebih.


Sampai rumah pun Reva tidak sempat melihat Dara, karena kata Devan Dara sedang tidur di kamar Rosa jadi Reva enggan mengganggu.


"Maksudnya?" tanya Reva seraya mengerutkan dahinya.


Sungguh, Reva benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Devan.


Devan menarik nafas panjang kemudian berkata, "Mbak Santi sudah disuruh berhenti kerja sama Ibu kemarin sore."


"APA!" pekik Reva sambil beranjak dari kursinya. Kedua mata indahnya membulat sempurna. Wajahnya mulai kembali merah padam. Jelas ada kilatan amarah di mata wanita cantik itu.


"Kenapa? Kamu nggak terima?" tanya Devan tak kalah nyaring suaranya. "Ibu melakukan hal itu juga atas persetujuan dariku. Aku pikir memang lebih baik nggak ada suster atau sejenisnya di rumah ini."


Reva geleng-geleng kepala seraya terus menatap Devan tanpa berkedip barang satu detik pun.

__ADS_1


"Maksudnya apa sih pakai acara nyuruh Mbak Santi untuk berhenti kerja segala? Dia itu yang bantu aku selama ini buat jagain Dara, Mas. Kalau Mbak Santi udah nggak ada di rumah ini terus siapa yang bakal jaga Dara nantinya? Ibu kamu? Nggak mungkin Ibu kamu mau, Mas. Jagain Dara lima menit aja diungkit terus sama Ibu apalagi sepanjang hari selama aku kerja."


"Iya kamu lah yang jaga Dara, siapa lagi? Masa' iya aku? Aku kan kepala keluarga, tugasku cuma kerja dan kerja. Masalah rumah dan anak itu ya jadi tanggung jawab kamu bukan aku ataupun Ibu."


Aargghhh!!


Rasanya Reva ingin sekali menampar sang suami. Tapi ah sudahlah, Reva tidak mungkin bertindak sejauh itu.


"Tapi Mas Devan kan tahu aku ini juga kerja, mana bisa aku jaga Dara Mas, yang benar saja!"


"Ini yang nggak aku suka dari kamu, Reva. Kamu lebih mementingkan pekerjaan di luar ketimbang anak dan suami kamu. Sebenarnya ibu macam apa sih kamu ini? Seharusnya setelah menikah yang kamu utamakan itu adalah kepentingan aku dan Dara, bukannya malah memikirkan kesenanganmu sendiri!"


"Hah?" Reva tidak sanggup lagi berkata-kata. Lidahnya terasa kaku dan ngilu. Sungguh, semua perkataan Devan hari ini berhasil menusuk relung hatinya. Reva sama sekali tidak pernah menyangka jika Devan bisa berkata seperti itu.


"Pokoknya aku nggak mau tahu, mulai hari ini kamu nggak boleh kerja di luar. Kalaupun kamu mau kerja harus di rumah, itupun dengan syarat kamu harus bisa handle rumah sama jaga Dara. Aku nggak mau lagi ya ada sus ataupun pembantu di rumah ini. Bikin kamu jadi makin males aja!"


DEG


Kedua mata Reva mulai berair. Namun sekuat tenaga Reva berusaha untuk tidak melepaskan cairan bening tersebut. Reva masih berusaha untuk kuat, meskipun hatinya telah hancur.


"Nggak Mas, aku nggak bisa. Aku harus kerja. Banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan di kantor. Lagipula aku pikir juga nanggung banget, ini udah mau waktunya gajian. Please Mas aku mohon, beri aku waktu setidaknya satu bulan. Iya Mas," kata Reva memelas. Nada suaranya begitu rendah berharap Devan mau sedikit berbelas kasih kepadanya.


Devan tidak segera mengiyakan permintaan istrinya. Pria tersebut nampak sedang berpikir keras. Namun entah apa yang tengah dia pikirkan, hanya Tuhan saja yang tahu.


"Untuk masalah itu aku belum bisa memutuskan, aku harus membicarakannya sama Ibu terlebih dahulu. Tapi aku minta khusus hari ini kamu cuti biar Dara ada yang jaga. Karena sebentar lagi aku juga mau pergi kerja. Aku juga nggak mungkin minta tolong sama Ibu, kasihan Ibu sudah tua."


"Tapi Mas, aku-"

__ADS_1


Devan langsung pergi meninggalkan Reva di kamar sebelum wanita itu menyelesaikan kalimatnya.


__ADS_2